“Maunya Apa Sih?”

SIGNIFIKANSI; perasaan (atau merasa sebagai seseorang yang) penting. Inilah salah satu candu paling kuat bagi umat manusia di mana saja. Sangat menggoda dan memikat dalam bentuk naluri eksistensi, penuh ilusi dan muslihat, terlampau halus untuk disadari dan ditolak, hingga nyaris mustahil untuk membebaskan diri dari jeratannya sampai dibawa mati. Termasuk oleh saya sendiri, saat menulis ini.

Tidak hanya terbatas pada hal-hal kebendaan dan kepemilikan, dahaga signifikansi atau haus akan sensasi yang muncul ketika merasa diri ini penting memiliki banyak lapisan dan dimensi. Dimulai dari yang paling sederhana.


  • Signifikansi Material & Status

Pernah merasa senang setelah mendapatkan atau memiliki sesuatu?
Pernah merasa senang setelah ada seseorang, atau banyak orang yang noticed bahwa kamu memiliki sesuatu tersebut? Apalagi jika sampai berbuah pujian dan decak kagum dari mereka.
Pernah berpikir bahwa sesuatu yang kamu dapatkan atau miliki bisa meningkatkan derajat dan indikator penilaian tertentu?

Sering berambisi kuat, bahkan sampai posesif ingin mendapatkan atau memiliki sesuatu? Saking kuatnya, sampai tidak menyadari adanya perubahan pada diri dan sikap. Saking kuatnya, sampai kegagalan mendapatkan atau memiliki sesuatu tersebut terasa bak kiamat.

Itulah sedikit gambaran mengenai signifikansi material, yang mencakup banyak hal konkret, bisa dipegang, bisa dikumpulkan, bisa diukur, dan bisa dinilai. Mulai dari harta, mencakup uang dan sejenisnya, rumah dan properti yang bukan sekadar tempat tinggal, mobil dan jenis kendaraan lain yang bukan sekadar alat transportasi, wajah yang rupawan, tubuh dan bagian-bagiannya yang indah, pacar cakep dan seksi atau partner pernikahan yang bukan sekadar kekasih, anak-anak, institusi aneka sektor dan organisasi dalam ukuran jumlah, bersekolah atau berkuliah di almamater tertentu hingga lulus, dan semacamnya.

Berlanjut ke status atau gelar yang diperoleh berbarengan dengan kepemilikan material. Misalnya: orang kaya, sarjana, peraih beasiswa, orang pintar, anak muda berprestasi, calon menantu harapan mertua, wanita tercantik dan terseksi, mantan terindah, alumni terbaik, pembicara terpopuler, artis terkondang, orang tua idaman, pacar ideal, anak muda kekinian atau kids jaman now, panutan, role model, jenius, dan sebagainya.

Kemahiran atau keahlian juga bisa mendorong seseorang mengalami dahaga signifikansi ini. Merasa sudah bisa sejak lama, memiliki jam terbang yang lebih tinggi, dan lebih berpengalaman membuat diri ini seolah lebih ahli. Akhirnya mencari perang tanding. Banyak contoh bidangnya. Salah satu yang sedang panas-panasnya sekarang: Barista dan seni menyeduh kopi.

Dari sini, beranjak ke jenis-jenis dahaga signifikansi lain yang kian sukar dikelompokkan sebagai sesuatu yang baik atau buruk dalam kehidupan manusia itu sendiri.


  • Signifikansi Religius

Kurang pas kalau menggunakan kata “spiritual” atau “transendental”, karena dahaga signifikansi ini melekat pada agama, lembaga yang diciptakan melalui kesepakatan manusia sendiri. Sementara spiritualitas maupun keadaan transendental tidak seterkungkung itu.

Sederhananya, seseorang bisa merasa dirinya menjadi signifikan karena menganut dan menjalankan agamanya sendiri. Sedangkan para spiritualis sejati cenderung hening, menghindari kebisingan penuh omong kosong, dan tetap memiliki kedekatan khusus dengan Sang Mahapencipta tanpa gangguan dan intervensi dari luar. Tidak pula memamerkannya. Tidak mengumbar apa yang telah dialami dan sedang dimilikinya, serta menjawab pertanyaan secukupnya.


