Buah Marlina

Orang-orang tua, terutamanya nenek, pernah bilang kalau ingin merebut hati lelaki dan mempertahankan hatinya untukmu, peganglah perutnya. Dari perut turun ke hati. Sehingga meneguhkan perempuan berada di dapur. Tentunya para feminis akan berteriak menentang. Tapi tunggu dulu. Di sisi lain, dapur memiliki daya magis dan kekuatannya sendiri. Aroma yang sering keluar dari dapur sebuah hunian, sering menjadi daya pikat yang dahsyat.

Seorang Tante berusia lanjut, saat anak-anaknya tak lagi tinggal serumah, memiliki resep Rawon yang luar biasa. Entah bagaimana cara dia memasaknya, yang pasti memang lebih enak bahkan dari kota asalnya, Surabaya. Tapi, jangan harap bisa mendapatkan resepnya. Bahkan mulai dari saat dia berbelanja bahan sampai memasak, semua hanya boleh dilakukannya sendiri. Mengapa? Inilah senjata rahasianya. Her secret weapon.

Senjata untuk apa? Untuk menjaga agar anak-anaknya kembali ke padanya. Agar anggota keluarga merindukannya. Supaya semua berkumpul karena merindukan Rawonnya. Dan di atas segalanya, membuat Tante selalu merasa dibutuhkan. Usia semakin senja, rasa dibutuhkan memberikan semangat hidup yang luar biasa. Melebihi nominal asuransi yang telah disiapkan, atau kebutuhan untuk jalan-jalan tanpa beban.

Dari dapur pula huru hara Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak berawal, Dapur yang diasosiasikan sebagai kelembutan dan kasih sayang, berubah menjadi tempat rencana pembunuhan dimulai. Dengan ketenangan dan kelembutan yang ditampilkan, Marlina adalah perempuan tangguh karena bisa membunuh 5 laki-laki sekaligus. Hanya dengan sebuah buah beracun yang dicampur ke dalam sup ayam saat dimasak Marlina. Serunya lagi, sup ayam adalah pesanan laki-laki itu sebelum berniat memperkosanya. So guys, be careful what you wish for.

Buah Bintaro yang dipakai Marlina diambil dari laci meja rias di kamarnya. Berarti, Marlina memang mempersiapkannya untuk suatu waktu jika diperlukan untuk membunuh. Mengapa Marlina tidak menyimpannya saja di dapur. Lebih praktis kan. Mungkinkah Mouly ingin menempatkan buah beracun setara dengan alat rias yang juga bisa dianggap sebagai “senjata”?

Marlina adalah juga pembunuh berdarah dingin. Saat Marlina sedang diperkosa dan bersiap membunuh dengan memenggal kepala pemerkosanya, posisi Marlina sedang di atas mengendarai pemerkosa. Dalam bahasa visual, posisi ini memberikan kemerdekaan kepada perempuan untuk mengatur ritme seks. Di saat pemerkosa sedang kenikmatan itulah, Marlina mengeluarkan pedang dari belakang dan menebas kepala pemerkosanya hanya dalam sekali ayun. Kalau orang biasa mana bisa.

Bukti kalau Marlina sudah biasa melakukannya adalah saat Marlina membawa penggalan kepala manusia, Marlina tak berusaha menutupi atau kebingungan. Saat duduk di bis, perempuan biasa tak mampu duduk di sebelah Marlina karena bau yang menyengat. Sementara Marlina tetap duduk dengan tenang saja seperti sedang membawa ayam.

Satu lagi bukti Marlina sudah biasa membunuh, saat teman perempuan yang ditemuinya di jalan menyuruhnya untuk mengaku dosa, Marlina berkata dengan tegas kalau dia tidak merasa berdosa. Kalau pembunuhan yang dilakukannya ini adalah yang pertama kali, beragam perasaan akan berkecamuk dalam dirinya. Termasuk perasaan berdosa karena telah membunuh. Ingat, bukan satu tapi 5 laki-laki sekaligus dibunuhnya dengan sistematis dan terencana.

Satu bukti lagi, sesaat sesudah membunuh, Marlina tidak menghubungi teman atau saudara, tapi berusaha menghubungi kantor polisi. Yang artinya, jelas Marlina tidak merasa bersalah sedikit pun. Dan satu-satunya senyum yang merekah dari bibir Marlina adalah sesaat setelah membunuh. Lalu pertanyaannya, sepanjang hidupnya sudah berapa pembunuhan yang dilakukan Marlina? Siapa saja korban-korbannya?

Yang menjadikan film ini “ngeri-ngeri sedap” adalah sebagai penonton, kita dibawa untuk bersimpati pada Marlina. Usaha ini kayaknya berhasil kalau membaca komentar penonton di media sosial. Kecantikan dan gerak gerik anggun yang ditampilkan Marlina membius kita sehingga semua yang dilakukannya adalah benar. Bukankah ini yang sering terjadi dalam keseharian? Mata kita sering mengelabui. Padahal jelas-jelas di judulnya tertera peran Marlina, Si Pembunuh. Kok bisa kita bersimpati pada pembunuh berdarah dingin?

Wilayah perkosaan adalah wilayah sensitif. Banyak film yang mengangkat kasus perkosaan. Dalam kasus Marlina, si pelaku sebelumnya sudah memberitahukan niat untuk merampok dan memperkosanya. Tidak sekali pun Marlina menolak atau melawan. Tidak ada sedikit pun gerakan tubuh Marlina untuk kabur. Padahal ada pintu belakang rumahnya yang selalu terbuka. Marlina bisa saja kabur saat pemerkosa baru datang sendirian. Dan benar kata polisi, “kalau dia kurus dan tua, mengapa kamu tidak melawan?”

Di sebuah film soal perkosaan (judulnya lupa), yang menjadikan kasus begitu rumit karena korban perkosaan membukakan pintu rumahnya agar si pemerkosa masuk. Tidak ada tanda-tanda pintu rumah dipaksa buka. Yang diterjemahkan sebagai korban perkosaan mempersilakan pemerkosa masuk ke dalam wilayahnya. Dalam kasus Marlina, dia tak hanya membukakan pintu tapi memasakkan sup ayam untuk pemerkosa.


Inilah kehebatan sutradara, Mouly Surya. Dia bisa membawa cerita seolah-olah realita. Dan penonton yang terbiasa pada dunia dan film hitam putih, penjahat dan jagoan, benar dan salah, dibiarkan untuk berpihak kepada Marlina yang diceritakan sebagai jagoan. Sehingga langsung memberikan simpati padanya. Sebuah kebenaran baru yang ditawarkan film ini.

Campuran pemandangan Sumba, musik Lucky Luke koboi Western, tatami shot Yasujiro Ozu memberikan warna yang berbeda. Selain segar, Marlina seperti ingin mengajarkan untuk menyukai film tak perlu alasan. Sama seperti jatuh cinta. Terkadang, saat alasan itu dicari bisa jadi seperti tulisan ini. Mengada-ada.

 

Posted in: @linimasa

Tinggalkan Balasan