ONANI MORAL- DIGITAL – SPIRITUAL – BANAL

Ada perasaan bangga. Terhenyak. Juga syukur. Bahwa apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang berarti. Ada “makna” yang bernilai. Ada energi yang tersalurkan. Ada sesuatu yang menjadikannya dekat. Sama seperti kita. Sama seperti saya. Linimasa juga sama seperti kamu.

Kita semakin sulit untuk menjadi tentram hati manakala “banyak hal lain” yang dipaksanakan atau terpaksa kita kunyah dan konsumsi, terutama informasi dan opini. Semuanya sibuk ber-onani-secara digital. Juga spiritual. Juga soal moral. Semua seketika menjadi banal.

Memiliki sahabat dekat itu sulit. Lebih mudah mencari musuh. Sama halnya dengan berita negatif atau opini yang menjatuhkan. Lebih mudah ditemui. Toxic culture di kantor mudah disebar dibandingkan budaya kerja dengan etos yang patut diteladani.

Saya awalnya mengira bahwa menyebarkan benih “membangun jembatan lebih baik dari pada menciptakan tembok pemisah” adalah mudah. Karena suatu ide yang baik mudah dirayakan. Ternyata itu salah. Pendapat yang terlalu prematur. Menebarkan permusuhan itu mudah. Memotong dahan pohon itu jauh lebih ringkas dan lekas daripada menunggu daun muda dan bunga bermekaran.

Atau ini.

Saya yakin semua ingin sesuatu yang mulia. Hangat. Intim. Adem. WA grup yang isinya ndak saling ngotot. Mendalilkan kebenaran masing-masing. Adakah dan masih perlukah adanya tegur sapa, gosip ringan, yang sewajarnya.

Hidup tanpa ngomongin orang itu gak cihuy. Sepakat. Oleh karenanya, Linimasa mengejar dan membuat mekar hati manusia. Bukan untuk menjadi hati malaikat.

Saya yakin menjadi manusia utuh itu bukan tanpa cela. Setiap orang berhak dan punya porsinya masing-masing untuk menggapai dan memaknai bahagianya. Menjadi manusia yang tanpa noktah adalah utopia. Menjadi manusia itu adalah sewajarnya menjalani hidup dengan merespon segala sesuatu dengan tenang. Menyikapi “segala” dengan mengendapkannya dan membiarkannya sejenak untuk dieram oleh waktu. Telur masalah terkadang menetas dengan sendirinya. Respon terbaik atas bunyi SMS, Tweet, dan pesan dalam WhatsApp adalah membiarkannya mengembara di layar tanpa perlu kita gatal meresponnya secara cepat. Tidak merespon terkadang adalah pilihan terbaik untuk bersikap. “Read doang”, adalah sebuah respon. Tidak semua yang berbeda dengan kita perlu dijadikan bahan jihad. Perjuangan perang komentar sudah terlalu banyak dilakukan orang-orang. Tugas kita hanyalah membiarkannya ditumbuhi jamur. Syukur-syukur lapuk sendiri.

Jika ndak salah Coelho pernah bilang bahwa:

Kapak selalu lupa. Pohon tak pernah lupa.

Wajar sekali jika menyakiti hati suatu ketika, akan dilupakan di hari berikutnya. Namun bagi yang tersakiti, akan dibawa terus bahkan hingga dalam mimpi. Goresan hati jika dimanjakan akan membusuk dan menjadi penyakit. Melupakan, walau dengan agak-sedikit-terpaksa, adalah jalan paling aman dan nyaman.

Kita terlalu sering membawa beban terlalu besar. Punggung kita sibuk menggendong “hutang emosi”. Semacam beban yang terus menggelayuti. Wujudnya bisa kenangan buruk, dendam pribadi, juga berita sedih. Padahal masa depan tak butuh tas emosi itu. Jalanan terjal masa depan hanya bisa dilalui dengan dorongan energi positif yang meliputi tubuh. Anehnya agar terus menjadi positif terkadang kita perlu membiarkan kita melakukan hal negatif seperlunya.

Memanjakan diri dengan menunda-nunda pekerjaan. Menghabiskan pulsa untuk mengobrol dengan sahabat. Melebihi batasan jam istirahat siang demi makan bersama rekan. Atau membicarakan “musuh bersama”. Apakah itu wajar? Mengapa tidak. Selama kita tahu batasan, dan kita tahu dan disiplin atas pengendalian diri, maka hal-hal “buruk” itu sah saja dilakukan.

Sekali lagi, karena kita manusia dan bahkan malaikat pun pernah muda. 🙂

 

 

Salam anget,

Roy

Advertisements

2 Replies to “ONANI MORAL- DIGITAL – SPIRITUAL – BANAL”

  1. Lewat tulisan ini kamu ngebuktiin kalau ‘Sayurmu begitu ngeRoy!’. Salam anget. ^^

Leave a Reply