  • Signifikansi Moral Sosial/Etis

Lantaran satu dan lain hal, termasuk signifikansi religius di atas, seseorang merasa dirinya signifikan secara moralitas terutama dalam menjalani kehidupan bersama orang lain. Sederhananya, “aku lebih bermoral!”

Karena merasa sebagai seseorang yang agamis, ia menganggap dirinya lebih baik dan memiliki moralitas yang lebih terpuji dibanding orang lain. Kepatuhan atau kesalihan yang memperdaya diri sendiri.

Selain kaidah agama, ada berbagai sudut pandang lain yang bisa membengkakkan ego seseorang. Pandangan-pandangan humanistik semisal feminisme, kepatutan sosial, tata krama, etiket maupun etika, dan masih banyak lagi. Contohnya, perselisihan antara para Social Justice Warrior (SJW) dan para non-SJW, maupun seteru digital antara HD dan rekan-rekan versus AD dan rekan-rekan. Dalam hal ini, saya tidak kenal keduanya.

Katakanlah HD adalah pihak yang memperkarakan, dan AD adalah pihak yang diperkarakan setelah melakukan sejumlah kesalahan.

Silang pendapat terus terjadi, serangan dan tangkisan sama-sama digencarkan oleh mereka berdua. Ditambah lagi dengan beragam ocehan; yang mendukung salah satu, yang menolak salah satu, pihak ketiga yang terlibat menjadi korban kesalahan, serta yang mengecam blunder kedua pihak.

Kita singkirkan yang lain-lainnya, dan sisakan mereka berdua. Sekarang, manakah di antara mereka yang sedang mengalami dahaga signifikansi di saat ini?

Saya tentu saja tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, oleh karena itu hanya bisa menduga. Apabila AD memang melakukan kesalahan di masa lalu, boleh jadi kesalahan itu dilakukan sebagai bentuk pemenuhan dahaga signifikansi. Seksual, jika bisa diasumsikan demikian. Sejurus dengan itu, HD lalu mengemuka dengan segala beberan. Seolah ingin menelanjangi AD dari segala pencitraan positif-humanistisnya, dan hanya menyisakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Sayangnya, tidak semua beberan itu nyambung dengan kesalahan yang tengah dibahas, sehingga menyebabkan potensi konflik baru. Melebar ke mana-mana.

Keriuhan terus terjadi, bahkan sampai detik ini (Sabtu siang). Mudah-mudahan tidak ada yang harus mati, dan bikin pengin bertanya: “Maunya apa sih?” Bisakah segera diselesaikan saja?

Hanya saja, kembali lagi, demi mengejar pemuasan dahaga signifikansi tadi, semua ini terus terjadi. Siapa yang tidak ngembang dadanya, begitu tahu mendapat dukungan dan dielu-elukan orang lain.

Jangan khawatir, saya juga pernah merasakannya, kok. Meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.

Untungnya perkara ini konon sudah selesai. Terserah seperti apa penyelesaiannya.

  •  Signifikansi Emosional

Pernah melihat pertengkaran dua balita? Ketika balita A dibuat menangis oleh balita B, tak lama kemudian balita B pun ikut-ikutan menangis. Padahal balita B berada di posisi “menang”, mendapatkan yang diinginkan. Seharusnya menjadi balita yang gembira dan tertawa-tawa, bukan malah sebaliknya. Entah apa pun alasan atau pendorongnya.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang meneruskan perilaku ini sampai dewasa. Bahkan terpatri dalam budaya. Sederhananya, dengan menjadi penanggung derita emosional, atau menjadi yang tersakiti, seseorang merasa mendapatkan privilese atau hak istimewa untuk dinyamankan dan diprioritaskan. Ini memunculkan banyak orang yang gemar buang bodi, melempar kesalahan, mencari-cari alasan, dan melampiaskan ketidaknyamanan.

Contohnya tergambarkan pada ungkapan: “Doa orang teraniaya pasti akan didengar” yang diucapkan secara serampangan.

