Sains Itu Bikin Kering?

TULISAN Linimasa hari ini boleh diawali dengan video, ya.

Mari…

Ada yang merinding tadi?

Banyak yang mengidentikkan fenomena merinding dengan hal-hal metafisik dan menyeramkan. Ada yang bilang merinding merupakan pertanda kehadiran sesuatu yang tak kasatmata, atau menunjukkan bahwa kita tengah berada di sebuah lokasi atau situasi supernatural. Termasuk tempat ibadah/keramat tertentu.

Jika memang begitu, lalu mengapa kita bisa merinding saat mendengar lagu “Perfect” tadi? Apakah kebetulan ada setan lewat, ataukah lagu tersebut memang haunted dan menyebarkan efeknya setiap kali diputar?

Berdasarkan penelitian, merinding sebenarnya merupakan fenomena fisiologis biasa sebagai salah satu bentuk respons tubuh terhadap lingkungan, dan terjadi dengan pemicu hormonal. Dari sebuah riset terkait, disimpulkan sementara bahwa orang-orang yang merinding saat mendengar musik tertentu memiliki jaringan otak lebih padat, khususnya yang menghubungkan area pengindraan audio/suara dengan bagian pemroses perasaan dan emosi. Proses yang terjadi di antara kedua bagian itu bisa berlangsung lebih efisien. Tidak ketinggalan, lantaran area pemroses perasaan dan emosi memiliki jaringan yang lebih padat, seseorang tersebut juga memiliki kepekaan perasaan yang lebih intens, bukan ketika mendengar musik tertentu saja.

Di sisi lain, fenomena merinding terjadi sebagai aba-aba alamiah, peringatan bagi tubuh untuk melawan atau melarikan diri karena berada dalam keadaan yang dinilai membahayakan. Kita merinding saat merasa kedinginan, atau ketika bagian tengkuk ditiup angin secara tiba-tiba, maupun momen-momen emosional lainnya. Pori-pori mendadak menyempit, membuat rambut-rambut halus berdiri menegang.

Pemicunya adalah hormon adrenalin yang bertugas mengirim “pesan” ke seluruh tubuh, memberitahukan keadaan tersebut. Selanjutnya, si pemilik tubuh pun terjaga dan menjadi siaga, mencoba mencari tahu apa yang berpotensi menjadi pengganggu.

Setelah memahaminya secara ilmiah, fenomena merinding tak lagi terkesan fantastis dan imajinatif bagi sebagian orang. Dari sesuatu yang penuh spekulasi dan mampu bikin mikir macem-macem, berubah menjadi hal yang biasa-biasa saja dan kering. Nothing to be wondered of.

Apakah begitu pula dengan fenomena jatuh cinta?

Secara spesifik, Mas Gandrasta sudah membahas tentang ini sekitar dua tahun lalu. “Anatomi” cinta dibedah, menghasilkan tiga fase yang sepenuhnya dikendalikan secara hormonal.

Cara untuk mengalami jatuh cinta pun menjadi jauh lebih sederhana: “Temui seseorang. Siapa aja, terserah. Saling curhat selama 30 menit. Lalu saling menatap dalam tanpa bicara selama 4 menit.

Silakan dicoba. Hanya saja, belum tahu apakah bisa terjadi tanpa melihat fisik dan tampilan wajah di awalnya atau tidak.

Sekali lagi, setelah memahami cara kerja dan karakteristik dorongan emosi yang satu ini secara saintifik, apakah kemudian perasaan jatuh cinta menjadi tidak semendebarkan dan seimpulsif sebelumnya?

Saat menyadari adanya perasaan sayang dan cinta yang muncul, kita malah menganalisisnya. Menerka dan mencocokkan apa yang dirasakan, dengan fase-fase yang terjadi ketika seseorang sedang jatuh cinta. Apakah masih fase gairah, sudah masuk ke fase ketertarikan, atau malah keterikatan?

Mengutip pernyataan Ryu Hasan, seorang Neuroscientist.

Setuju dengan pernyataan di atas?

Dengan demikian pula, apakah syahwat atau nafsu seksual bisa disebut jauh lebih nyata ketimbang ilusi perasaan cinta? Lebih nyata dalam artian benar-benar ada. Sedangkan rasa cinta hanyalah simtom yang ujung-ujungnya mengarah ke syahwat juga.

Andaikan benar begini, berarti pas banget dengan topik friend with benefits (FWB) atau Teman Tapi Masuk Mesra (TTM) yang sedang dan selalu hangat selama ini.

Oya, untuk yang belum pernah mendengar istilah FWB, pada intinya berarti rekan bersetubuh, tetapi bukan pasangan yang terikat secara emosional. Karena itu pula, kayaknya, bila ada seorang single memiliki dua atau lebih partner FWB yang sama-sama single, akan tidak pas bila disebut berselingkuh. Pasalnya, cuma teman … sampai ewe … tetapi hanya teman. Fuckbuddy lah, sebut saja begitu. 😅

Nah, kembali ke poin bahwa cinta hanyalah permainan biokimia semesta, jadi pada dasarnya FWB adalah sesuatu yang realistis dan semestinya jauh dari drama emosional. Sebab tidak melibatkan ikatan, komitmen personal, hubungan dua kelompok keluarga, sampai perubahan status hukum. Ya … cuma urusan persetubuhan saja. Tanpa transaksi, karena itu berarti prostitusi.

Tanpa sadar, kita semua pun telah menjadi para sexual reductionist.

Bedanya, ada yang melihatnya sebatas urusan syahwat, merely about sexual fulfillment, sementara yang satu lagi melihatnya juga sebagai pemenuhan kebutuhan emosional. Termasuk di dalamnya perasaan superior dan unggul karena berhasil menjadi “junjungan seksual” beberapa orang; karena merasa sedemikian dibutuhkan; karena merasa sebagai seseorang yang penting dalam kehidupan orang lain.

Telah menjadi semacam kesepakatan umum di antara sekelompok orang, bahwa relasi FWB atau TTM yang ideal tidak pakai baper, alias tanpa melibatkan perasaan dalam level yang lebih dalam. Masalahnya, bagaimana bisa orang-orang yang sedang FWB-an tidak menggunakan perasaan? Lah, kenyamanan sentuhan dan pelukan, serta kenikmatan seksual kan dihasilkan dalam bentuk perasaan paling mendasar. Memunculkan rasa “enak” dan “kurang enak”. Jadi agak mustahil untuk benar-benar tidak baper dalam arti harfiahnya.

Terus, kenapa mesti tidak baper? Toh, rasa cinta kan permainan hormon semata.

Hahahaha!

Ada yang bisa bantu jawab?

Mana yang paling mungkin untuk terjadi? Muncul perasaan jatuh cinta setelah bersetubuh, atau jatuh cinta dulu baru kepingin bersetubuh?

Apakah gara-gara muncul rasa nyaman? Rasa nyaman yang bagaimana? Rasa nyaman di hati, atau rasa nyaman di kenti/meki?

Btw, tahu kan kalau manusia, terutama pria sebagai pembuah, sebenarnya adalah makhluk yang tidak monogami. Walaupun ada penemuan baru-baru ini yang menyatakan bahwa kecenderungan seseorang untuk setia dengan satu pasangan (monogami) dan tidak itu sudah tercetak di DNA-nya.

[]

Advertisements

One thought on “Sains Itu Bikin Kering?

Leave a Reply