Berapa “Harga” Dalam Harga Diri?

SEBENARNYA, apa sih yang tengah kita bela saat “membela harga diri”?

Lantas, bagaimana caranya menilai tinggi rendahnya harga diri seseorang? Namanya juga harga, ada nilai dan ukuran yang telah ditentukan sebelumnya.

Hal-hal apa saja yang tepat dijadikan objek penilaian?

Siapa yang berhak dan pantas melakukan penilaian tersebut? Apakah si empunya diri sendiri, orang lain, atau keduanya? Ketika penilaian seseorang tentang harga dirinya sendiri harus disetujui atau tidak boleh bertentangan dengan penilaian orang lain.

Foto: Elephant Journal

Setiap orang memiliki jawaban yang tidak sama untuk semua pertanyaan di atas. Tak sedikit juga yang masih dalam proses memahami, dan berusaha merumuskan jawaban yang tepat bagi diri sendiri. Dengan demikian, sangat tidak tepat bila jawaban menurut seseorang dipaksakan kepada seseorang yang lain. Karena masing-masing memiliki tingkat pengertian dan pertimbangan berbeda-beda, selama tidak bertentangan dengan hukum positif. Apalagi, jawaban yang benar menurut seseorang belum tentu benar pula bagi orang lain, atau sungguh-sungguh benar secara etis.

Meskipun demikian, sayangnya, selalu ada banyak orang yang menganggap dirinya paling benar mengenai hal ini. Yang kemudian memaksakan sebagian sudut pandangnya kepada orang lain, dibarengi perlakuan tidak menyenangkan kepada orang-orang yang dianggap pantas disebut berharga diri rendah.

Bisa dimulai dengan celetukan yang sering kita dengar: “Kamu masih punya harga diri, gak?!” hingga berlanjut pada aksi-aksi kekerasan dan penganiayaan.

Salah satu contohnya, masih lumayan segar di ingatan kita kasus penghakiman massa kepada pasangan kekasih yang dikira mesum, dan mempermalukan mereka di depan umum. Mereka berdua ditelanjangi, diarak, direkam, dan si laki-laki dipukul beberapa kali. Ada salah satu warga yang bilang kurang lebih begini: “Peragakan lagi yang kalian lakukan tadi!” Ada warga lain sedang melintas sambil mengendarai mobil, dan menghardik kurang lebih begini: “Zina di kampung urang!” Semua warga yang terlibat (terekam dalam video) kala itu terlihat yakin, percaya diri, dan melakukan sesuatu yang benar. Para pelaku terkesan merasa memiliki harga diri lebih tinggi dan mulia dibanding sejoli yang mereka gerebek. Kendati pada akhirnya pasangan itu tidak terbukti melakukan apa-apa, dan polisi menetapkan sejumlah warga sebagai tersangka.

Foto: Merdeka

Tanpa banyak disadari, kita kerap berpikiran dan berperilaku sama seperti warga yang melakukan fitnah dan penghakiman massa di atas. Bermodalkan asumsi samar-samar, stereotip dan stigma yang tidak objektif, serta prasangka tanpa sedikit pun kemampuan bersimpati, kita seringkali merasa pantas memvonis orang lain memiliki harga diri yang rendah.

Buktinya, silakan tinjau kembali pandangan kita terhadap Pekerja Seks Komersial (PSK), mantan warga binaan atau narapidana, janda muda, perempuan yang hamil di luar nikah, anak tak berbapak, waiters atau pekerja di kelab malam, mbak-mbak Sales Promotion Girl (SPG) rokok, laki-laki yang berpoligami secara terbuka (bukan nikah siri atau diam-diam), orang yang berpindah agama (dari agama kita, ke agama lain, tak berlaku sebaliknya), perempuan dengan niqab, laki-laki bergamis, orang yang bertato, cewek-cewek yang merokok, orang-orang dengan preferensi seksual berbeda, tukang sampah dan pemulung, petugas pembersih gorong-gorong, perempuan yang ditinggal pergi suaminya, korban perkosaan dan pelecehan seksual, pengemis dan gelandangan, banci salon… pokoknya, orang-orang yang memunculkan rasa tidak senang.

Persis kayak ini, dari tuit semingguan lalu, waktu ada seorang ibu yang merasa terusik dan pastinya tidak senang dengan sepasang cowok—lazimnya dianggap—bermesraan, di depan umum. Saking tidak senangnya, sampai ingin menendang. A small preface sign of vandalism. IMHO.

Ada banyak alasan yang bisa melatarbelakangi tindakan ibu tersebut. Misalnya, terkait harga diri sebagai orang Indonesia dengan budaya ketimuran dan bersusila tinggi, boleh; terkait harga diri sebagai seseorang yang beragama dan menjunjung tinggi moralitas, bisa; terkait harga diri sebagai seseorang yang lebih senior dari segi usia dan seorang heteroseksual, hayuk… Pada intinya, memberikan reaksi. Di media sosial, posting-an si ibu ini tentu berhasil “memanen” komentar dan respons serupa.

Apabila pernyataan “Tadinya motornya mau ku tendang,” dianggap wajar, ya jangan heran kalau akan ada banyak orang lain yang siap melakukan lebih daripada sekadar menendang motor. 😔

Sesayup di penghujung video, salah satu cowok yang ditegur menyebut “my brother…” Entah jawaban sungguhan atau sekadar cari aman.

Per Selasa kemarin, berikut perkembangannya.

…dan ini.

Dalam hal ini, bukan berarti kita harus menutup mata dari sekeliling. Pun, wajar saja untuk memiliki rasa tidak suka terhadap hal-hal yang asing. Cuma mbokya disikapi dengan fair dan adil, memastikan apa dasarnya, dan memastikan apakah alasan tersebut sudah benar atau berpotensi keliru. Sebab bagi kebanyakan dari kita, harga diri berarti kehormatan. Sedangkan perbedaan-perbedaan individual, belum tentu ada hubungannya dengan kehormatan. Lebih kepada ego.

Perasaan unggul, keputusasaan, kebanggaan, dan rasa malu. Keempat hal ini disebut John P Hewitt berpengaruh besar terhadap harga diri seseorang. Lebih tepatnya, berpengaruh besar terhadap bagaimana seseorang memandang atau menilai harga dirinya sendiri, hingga berlanjut dengan tindakan.

Dari teori ini, apa yang selama ini kita sebut dan anggap sebagai harga diri, bisa jadi hanya bungkus untuk perasaan unggul yang tak ingin diusik, keputusasaan terhadap diri sendiri, kebanggaan yang melenakan dan ingin dibesar-besarkan, serta rasa malu yang bikin bingung harus dibagaimanakan.

Semuanya berasal dari diri sendiri. Alias, ego. Tahun 2017 sudah mau habis.

[]

Advertisements

Leave a Reply