Bolehkah Kita Cuti Selamanya?

Cuti dalam bahasa orang London disebut dengan “leave”. Bagi orang Indonesia, terutama saya, cuti berarti asoi. Ndak kerja tapi masih dapat bayaran. Cuti tahunan, annual leave.

Saya pun yakin kita semua suka dengan cuti. Terbukti tweet saya sebulan lalu hingga sekarang masih saja menjadi perhatian.

Padahal isi tweet saya waktu itu adalah soal kultur orang Jerman yang bekerja cukup 35 jam saja perminggu namun produktif. Etos kerja mereka terbukti bagai mesin diesel. Dari diskusi dari hasil reply tweet tadi diketahui mereka fokus dalam menunaikan tugas. Soal ekonomi negara mereka juga unggul dibandingkan negeri eropa lainnya.

Bisa jadi karena mereka fokus maka cuti bagi pekerja mereka adalah 24 hari setahun. Namun dari beberapa tulisan, resminya mereka diberi jatah cuti 20 hari kerja. Indah bukan?

Tapi menurut saya yang menarik adalah soal budaya kerja dimana bos-bos Jerman pada perusahaan Jerman jarang sekali bahkan merasa canggung menghubungi karyawannya melalui email (atau pesan singkat lainnya seperti sms/whatsapp) di atas jam 6 sore.

Coba bayangkan dengan kondisi budaya kerja di sini. Bos mau email usai jam makan malam pun sering dijumpai. Atau sms soal kerjaan di hari libur. WA di kala subuh.

Negara eropa, berdasarkan sumber di wikipedia, rata-rata mengatur terkait libur cuti lebih dari 20 hari. Entah salah tulis atau tidak, Amerika justru tidak memberikan jatah cuti sama sekali.

Cuti itu penting. Menjadikan pekerja tetap memiliki hak untuk “menjalani sesuatu di hari kerja selain soal urusan kerja”. Saya pun meyakini semua pembaca linimasa yang sudah bekerja akan mengiyakan soal pentingnya cuti. Hanya saja anehnya kenapa kita jarang sekali mempertimbangkan soal hak cuti ketika mendapat tawaran pekerjaan. Calon karyawan selalu mengutamakan seberapa besar kelak gaji diterima. Soal cuti, hanya selewat saja.

Permasalahan utama di Indonesia adalah walaupun memiliki hak cuti namun saat akan mengajukan cuti banyak hal yang menjadi rintangan.

Pekerjaan yang sulit ditinggalkan karena memang jarang menggunakan pola kerja satu tim (teamwork) atau Bos yang ndak rela karyawannya ngapdet di instagram atau path saat hari kerja dengan suasana pantai dan mega berarak, atau memang dianya sendiri malas cuti karena takut ketahuan pekerjaannya kacau.

Bos harusnya paham bahwa karyawan yang berani mengajukan cuti adalah karyawan yang baik-baik saja dalam bekerja. Karyawan yang curang atau melakukan fraud biasanya akan malas untuk ajukan cuti.

Agar bersikap adil, dan sebagai tips agar pengajuan cuti selalu disetujui, maka ada baiknya selama hari kerja biasa, kita bekerja dengan prima. Anggap saja kita pemain bola. Bekerja untuk ditonton fans.

Sekalinya kita ndak main, dikira kita ndak fit atau kalah stamina dengan pemain yang lebih muda.

Salam anget,

Roy

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Bolehkah Kita Cuti Selamanya? Leave a comment

  1. Dulu saya kerja di perusahaan lokal sebut saja salah satu ahensi media, jam kerja fleksibel (masuk boleh siang tapi siap-siap pulang malem banget), tengah malam whatsapp group kantor masih berisik soal kerjaan, hampir tiap malam harus upload content (dan harus jam 12), weekend dan cuti enggak ada artinya karena hp dan email wajib stand by. Bawaannya jadi marah-marah terus dan bikin jadi nggak semangat kerja.

    Sekarang udah pindah kerja, bos saya orang Jerman, persis seperti di artikel di atas. Enggak ada email di atas jam 6, enggak ada pembicaraan di whatsapp group kantor setelah working hour dan weekend, kecuali untuk becanda2 (yang jarang banget). Memang hasilnya lebih produktif sih (dan enggak bikin sebel sama kantor).

  2. Gue kerja jakarta, di sebuah perusahaan skandinavia, dapet jatah cuti 25 hari, dan jam kerja flexible asal jatah 7.5 jam sehari bisa dipakai produktiv. Susah bgt move on dr kantor kayak gitu hahah

Tinggalkan Balasan