Fokus

Sampai sekarang, saya masih geli kalau mendengar ada kalimat-kalimat atau jawaban dari pertanyaan di situasi berikut:

Pertanyaan: “Apa motivasimu menjadi volunteer/anak magang/bekerja paruh waktu di festival film/perusahaan film/festival musik/festival fashion?

Jawaban pelamar: “Oh karena saya ingin banyak menonton film/mendengarkan musik/mencoba baju-baju baru.”

Kalau saya adalah pihak penanya, biasanya saya cuma tersenyum sambil mengangguk kecil. Lalu meneruskan satu atau dua pertanyaan basa-basi, atau malah tidak sama sekali, karena saya pasti mencoret pelamar dari daftar calon pekerja potensial.

Biasanya yang diterima adalah mereka yang memang menunjukkan keingintahuan yang besar, bagaimana proses sebuah perhelatan besar diadakan dari awal sampai akhir, bagaimana kerja kreatif di belakang layar, atau sesederhana mereka yang ingin punya pengalaman kerja. Gampangnya, mereka yang punya niat untuk bekerja dan belajar adalah mereka yang akan selalu diterima.

Memang terdengar aneh, seseorang yang bekerja di perfilman, jarang nonton film (orang lain). Seseorang yang bekerja di dunia musik, tidak tahu tembang nomer satu saat ini. Seseorang yang bekerja di dunia fesyen, tidak hadir di fashion week tertentu.
Ini karena para kreator dan mereka yang membantu kreator selalu fokus dalam menciptakan karya terbaru.

Fokus inilah yang acap kali membuat kita tidak bisa selalu menikmati karya kreatif lainnya.

Dalam perbincangan meja bundar (roundtable) akhir tahun dengan beberapa sutradara di India, saat ditanya film favorit di tahun 2017, sutradara Imtiaz Ali mengakui bahwa dia hampir tidak pernah ke bioskop selama setahun, karena mempersiapkan dan melakukan syuting serta paska produksi film Jab Harry Met Sejal yang dibintangi Shah Rukh Khan.
Demikian pula di Hollywood, saat musim penghargaan film lalu, kalau kita lihat banyak produser dan sutradara yang “kagok” saat ditanya pendapat tentang karya orang lain di satu meja tersebut.

Kebanyakan mereka belum melihat karya lain tersebut, karena mereka memfokuskan diri dalam proses pengerjaan karya mereka sendiri. Sementara dalam proses penciptaan tersebut, bisa dipastikan sebagian besar kreator sangat selektif dalam memilih apa yang mereka lihat dan dengar untuk membantu terwujudnya karya mereka.

Sebelum meraih nominasi Oscar untuk perannya dalam film Unfaithful, Diane Lane mengaku bahwa dia hanya menonton film-film pilihan sang sutradara, Adrian Lyne, untuk mendalami emosi peran yang dia mainkan, karena bagi Diane, peran ini tidak familiar untuknya.
Sementara itu, seorang penulis novel di Indonesia yang saya kenal suatu kali berkata, bahwa pernah selama setahun sebelum dia merilis novelnya, dia hanya membaca literatur klasik. Katanya karena dia ingin belajar cara bertutur tertentu, yang akan dia adaptasi di novel terbarunya.
Apakah Taylor Swift atau Lady Gaga mendengarkan lagu hits terbaru saat mereka dalam proses membuat album terbaru mereka? Kalau melihat dari dokumenter behind-the-scene mereka, I doubt so.

Diane Lane in “Unfaithful”

Kadang-kadang “fokus” ini perlu untuk masuk ke sebuah headspace yang menjadi tema besar sebuah karya yang kita buat. Atau apapun yang kita kerjakan.
Sebelum saya “melahirkan” dan menjalankan festival film pendek beberapa tahun lalu, terus terang saya belum terlalu familiar dengan percaturan film pendek Indonesia. Saya pun harus sowan ke beberapa komunitas film pendek di beberapa kota di Indonesia untuk mengenalkan (saat itu) rancangan acara yang saya buat, sekaligus dengan cepat harus menonton banyak karya film pendek Indonesia dalam waktu singkat. Akhirnya, yang dikorbankan adalah waktu untuk menonton film-film lain, mulai dari film serial di televisi, sampai film di bioskop.

Dan kejadian itu terulang lagi sekarang. Untuk mempersiapkan sebuah acara yang hanya dalam hitungan beberapa minggu ke depan, saya harus merelakan ketinggalan banyak sekali serial televisi dan film di bioskop. Waktu yang sangat terbatas harus saya gunakan semaksimal mungkin untuk fokus pada tema besar acara yang masih baru buat saya. Masuk ke headspace tema acara ini cukup menantang, sehingga mau tidak mau, banyak sekali zona nyaman yang harus saya tinggalkan untuk sementara waktu.

Pada akhirnya memang kita tidak bisa menikmati semua karya orang lain. One cannot simply watch everything, listen to everything, consume everything. Setiap saat kita dituntut untuk membuat pilihan, karena we don’t have all the time in the world.

Namun saat akhirnya kita bisa mengerjakan apa yang harus kita kerjakan, rasa puas itu tidak tergantikan.

Don’t be afraid missing out. Nggak usah khawatir ketinggalan, selama kita berkarya.

Advertisements

Leave a Reply