Mengapa serampangan? Coba dibedah dengan pertanyaan-pertanyaan berikut.

Siapa yang menganiaya, dan yang teraniaya?
Apa yang menyebabkan si teraniaya merasa dianiaya?
Apa yang menyebabkan si penganiaya melakukan penganiayaan?
Bagaimana bentuk penganiayaannya? Kekejaman secara langsung, atau berupa hukuman?

Akan selalu ada masanya, ketika seseorang memang harus menangis karena perasaan tidak nyaman, bukan untuk memanipulasi perasaan kasihan, bukan pula untuk berburu menjadi “yang lebih signifikan”.

Kemampuan menerima konsekuensi bukanlah upaya menumpulkan mekanisme pertahanan naluriah, melainkan ciri khas manusia seutuhnya.


  • Signifikansi Rasa

Yang paling ambigu dalam merasakan sesuatu adalah… rasa itu sendiri. Perlu rasa untuk bisa merasakan sesuatu. Hasil dari perasaan itu juga akan berupa rasa. Ini merupakan salah satu labirin pelik jiwa yang bisa bikin gila… (ehm, gangguan kejiwaan, menurut orang-orang yang memiliki dahaga signifikansi etis).

Sederhananya, setiap rasa setara. Ketika seseorang merasa rasa/apresiasi rasa yang dimilikinya lebih luhur dibanding rasa/apresiasi rasa milik orang lain, itulah dahaga signifikansi rasa. Ambil contohnya, persepsi pada warna. Setiap orang memiliki preferensi khusus terhadap masing-masing warna. Sekhusus apa? Ya pokoknya khusus saja, dan hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan. Maka, bagaimana bisa seseorang menyebut bahwa persepsi visual personalnya terhadap suatu warna membuatnya lebih penting dibanding persepsi visual personal orang lain?

Sebagai kompensasi, manusia pun mulai melekati warna dengan identitas budaya. Jalan pintas untuk memanipulasi demi signifikansi. Ada yang menganggap warna kuning sebagai rona suci, emas, keagungan raja dan tidak boleh dikenakan rakyat jelata, tapi ada juga yang menyebut kuning adalah warnanya tahi. Memang kuning adanya. Kasus yang sama pada putih, hitam, merah, hijau, dan lainnya. Padahal semua sama-sama merupakan spektrum cahaya, sekalipun yang tak kasatmata.


  • Signifikansi Rasional

Artikel ini bisa jadi salah satu contohnya.

Sejumlah pemikiran, pertimbangan, dan pandangan yang dituangkan di sini, berpotensi membuat saya merasa punya sudut pandang khusus atau point of view yang signifikan. Manakala ada komentar atau pendapat yang setuju dan mendukung tulisan ini, demikianlah dahaga signifikansi yang saya miliki.

Satu-satunya cara agar dahaga signifikansi tersebut tidak mendominasi alam pikiran saya, tulisan ini tidak akan dilekati embel-embel polaritas (benar atau salah). Bisa saja benar; bisa juga salah; bisa saja tidak benar tetapi tidak juga salah; bisa juga tidak salah tetapi juga tidak benar. Biarlah paradoks ini melayang-layang di pikiran saya, dan silakan simpan penilaian positif dalam pikiran masing-masing. Justru akan lebih baik jika ada penilaian negatif atau yang bertentangan disampaikan. Agar men-challenge dahaga signifikansi rasional yang bercokol dalam benak saya, selaku si penyampai konsep. Si pembicara.

Apa sih yang membuat kita merasa sebegitu penting?

Sebegitu pentingnya kah kita?

[]

Advertisements

8 thoughts on ““Maunya Apa Sih?”

  1. dan asal muasalnya adalah ego bukan sih, ego yang terpuaskan dikala kita merasa dianggap penting, dan ego yg terluka ketika kita merasa di anggap kurang penting.

    • Betul. Semua-muanya dari sana. Cuma saking seringnya orang dengar ungkapan soal ego, tambah sering juga lupa. Malah tenggelam dalam dramanya sendiri. Hahaha.

Leave a Reply