Ketakutan

SELAIN takut mati, ketakutan eksistensial manusia terus berubah seiring zaman dan waktu. Hal-hal yang ditakutkan oleh generasi orang tua kita dan orang tuanya, berbeda dengan ketakutan yang kita alami saat ini. Begitu pula seterusnya.

Tidak saling nyambung, ketakutan-ketakutan tersebut hanya valid dan diterima oleh sesama generasinya saja. Sering terjadi, generasi yang lebih tua memandang konyol atas rasa takut yang dimiliki generasi lebih muda. “Sesuatu yang remeh dan tidak sepenting itu untuk ditakutkan,” kata mereka.

Pastinya tidak ada yang salah atau benar dalam hal ini. Penting atau tidak pentingnya sesuatu hanyalah masalah perspektif. Tak elok agaknya bila pandangan ala orang tua dipaksakan kepada yang lebih muda, apalagi sebaliknya. Mereka yang sudah tua memang menang pengalaman, telah merasakan dan mengalami lebih banyak hal dibanding anak-anak yang baru hidup 20 tahunan lalu. Sebab mereka kebetulan sudah hidup lebih lama. Sementara di sisi sebelahnya, generasi yang lebih muda telah menyusun sendiri daftar prioritas dan hal-hal yang mereka anggap penting.

Ada generasi yang takut dengan penjajah Belanda, banyak dari mereka sudah meninggal dunia. Generasi berikutnya takut dengan pemerintah, para penembak misterius (Petrus), takut dengan anggota PKI dan para ateis, serta kelompok penghilang nyawa manusia yang lain. Ada pula generasi yang takut sama Pocong, Sundel Bolong, Kuntilanak, Genderuwo, dan beraneka jenis setan khas Indonesia lainnya. Sedangkan generasi masa kini takut dengan spoilers, takut terlewat penayangan perdana film populer di bioskop, takut tidak bisa menghadiri konser, takut tidak bisa jalan-jalan keluar negeri, takut mengalami blank spot atau terputus hubungannya dengan akses internet, juga takut ditelikung teman.

Berbeda, bukan?

Photo by Jacob Walti on Unsplash

Ini yang tengah terjadi.

Takut menjadi tak relevan, atau ditinggalkan; dan takut akan ketidakpastian atau perubahan di masa depan. Tanpa banyak yang menyadarinya, kedua ketakutan ini merembet, membentuk percabangan rasa takut lainnya.

Takut miskin atau tidak punya uang. Karena tanpa uang dan kekayaan, tidak ada keleluasaan untuk membeli ini itu, membayar ini itu, sekaligus mempertontonkannya kepada orang lain. Ketakutan ini mendorong si pemiliknya berusaha melakukan apa saja agar tetap punya uang, atau malah supaya mendapatkan lebih banyak uang.

Takut kehilangan kenyamanan saat bepergian dengan moda transportasi umum. Jadi, setelah pintu KRL terbuka, langsung seruduk sana sini supaya dapat tempat duduk. Tak peduli lagi dengan tata krama dan etiket mendahulukan penumpang yang turun. Begitu juga di dalam bus Transjakarta, setelah dapat tempat duduk langsung pasang earphone dan tertidur (entah benaran atau tidak). Saat ada penumpang prioritas dan kondektur pun mulai bersuara, mau tidak mau penumpang lainnya yang mesti “diganggu” untuk menyerahkan atau beranjak dari tempat duduknya.

Makanya, begitu ada kesempatan, langsung membeli kendaraan. Lunas atau dengan cicilan. Roda dua, atau langsung roda empat. Bukan sekadar dijadikan alat transportasi, sekaligus dijadikan komponen kenyamanan hidup. Meski ujung-ujungnya, terpaksa harus mengomel dan merasa sebal karena terjebak kemacetan dan tidak benar-benar bisa lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi umum.

Takut ketinggalan dan bukan jadi yang pertama mendapatkan, mbelani berkemah di depan Apple Store sampai bermalam-malam. Berharap supaya begitu pintu toko dibuka pada hari peluncurannya, dia jadi orang pertama yang dipersilakan masuk dan tentu saja membeli unit pertama. Uang, tenaga, waktu, menjadi objek-objek penanda keleluasaan. “Aku lebih dulu daripada kamu. Aku yang pertama.

Takut kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki.

Sudah tepat dan pantaskah kita takut, pada hal-hal yang kita takuti selama ini?

Mana yang sebenarnya lebih menakutkan, kematian, atau kehidupan itu sendiri?

[]

Advertisements

5 thoughts on “Ketakutan

Leave a Reply