Mempermalukan Seorang yang Kau Pikir Telah Menanggung Malu Membuatmu juga Pantas Dipermalukan, Loh

Kemarin, aku baru saja pulang ke Jambi. Bodoh memang alasannya: aku habiskan uang satu juta demi tiket bolak-balik agar aku bisa makan durian kumpeh yang sampai mati takkan bisa kutemukan di Jakarta (aku berpikir, apakah tukang durian di Jakarta tak pernah tahu bahwa ada sebuah daerah di Sumatera yang menjual durian dengan sensasi yang membuatmu berada di surga?).

Tapi tentu saja, aku mendapatkan lebih dari apa yang aku mau dalam perjalanannya.

Seorang datang ke rumahku, dan tiba-tiba saja, saat aku ingin membeli durian, ia datang membawa durian. Kebetulan sekali. Itu Satriyo, sobatku dari SMP. Dan kami kemudian menikmati durian itu di halaman belakang rumahku. Di bawah pohon manggaku yang kini tak berbuah.

“Jadi, dari kapan balek, rip?”

“Kemarin-lah jok, hehe.”

“Eh, kau lah tengok, dak?”

Nengok apo?”

Hana Anisa.”

Sontak aku jadi kaget. Aku kemudian berpikir bahwa ada video porno Hana Anisa baru lagi. Dan kalau itu terjadi, tentu saja, itu kelewatan. Membayangkan hidupnya Hana saat ini saja sudah ngeri — ia harus menanggung malu, sementara eks-pacarnya yang turut berhubungan seks itu bebas-bebas saja. Entah dari meme atau lelucon yang berada di internet, aku pikir, semua orang berusaha menunjukkan bahwa mereka semua lebih baik dari Hana.

Padahal, benarkah demikian?

Aku jadi ingat kejadian yang sempat menimpa beberapa remaja yang bikin kampanye Celup. Kampanye itu bodoh — jujur saja, apa motif memotret orang yang sedang pacaran? orang-orang yang berada di kampanye itu adalah seburuk-buruknya manusia — tapi bagaimana kita merespons itu semua juga buruk, aku pikir.

Ketika kita tahu kampanye itu, kita malah membalas untuk mempermalukan orang-orang dibalik kampanye ini. Dengan menggunggah foto pendiri kampanye ini dengan pacar mereka, dan lalu mengetawakan kampanye bodoh ini.

“Memang, kenapa Hana, yo?”

“Jadi, ada fenpej baru gitu lah, rip. Isinyo status diok semua. Mayan, lucu sih ini. Tengok bae, nah,” katanya sambil menyodorkan ponselnya kepadaku. Lalu aku habiskan waktu dengan melihat bagaimana rekam jejak internet, dan kelakuan massa menghakimi orang bisa berlaku sangat kejam.

Sialnya ya, ini takkan berhenti dalam waktu cepat sehingga aku harus menasihati temanku itu, kalimat ini, “mempermalukan orang yang sedang dirundung malu, membuatmu bisa dipermalukan, loh. Dak usah gini lagi, yo?”

Ya, kita memang harus saling mengingatkan dalam ini.

Advertisements

One thought on “Mempermalukan Seorang yang Kau Pikir Telah Menanggung Malu Membuatmu juga Pantas Dipermalukan, Loh

Leave a Reply