Gara-Gara Bacang

​Bacang Ny. Lena menurutku salah satu Bacang terbaik di Jakarta. Porsinya relatif besar dengan isian ayam atau babi yang padat. Bumbunya seperti pernyataan damai bersama nasi atau ketan. Berpadu seimbang di mulut. Meleleh selagi hangat di antara kuning telur asin dan jamur shitake dalam balutan daun bacang yang wangi tanah basah. 

Bacang Ny. Lena. Boleh pesen di instagram: @bacang_special_ny_lena

Aku pesan 5! Dua babi, tiga ayam. Untuk besok lusa. Hari Jum’at. 

Persis di hari yang dijanjikan, pesanan Bacang Ny. Lena datang. Karena aku ndak dirumah, bacang diterima oleh Arni, penjaga rumahku.

“Gimana, Bacangnya aman?” tanya Om Penol (Pendek Bahenol) penjual dan pengantar Bacang Ny. Lena di hari Sabtu.

“Loh, baru di antar ya? Aku lagi di rumah Mama, Om.”

“Udah dari Jum’at kemarin. Yang terima pembantumu yang gemuk itu.”

“Oh, sebentar aku tanya ya.”

Arni baru bilang ada kiriman bungkusan Jum’at kemarin. Ia lekas masukkan freezer supaya ndak basi. Karena Bacang berharga itu disimpan bukan pada tempatnya, maka ndak terlihat. Sampai aku pulang, hari Minggu. 

“Keluarin dulu dari Freezer Ni. Biarin di atas meja 20 menitan. Terus dikukus ya.”

“Semuanya Pak?”

“Dua aja deh. Tiga lagi kembaliin ke kulkas. Yang bawah ya. Jangan Freezer.”

Entah ada angin apa, aku buka kulkas dan tampak seonggok bacang di tempat yang benar. Seonggok. Kok cuma satu?

“Loh kok tinggal satu ya? Dua lagi ilang. Coba Ni bungkusnya tadi mana, jangan-jangan kebuang.”

“Enggak Pak, nih kosong.”

“Loh, kemarin dikirim berapa kamu liat ndak?”

“Enggak pak. Saya langsung masukin kulkas.”

“Waduh. Mestinya 5 nih.”

“… Saya makan dua Pak.”

“Ooh udah kamu makan dua. Lain kali bilang ya Ni, daripada aku protes sama yang jual kan malu. Eh kamu makan yang talinya putih?”

“Iya pak.”

“Sebentar aku cek ke om Penol.”

Ndak lama. 

“Yang kamu makan, babi! Enak kaaan?”

“Astagfirullah pak! Astagfirullah! Kok babi sih pak?”

“Ya aku emang pesen babi sama ayam sih. Aku juga baru tau sekarang ini mana yang babi mana yang ayam.”

Arni menangis. Makin lama makin kenceng. Sesenggukkan. Dia ambil air minum. Lalu masuk ke kamarnya. Ndak keluar lagi sampai Senin pagi. Aku pikir sakit.

Hasil renungannya semalam suntuk berbuah SMS ke Ibuku: Arni minta berhenti kerja. Dia minta pulang ke kampungnya hari itu juga karena dikasih makan babi. Aku ulangi, DIKASIH MAKAN BABI!

Ibuku sontak marah: “Cari pembantu ndak gampang sekarang ini. Itu aja mesti nunggu berapa bulan baru dapet. Udah ada yang mau kerja, mbok ya diawet-awet. Jangan masak yang haram yang ndak sesuai ajaran agamanya.”

“Loh Ma. Aku ndak bisa bikin bacang. Itu mesen. Terus dia makan sendiri. Ndak bilang-bilang. Kebetulan yang dimakan bacang babi.”

“Ya makannya jangan mesen yang babi bawa ke rumah dong!” lalu mamaku ndak mau bantu carikan penjaga rumah lagi. 

Seketika konteksnya berubah. Dari mengambil tanpa ijin, alias mencuri, jadi apa yang dicuri. Lebih absurd lagi, korban pencurian sekarang jadi terpidana.

Dengan analogi yang sama. Kejadian di atas sama dengan: ada seorang maling TV. Pas mau dijual, TV nya rusak. Dia marah sama yang punya TV. Yang punya TV dipenjara karena TV-nya rusak ndak bisa dijual! 

Aku curiga, kalau dibawa ke pengadilan. Jangan-jangan aku yang masuk bui. Bukankah Ahok dan Ariel juga kena perkara yang sama?

Posted in: @linimasa

8 thoughts on “Gara-Gara Bacang Leave a comment

  1. Logika jaman now: defensif dan balik nyalahin orang lain, karena “aku” cuma korban. Temen aku ketinggalan HP di mobil Uber yang dia pesan. MInta ke Uber untuk tracking dan info nomor HP driver dan penumpang setelahnya (karena habis dia turun langsung naik orang baru) gak dikasih sama Uber dengan alasan privacy policy.

    Dua minggu kemudian ada yang kontak temenku katanya dia nemuin HP punya temenku ini, bilang kalo HPnya itu udah di reset dan gak bisa dibuka, lalu minta tebusan 5 juta berikut nomor rekening utk transfer. Temenku bilang memang langsung di blok sehari setelah kehilangan. Balasannya si pengambil adalah marah marah. “Mas, saya udah niat mau ngembaliin ya. Ini kan keteledoran mas sendiri. Saya jual batangan HPnya juga laku kok”.

    Logika macam apa ini? Kok malah maling yang marah marah karena HPnya gak bisa reset dan nyalahin yang kehilangan HP? Minta tebusan pula. Aku yang bacanya ikut gemes setengah mati. Cerita kejujuran supir BB as it used to be udah sangat sangat langka keliatannya. Dunia macam apa ini….

Tinggalkan Balasan