Apa Ramah Itu?

Ketika Jakarta atau kota besar lainnya seperti Surabaya, Medan, Bandung, Semarang yang penduduknya bergegas diselipkan kata ramah apakah mungkin? Barang tentu.

Mungkinkah ketergesaan cocok dengan pelayanan yang ramah? Yes!

Ramah itu soal budaya. Ramah itu soal pola kebiasaan masyarakat yang hidup dalam satu suasana.

Ramah di toko kopi yang letaknya di gedung perkantoran, adalah pelayanan yang gesit. Ndak perlu bilang macam-macam. Cukup sapaan dan pertanyaan akan pesan apa. Jika pelayan yang “sok ramah” dia akan bertanya macam-macam termasuk bagaimana hasil skor bola semalam, asalnya dari mana. Padahal antrean di belakang sudah mengular. Kecuali di luar jam sibuk, obrolan ringan bisa disodorkan antara pelayan dan pembeli.

Jika ini diterapkan di kedai kopi tempat wisata yang sepi senyap, justru pelayan yang basa-basinya minimalis akan dianggap sombong dan jaim.

Ramah di pintu tol pun demikian. Keramahan adalah soal pelayanan lekas dan tangkas serta sapaan secukupnya. Kalau petugas tol bertanya dan memuji bahwasanya mobil kita bagus, beli dimana, pajak setahun berapa, itu bukan ramah yang tepat, justru menyebalkan. Dan sekali lagi: Bikin antrean mengular.

Vice versa.

Ketika kita sebagai phembeli di kedai kopi banyak bertanya pada barista padahal dia sedang sibuk, itu bukan ramah, karena ramah berarti juga paham situasi dan kondisi.

Atau di tempat kerja banyak senyum, banyak ngobrol, bahkan banyak nanya urusan karyawan lain, itu namanya bukan ramah. Itu kampungan.

Ramah, oleh kita, sering diartikan sebagai senyuman, anggukan, salaman, tegur sapa, salim, jalan bungkuk atau malah jalan bebek? Oh tidak. Terkadang ramah bercampur dengan sopan-santun. Ramah adalah bagian dari kesopanan.

Ramah adalah soal memuaskan.

Ramah di kedai kopi adalah pelayanan cepat dan tepat. Bukan membiarkan antrean mengular.

Ramah di warung angkringan adalah santai, obrolan ringan dan tertawa. Bukan bicara cepat lewat henpon dan suara lantang.

Ramah sesama teman adalah mendengarkan. Bukan tertawa cekikikan sembari membuka layar gawai.

Ramah-nya rentenir adalah meminjamkan uang. Untuk apa senyum kalau tak memberi kredit.

Ramah juga bukan cekikikan keras antar sahabat di lift yang sempit, atau tertawa lepas di sudut meja resto dengan kawan lama, karena ternyata ndak ramah bagi orang sekitarnya.

Ramah adalah sesuai harapan. Tidak hanya manis di mulut, nyaman di hati, juga dapat diterima sewajarnya oleh orang sekitar kita.

Advertisements

7 thoughts on “Apa Ramah Itu?

Leave a Reply