Kematian di Akhir Pekan

path_between_life_and_death_by_halfhaggis
Sumber: Deviantart by Halfhaggis

Sudah cukup lama tidak menulis di sini. Memang akhir tahun yang agak menggila beberapa minggu terakhir ini. Tetapi sebagian besar memang akibat perbuatan sendiri.

Hari Sabu minggu lalu saya volunteer untuk jadi judge di kompetisi berlokasi di Cross Fit tempat saya latihan. Agak menyesal, sekaligus senang dengan keputusan ini. Menyesal karena saya tadinya kurang paham kalau posisi judge di games seperti ini (yang saya pikir orang banyak yang mengikuti sebagai kesenangan belaka, ternyata banyak juga yang being Monica Geller about it. Alias kompetitif sekali) sering mengundang kontroversi keputusannya untuk meloloskan gerakan tertentu atau berteriak “NO REP!” yang berarti peserta harus mengulangi gerakan sampai dinilai benar. Sungguh pengalaman humbling melihat begitu banyak individu dengan lemak tubuh satu digit mondar mandir, dan mengangkat beban yang saya harus pindahkan dengan cara menggelinding karena tidak kuat mengangkat, dengan mudahnya, banyak sekali repetisi dan ronde. Dari pagi hingga petang tugas tersebut saya jalani, dan pulang ke rumah dengan keadaan lapar berat. Saya pun memesan makanan dengan layanan antar, yang agak impulsif karena tidak sesuai dengan pola makan rutin sehari-hari.

“Ah toh, besok mau lari 10K,” dipikir begitu. Ternyata, akibat makan yang salah saya semalaman tidak bisa tidur karena perut mendadak mengandung gas dahsyat. Keringat panas, keringat dingin, bolak balik kamar mandi, pokoknya baru jam 2 dini hari saya sukses memejamkan mata dan tertidur.

Sementara perlombaan lari yang saya akan ikuti hari Minggu, di Serpong dimulai jam 5. Rencana berangkat jam 3:30 pagi, saya baru terbangun jam 5 kurang 5 menit. Ha di ha ha. Dalam kondisi normal, sepertinya saya akan mengangkat bahu melihat jam, kemudian menarik selimut dan tidur lagi. Tapi entah mengapa, saya hari itu ingin sekali ikut race tersebut. Saya pun cuci muka, ganti baju dan langsung berangkat. Tidak berani mengebut di jalan tol, karena baru bangun dan kondisi kurang tidur. Sampai di Serpong sekitar jam 5:30, tentu race sudah dimulai, dan tentu jalan menuju TKP ditutup untuk rute yang half marathon.

Ketika tempat start terlihat sementara saya tidak bisa melakukan putar balik karena jalan ditutup, akhirnya saya pinggirkan mobil dan parkir di pinggir jalan lalu berlalu menuju garis mulai. Tentu saja, sampai di sana sensor chip sudah dimatikan, tetapi saya mulai saja lari dari situ. Tidak sendiri, ternyata ada beberapa peserta 5K yang juga mulai bersama saya. Perlahan ada dari mereka yang duluan dan tertinggal. Kemudian di saat pelari 5K berbelok ke rute mereka, sementara 10K ke arah lain saya mulai khawatir lari sendiri di jalan raya, tetapi ternyata rute 10K kemudian bertemu dengan rute HM, hore! Sepanjang jalan sampai garis selesai pun saya selalu beramai-ramai. Menyenangkan karena cuaca mendung dan sejuk, dan kami melewati rute yang tertutup sama sekali untuk mobil sehingga tak ada kendaraan lewat sepanjang kurang lebih 4 kilometer. Saya tidak menyesal sama sekali tetap nekad lari walaupun waktu tidak tercatat di perlombaan dan setelah selesai lari perut saya kembali berulah. Tetapi paling tidak ketika lari dia (perut saya) cukup tenang. Bertemu teman, foto-foto, pulang ke rumah, saya mulai bersiap untuk ke reuni SMA.

Ketika masih mager, saya kemudian menerima berita, bahwa salah satu rekan satu angkatan di SMA dan sempat satu kantor juga jadi kolega saya meninggal dunia. Almarhum termasuk yang vokal dan aktif di Facebook, dan saya tahu ketika itu dia sempat serangan jantung, kemudian merencanakan untuk operasi bypass, tetapi selain masih dipersiapkan fisiknya dan dimonitor kesehatannya, dia – entah mengapa – takut setengah mati menghadapi operasi ini. Saya juga mendengar bahwa dia sempat berpamitan dan “menitipkan” anak dan istrinya sebelum operasi ke teman-teman dekatnya. Awal November dia pun dioperasi. Kemudian ada komplikasi yang terjadi sehingga harus dilakukan medically induced coma. Kemudian hari itu, hari Minggu dia pun meninggal dunia.

Saya selalu mengingat dia sebagai teman bercanda yang tidak pernah habis cerita. Sambil sesekali menawarkan dendeng batokok buatan istrinya (atau ibunya? Saya agak lupa), tetapi kemudian ketika saya ingin pesan dia selalu bilang kalau pesanannya sudah penuh sampai tidak tahu kapan. Saya pun mendengus dan sampai sekarang saya belum pernah merasakan dendengnya.

Niat pergi ke reuni untuk mengobrol dengan teman lama pun hilang sudah. Kemudian menghabiskan sore dengan mengirimkan doa atau apa pun itu disebutkan agar ruh teman saya yang lepas dari fisiknya lebih senang di alam berikutnya. Bahwa kehidupan ini begitu singkat dan fragile, bodoh rasanya kalau kita terlalu lekat sehingga merasa takut kehilangan dengan apa pun. Bahwa kata ikhlas itu mudah diucapkan dengan satu napas tetapi tetap merupakan konsep yang kompleks dan masih sedikit manusia yang bisa melaksanakan.

(Untuk temanku Antono)

Posted in: @linimasa

6 thoughts on “Kematian di Akhir Pekan Leave a comment

Tinggalkan Balasan