Kembali Berkenalan dengan Diri Sendiri

SELAMAT tahun baru! 🎉

Enggak terasa, sudah 2018 aja. Yang artinya, setahun lagi lebih tua, setahun lagi lebih dewasa dan bijaksana, serta ada setahun lagi masa kehidupan dengan segala keriuhannya. Meskipun tidak ada satu pun jaminan seberapa menyenangkan masa depan akan berjalan, atau seberat apa masalah dan tantangan yang bakal mengadang. Yang pasti, seluruhnya akan hadir sebagai kejutan.

Untuk itu semua, semoga kita selalu bahagia dan sehat, supaya bisa berumur panjang dan dijauhkan dari penyesalan. Iya, penyesalan. Sesuatu yang selalu dibawa-bawa dari masa lalu, menjadi semacam suvenir kurang mengenakkan sebagai beban tambahan. Tahunnya sudah berganti, tetapi kenang-kenangan yang seperti ini tetap bercokol di dalam hati. Dragging.

Penyesalan adalah aftertaste, sisa-sisa rasa getir yang susah dibilas. Artefak tak kasatmata dari yang sudah terjadi, sama mustahilnya dengan menghilangkan bekas luka tanpa menyisakan apa-apa. Kita semua tahu, membawanya ke mana-mana memang tidak akan mengubah apa-apa. Namun justru itulah “kekuatannya”, membuat kita terus menggotongnya secara sukarela. Makin besar guncangannya, makin kuat cengkeramannya. Begitu pula sebaliknya.

Sama seperti penyesalan, begitu juga dengan dendam. Seringkali terus terbawa tanpa berkurang intensitasnya. Baik penyesalan maupun dendam sama-sama dihasilkan dari perasaan menolak, tidak mau menerima apa yang telah terjadi. Bedanya, penyesalan cenderung bersifat lebih pasif, mirip hukuman yang diterima begitu saja, lantaran segala yang telah terjadi tak bisa ditarik kembali. Sedangkan dendam mendorong kita untuk lebih agresif, terus mencari cara untuk menuntaskannya, mendapatkan kompensasi atas hal yang tidak bisa kita terima. Yang jelas, keduanya bikin capek hati.

Foto: Independent.co.uk

Jadi, ada berapa banyak rasa sesal dan dendam yang kamu bawa ke 2018? Mau diapakan? Masih ada yang bisa diubah dan diselesaikan, atau hanya bisa dijadikan pengingat dan pelajaran dalam menjalani tahun yang baru?

Di sinilah pentingnya terampil menjadi bahagia, sesuai doa dan harapan yang saya ucapkan sebelumnya. Dengan kemampuan berbahagia, batas antara hal-hal menyenangkan dan tidak menyenangkan relatif luluh di akhirnya. Baik dalam rasa suka atau duka, dalam kondisi mendapatkan atau kehilangan, hati dan pikiran tetap dalam keadaan yang positif. Kemunculan rasa sesal dan dendam yang disisakan pun jadi sekadar pilihan, bukan keharusan. Susah? Memang.

Dengan berusaha semaksimal mungkin memasuki tahun 2018 tanpa penyesalan dan dendam, ingin sekali menjadikan kesempatan ini untuk kembali berkenalan dengan diri sendiri. Terserah sepalsu apa pun kedengarannya.

Kembali melihat, menemukan, dan memahami bagaimana diri ini menanggapi segala hal yang terjadi. Terus berlatih menghindari luapan emosi yang tidak perlu, efisien dalam merespons, kembali menyadari bahwa orang lain juga punya hati yang semestinya dimengerti. Tidak melulu berpikiran “aku… aku… aku…”

Ya kurang lebih demikian, catatan pengingat ini buat diri sendiri. Sebelum nantinya kembali terseret keadaan, terpaksa menyerah pada arus waktu, dan menjadi seseorang dengan tambahan penyesalan dan dendam.

Ah… simpan saja resolusimu.

[]

Advertisements

5 thoughts on “Kembali Berkenalan dengan Diri Sendiri

  1. Apa yang terjadi pada setiap orang tentunya tidak sama. Resolusi bagian sebagian orang boleh jadi benar adalah basa-basi, pelarian paling absurd dalam bentuk wacana keinginan. Bagi sebahagian lainnya, resolusi boleh jadi benar merupakan tindak kesadaran untuk melakukan sesuatu, lantas memilih untuk tidak menyerah. Boleh jadi ia mengalir seperti taik, boleh jadi benar, tetapi sejatinya yang mengalir adalah air, bukan taik, maka resolusi menjadi berarti bagi sebahagian orang lainnya. Pada akhirnya orang akan berpegang pada kebenaran yang diyakini masing-masing. Maka berkata buka dan coba wujudkan resolusimu, meski harus jatuh berulang kali, akan menjadi benar bagi sebagian orang lainnya.

Leave a Reply