“Karena Internet Butuh Lebih Banyak Hati”

PERNAH membaca sebuah artikel psikologi beberapa waktu lalu, sayangnya lupa judul dan alamat situsnya. Dalam artikel itu, pada intinya disampaikan bahwa kadar simpati dan kemampuan seseorang untuk berempati tidak akan berubah dalam sekejap. Ada yang lunak, ada pula yang keras.

Ketika ada sesuatu yang bisa membuat banyak orang bersedih bahkan sampai menangis kencang meskipun tidak berhubungan langsung, akan tetap ada orang yang berhati dingin. Mereka cenderung biasa-biasa saja, tidak mengharu biru seperti yang lain. Bukan lantaran mereka adalah orang-orang jahat atau kurang manusiawi, melainkan karena mereka sudah terkondisi begitu. Perbedaan lingkungan, tabiat, dan pembawaan menyebabkan perbedaan tanggapan.

Kondisinya bakal selalu sama, apa pun medianya. Termasuk di sini, tempatnya mencurahkan terenyuh digital dan rasa iba virtual.

Hampir setiap hari, beredar foto, video, aneka bentuk media lain, dan narasi pendukungnya di mana-mana. Yang berbeda adalah outcome-nya, tindak lanjut dan hasil akhirnya. Apakah mampu menyebabkan gelombang rasa simpati dan kemudian berkembang menjadi aksi, ataukah sekadar jadi pengisi linimasa sementara, sebelum akhirnya digantikan dengan kehebohan lain dari isu dan konteks berbeda.

Keberhasilan “O2O” istilahnya. Yakni keberhasilan online-to-offline, membawa dan memindahkan sesuatu dari ranah daring ke luring.

Sudah banyak contohnya.

Dulu, ada kakek-kakek penjual nasi uduk di Jakarta Timur, difoto saat tertidur di warungnya yang sepi. Begitu diunggah ke media sosial, dilengkapi seperangkat caption yang ujung-ujungnya mengajak para pembaca untuk singgah dan membeli, warung si kakek mendadak ramai. Di unggahan berikutnya, terlihat foto pembeli yang mengantre.

Kalimat kuncinya adalah: Kakek tua kasihan. Jualan tidak laku. Ayo beli, dan bantu beliau.

Objeknya tidak harus manusia kok. Beberapa hari lalu, tab Mention saya juga lumayan heboh dengan kucing yang kakinya patah dan mengalami luka cukup parah akibat tabrakan. Itu pun posting-an lingkar kedua, karena sebelumnya lebih dahulu diunggah ke Instagram oleh individu yang berbeda.

Setelah di-RT dan disebarluaskan para warganet berpengaruh (banyak follower-nya), donasi yang terkumpul lumayan juga. Mencapai jutaan, dan setidaknya cukup untuk menalangi biaya perawatan yang diestimasi sebelumnya.

Semua kabar terkait dan perkembangan kondisi si kucing malang terus disampaikan. Menunjukkan bahwa ternyata ada warga semesta digital yang benar-benar tersentuh, dan terlibat dalam aksi donasi. Itulah outcome-nya. Kendati akhirnya si kucing mati juga akibat cedera yang terlampau parah.

Menariknya, tak seberapa lama, ada lagi yang me-mention di Twitter. Sama-sama bercerita mengenai kucing yang memerlukan bantuan. Hanya saja, sepi respons. Entah, apakah karena si pengunggah terlihat kurang meyakinkan dari isi twit, maupun foto kucing yang ditampilkan, ataukah ada alasan lain.

Pada praktiknya, dorongan dan kesediaan seseorang untuk bersedia/tidak bersedia memberikan bantuan adalah hak personal. Dalam kasus kucing-kucing malang di atas, para donatur tentu tidak haus pujian dari sesama manusia. Sebaliknya, tak ada celah bagi para non-donatur untuk dicemooh sebagai orang-orang pelit yang tidak berperasaan.

Akan berbeda ceritanya jika objek kemalangan dan sasaran donasi adalah manusia. Mereka yang menolak membantu pasti disebut “pelit”, “tak berperasaan”, dan lain sebagainya. Bahkan pada titik paling ekstrem, bisa dihujani sumpah serapah. Misalnya: “Mudah-mudahan kamu enggak perlu bantuan orang lain kalau lagi kesusahan” atau “Enggak ada yang mau angkat kerandamu nanti waktu kamu mati.” Untuk kalimat kedua memang terdengar sangat mengerikan, tetapi percayalah, kalimat itu pernah saya dengar langsung. Beberapa kali.

Itu sebabnya tulisan hari ini diberi judul sama seperti tagline Linimasa: “Karena internet butuh lebih banyak hati.”

Bedanya, lagi-lagi ada pada outcome yang diharapkan.

Linimasa diharapkan hadir sebagai pemberi kesejukan hati di antara gersang dan cadasnya konten web yang beredar selama ini.

Sedangkan foto, video, aneka bentuk media lain, dan narasi pendukungnya berupaya mengajak keterlibatan para pirsawannya untuk berempati. Mengejawantahkan ekspresi kesedihan menjadi sesuatu yang lebih nyata. Tak jarang ada video yang bisa membuat saya (hampir) mbrebes mili, saking menyentuhnya.

Bukan panas, bukan pula dingin. Menyejukkan hati, atau bikin hati anget. Hanya dua itu saja.

… dan jujur saja, tujuan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dicapai. Sehingga, jangan terlampau terikat dan bergantung padanya ketika ingin mencapai sesuatu. Lakukan yang terbaik, dan teruslah berharap. Setelahnya, cobalah tetap bersikap realistis.

Sebagai perbandingan sekaligus penutup tulisan hari ini, berikut ada beberapa foto yang barangkali bisa memberikan efek serupa. Terenyuh digital dan rasa iba virtual. Semuanya merupakan kisah dari luar negeri (tanpa melihat fakta-fakta ceritanya maupun memberikan penilaian lebih jauh).

Sengaja.

[]

Advertisements

3 thoughts on ““Karena Internet Butuh Lebih Banyak Hati”

Leave a Reply