Sepahit Empedu

Apakah organ tubuh Anda masih lengkap dan orisinil? Kalau ya, good for you, dan saya mendoakan supaya selalu terjaga sehat. Tepat sembilan tahun yang lalu, saya kehilangan empedu. Bukan karena salah meletakkan.

Sejak usia dewasa memang masalah kesehatan yang sering timbul adalah sakit di pencernaan. Terlambat makan, kembung, lalu migrain.Makan terlalu banyak atau kurang langsung mencetus rasa nyeri di lambung. Beberapa tahun sebelum kehilangan empedu itu, bertambah parah rasa sakit yang dialami. Sampai saya beberapa kali menyambangi UGD hanya untuk dikirim kembali pulang dengan diagnosa maag, dibekali dengan obat obatan dan nasehat supaya mengurangi kopi dan alkohol (walaupun saya berkeras jarang sekali minum). Sampai dalam 2 bulan terakhir sebelum itu, saya mengunjungi UGD dua kali karena sakit yang tak tertahankan, dengan dokter jaga yang sama, dan keduanya tidak pernah ada rekomendasi untuk pemeriksaan lanjutan, hanya sama saja, diberi obat dan disuruh pulang.

Sampai suatu malam saya baru menghadiri acara yang hidangannya steak yang lezat dan sedikit red wine. Begitu perjalanan pulang kontan terasa perut yang tak nyaman. Malam itu saya tidak bisa tidur dan memuntahkan semua yang saya makan hari itu. Sambil menatap langit langit kamar saya menyangka mungkin saya sudah mendekati akhir usia saya (mulai drama). Ketika sakit itu, saya baru menyadari kalau rasa sakit yang terasa lebih di bagian kanan atas abdomen, bukan di letak lambung sebelah kiri. Kemudian Papa saya yang penasaran akhirnya bertanya ke kakaknya yang dokter (alm), dan menyuruh saya memeriksa, air seni apakah warnanya kecokelatan. Dan memang benar saja. Katanya itu tanda gangguan liver, bukan lambung. Langsung malam malam saya ke UGD dan berjanji bertemu Papa di sana yang menuntut dokter untuk memeriksa darah dan air seni. Ternyata indikasi ada infeksi liver. Lanjutannya saya di USG dan ditemukan empedu saya penuh dengan batu, dan (untungnya, masih bisa untung loh) liver saya hanya radang karena empedu yang letaknya sebelahan radang juga.

gallbladder-function

Dari situ dimulai masa menginap saya di rumah sakit selama 10 hari. Pemeriksaan, menunggu jadwal operasi (padahal sebelum itu seumur hidup saya belum pernah dioperasi), keadaan setengah sadar karena infus obat anti sakit yang dahsyat (saya kurang lebih jadi paham rasanya kalau nge-bo’at), sampai akhirnya empedu yang kesimpulannya tidak bisa diselamatkan diangkat utuh dengan operasi laparoskopi yang ciamik. Dua hari setelah operasi, saya boleh pulang. Apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya hampir satu dekade lalu ini?

  1. Dokter di Indonesia cenderung mendiagnosa sakit pencernaan jadi maag, karena itu jika sakit berkelanjutan, minta second opinion atau cari dokter/ rumah sakit yang mempraktikkan eliminasi dengan memeriksa sedetail-detailnya penyebab rasa sakit.

  2. Ternyata saya tidak suka ditunggui di rumah sakit, lebih suka sendiri karena saya bisa istirahat lebih baik tanpa ada beban harus entertaining the companion. Apalagi kalau teman yang enggak kenal-kenal amat menjenguk lalu menuduh bahwa penyakit saya karena saya sering mengonsumsi alkohol. Huh. Kenapa orang beranggapan saya suka minum ya? Mungkin personality saya saja yang seperti pemabuk. Tapi aslinya enggak.

  3. Sebab batu di empedu-kalau saya tanya Google, M.D.-masih belum konklusif. Tetapi kalau saya tilik dari fungsi empedu yang menghasilkan bile yang membantu mencerna lemak, mungkin karena pola makan kurang seimbang. Memang sebelum operasi itu saya sama sekali tidak suka makan yang berlemak dan diet cenderung carb and starch-heavy. Karena sirkulasi cairan di empedu yang kurang lancar, terjadilah endapan (mohon konfirmasi buat yang dokter di sini).

  4. Setelah operasi, pencernaan saya baik baik saja, apalagi setelah adaptasi makan sehat, tidak pernah ada keluhan lagi bahkan semacam masuk angin dan kembung (kecuali sedang makan ngacak).
  5. Apakah empedu memang pahit, tidak bisa saya konfirmasi karena-walau bebatuannya boleh dibawa pulang-saya tidak boleh menjilat empedunya.
Screen-shot-2014-03-13-at-5.25.40-PM
amit amit jabang bayik
Advertisements

One thought on “Sepahit Empedu

  1. Sepertinya pahitnya empedu dari pengalaman empedu ayam (buat tukang masak hati ayam biasanya wajib memastikan empedunya sudah dibuang karena kalau sampai pecah dan kena ke hati/daging ayam, rasanya pahit minta ampun bikin kapok)

Leave a Reply