Di Antara Cebong dan Snowflakes

fanatisme/fa·na·tis·me/ n keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya)

Menurut KBBI itu adalah arti dari fanatisme. Saya rasa hampir semua orang tahu arti kata dari fanatisme. Tapi banyak yang tidak sadar kalo mereka sudah termasuk ke dalam golongan tersebut. Agama, sejak dulu sudah menghasilkan fanatisme. Ribuan mungkin jutaan orang menjadi korban sia-sia. Di ideologi pun begitu. Kita tahu di era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet jutaan orang meregang nyawa di semua belahan dunia, termasuk Indonesia.

cebong

Antusiasme yang berlebihan ini tidak sehat untuk kejiwaan. Di Indonesia seperti sekarang ini yang akan melakukan pemilihan kepala daerah dan presiden juga tak luput dari fanatisme. Banyak faktor hal ini bisa terjadi. Di periode yang lalu, seperti kita tahu bahwa Prabowo kalah tipis oleh Jokowi di pemilihan presiden. Di negara demokrasi, hal ini tentu saja hal yang biasa. Tapi ketika media sosial mulai menjadi santapan sehari-hari maka muncul saling serang di antara kedua pendukung. Keduanya mempunyai penggemar yang fanatik. Pemuja. Karena di mata mereka idolanya tidak pernah salah. Tidak bisa dikritik. Di sinilah banyak istilah muncul di media sosial. Para pemuja Prabowo menyebut pemuja Jokowi sebagai “cebong”. Hal ini juga berlaku untuk pemuja Anies Baswedan dan pemuja Ahok. Saya kurang tahu dari mana asal kata ini muncul. Tapi mungkin dari anak katak yang selalu terlihat bersama. Kreatif juga. Saya menyimpulkan mereka itu mungkin seperti segerombolan anak katak yang bergerombol dan berenang menuju satu tujuan dan mereka saling membela kaumnya yang teraniaya. Cuma saya belum menemukan kata untuk para pemuja Prabowo. Banyak yang bilang kecoa atau bani-banian. Tapi sepertinya belum menemukan kesepakatan kata apa yang tepat untuk digunakan.

snowflake

Tapi ini tidak terjadi di Indonesia saja. Di Amrik sana pun terjadi hal yang sama. Mereka mempunyai istilah untuk pendukung Hillary Clinton. Kita tahu Donald Trump menang tipis. Bahkan Hillary Clinton menang secara popular votes. Hal ini banyak menimbulkan sakit hati dan mereka banyak menyerang apa saja yang berbau Trump atau Republikan, atau konservatif. Kemudian pemuja Trump menjuluki mereka sebagai “snowflakes”. Coba ketik kata cebong atau snowflakes di kolom pencarian Facebook atau Twitter untuk lebih mencerna apa yang saya maksud. Snowflake berasal dari kata generation of snowflake, suatu istilah yang pertama dicetuskan oleh Chuck Palahniuk di novelnya Fight Club. Orang yang menyangka dirinya unik padahal sebetulnya sama seperti yang lainnya. Begitu Urban Dictionary menjabarkannya.

1EXrHu38ssYjj11o-4ySqDg-1.png

Kata cebong dan snowflakes tentu saja dibuat untuk merendahkan. Tidak ada yang ingin dilabeli cebong atau snowflakes. Tapi julukan ini bukan tanpa dasar. Karena mereka membuat julukan ini karena mereka memang banyak dan juga militan. Polanya selalu sama sehingga relatif mudah untuk mengidentifikasinya. Buat sebagian orang mereka menjengkelkan dan menyebalkan.

alanis.gif

Tapi lucunya mereka yang membuat julukan pun sebetulnya melakukan hal yang sama. Sama-sama membela idolanya mati-matian. Masih mending kalo dibayar atau diberi jabatan. Yang menyedihkan kalo mereka melakukannya secara gratisan. Terlalu banyak energi yang terbuang percuma hanya untuk mengurusi yang tidak begitu penting. Sudahlah jadi penggemar yang biasa-biasa saja. Kalo salah ya dikritik. Kalo benar ya akui. Siapapun dia. Karena sebetulnya siapa pun yang menang di arena politik maka kita adalah selalu jadi pecundang.

Advertisements

4 thoughts on “Di Antara Cebong dan Snowflakes

  1. kalau ga salah nih, ya, kalau ga salah lho ini. Julukan cebong bermula dari kabar soal Pak Jokowi yang melihara kodok di rumah dinas di Solo, terus kodoknya diboyong pas pindah ke Jakarta. Lalu, lahirlah julukan cebong bagi penggemarnya Pak Jokowi. Setauku sih gitu.

Leave a Reply