Kalahkan Ego

Pernah bertengkar dengan pacar, sahabat, keluarga gara-gara ego kalian yang tinggi? Saya juga. Beberapa bulan ini saya selalu bertengkar dengan pacar saya karena “ego saya yang berlebihan” katanya.

Saya yang memaksa ingin bertemu setelah dia kerja dan ngotot, saya yang apa-apa menangis kalau tidak diturutin, saya yang keras kepala, tidak mau ngalah, dan lain-lainnya. Di awal-awal bulan, pacar saya menerima-menerima saja dan tidak pernah mengeluh, tapi di bulan ketujuh akhirnya dia meledak.

Dia selalu menyuruh saya untuk “ego kamu kurangin dong,”

Ego, ego, dan ego. Sampai akhirnya saya pusing sendiri dan jengah.

Apa sih sebenarnya ego itu?

Pacar saya bilang ego itu adalah konsep diri yang diatur oleh realitas yang ada.

Menurut Wikipedia ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustasi.

Menurut saya ego ada sebagai alat pertahanan kita sebagai manusia. Ego adalah bagian dari kepribadian. Semua keyakinan yang saya pegang turut membangun ego saya sendiri.

Ego adalah bagian diri yang bertujuan untuk mencari persetujuan dari orang sekitar. Ego selalu fokus pada kepentingan mengutamakan diri sendiri dan tidak peduli pada realita yang dimiliki orang lain. Seperti yang terjadi pada saya, jika sesuatu di sekitar saya terjadi tidak sesuai harapan, saya pasti mencari orang untuk disalahkan (walau sebenarnya sayalah yang harus disalahkan).

Saya pernah membaca seseorang menulis di twitter, “Lihatlah ke cermin. Biasanya pelaku dari semua kejadian yang kau cari-cari ada disana,”

Dulu saya tidak mengerti apa maksudnya, tapi kini saya mengerti.

Setelah bertengkar hebat dengan pasar saya karena masalah ego saya yang ketinggian, saya berusaha keras untuk mengubahnya. Saya tahu saya akan gagal jika saya ingin perubahan yang cepat, karena itu saya memilih untuk berjalan pelan-pelan.

Setiap pacar saya bilang dia pulang kerja cepat, saya langsung mengajaknya bertemu tidak peduli dia letih atau tidak. Tapi kini, saya akan memikrkan bagaimana keadaannya dan bertanya lebih dulu. Jika dia tidak mau, ya saya terima.

Setiap keinginan saya tidak dituruti, dulu saya selalu ngambek, dan berujung nangis, tapi kini saya berusaha untuk melihat dari dirinya, mendengarkan apa alasannya, dan menerima.

Saya juga terbiasa membayangkan bagaimana jika sesuatu yang telah terjadi seharusnya begini, begitu, dan seharusnya itu tidak boleh dilakukan. Menyesali hal-hal yang telah terjadi dan memikirkannya terlalu dalam tidak akan mengubah apapun.

Juga berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain! Ini yang masih saya terus belajar. Setiap saya membandingkan diri saya dengan teman yang lebih sukses, saat saya menjadi merasa rendah dan tidak berguna, ego itu menang, dan sama saja itu seperti saya tidak menghargai diri saya sendiri. Satu-satunya cara adalah mengontrol.

Juga satu-satunya cara untuk menghilangkan ego adalah ikhlas. Mengikhlaskan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan adalah cara paling mudah untuk mengendalikan ego itu sendiri.

Kendalikan ego, dan mari hidup tenang.

Advertisements

Leave a Reply