Saya Merasa Bersalah

SEGALA hal yang berlebihan itu tidak baik adanya.

Sesuatu yang sejatinya baik saja akan memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia bila tak segera disadari dan diperbaiki, apalagi yang buruk sejak pertama. Bisa berupa fanatisme dan ekstremisme, hingga memengaruhi tindakan berupa penyalahgunaan, muslihat, serta aksi-aksi lainnya yang sejenis. Termasuk dalam kehidupan berpacaran atau berpasangan.

Saya baru sempat menonton film “Posesif” Senin malam lalu, dan apa yang dilakukan Yudhis kepada Lala mudah banget ditemui di sekeliling kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan kita pernah bertindak serupa tanpa sadar bahwa itu termasuk abusive; bahwa itu termasuk manipulasi perasaan; bahwa itu termasuk kejahatan. Bisa dilakukan oleh si pria maupun sang wanita, tergantung siapa yang arogan, mendominasi, serta demanding.

Refleksi-refleksi terkait itu muncul dalam pikiran. Ingatan tentang hubungan di masa lalu berkelebatan, mengusik dan minta untuk diperhatikan. Dibarengi pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah aku pernah berbuat kasar?”, “Apakah aku pernah menyakiti dia secara fisik?”, “Apakah aku sadar melakukan kekerasan pada saat itu?”, “Pernahkah aku minta maaf?

Jujur, seketika itu juga saya merasa sangat bersalah atas sejumlah kejadian. Salah satunya ialah momen ketika kami sedang bersama. She was just being playful—more like goofing around on me. Berikutnya, apa yang selama ini saya ingat dan anggap biasa-biasa saja, ternyata… agak berbeda.

Yang saya ingat, saya memegang salah satu tangannya supaya ia berhenti. Sudah, begitu saja. Namun justru di Senin malam lalu saya benar-benar sadar. Bukan sekadar memegang, saya hampir mencengkeram keras pergelangan tangannya… dan setelah sekian tahun berlalu, saya baru sepenuhnya menyadari bahwa perlakuan tersebut termasuk kekerasan fisik. Bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.

I do owe her an apologise, a big one… while figuring out the most appropriate way to talk to someone’s girlfriend about our the undisclosed past.

Saya menjadi tidak habis pikir dan tidak bisa membayangkan, jika mencengkeram pergelangan tangan pacar agak keras saja bisa membuat sebegitu merasa bersalah, bagaimana bisa seorang pria menganiaya, menyiksa, bahkan sampai membunuh pasangannya? Seseorang yang semestinya ia sayangi?

Berkaca pada ketidaktahuan dan kebodohan saya seperti di atas, mungkin banget ada bentuk-bentuk tindakan lain yang sebenarnya berbahaya namun kerap kita anggap biasa-biasa saja. Sekali lagi, bisa dilakukan oleh pria maupun wanita; berupa kekerasan fisik maupun deraan emosional (emotional abuse); dan dilakukan dalam ikatan berpacaran maupun setelah menikah.

Langsung dibagi di sini saja ya, contoh peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sekeliling saya. Barangkali tidak seekstrem yang pernah kamu ketahui, atau alami, tetapi tetap saja bisa bikin bergidik. Sebab hampir semuanya berkutat pada kepercayaan dan kesetiaan, yang totaliter dan memperdaya.

Kalau kamu sayang dan percaya sama aku, mestinya enggak ada yang ditutup-tutupi lagi dong.” Bisa dibayangkan, betapa fatal akibat yang dihasilkan dari pernyataan ini.

  • Akun Media Sosial Diambil Alih

Salah seorang kenalan di Samarinda pernah melakukannya. Tak berapa lama setelah jadian, si cowok meminta kredensial akun media sosial pacarnya, supaya bisa dia akses juga. Bukan sekadar pengin lihat. Di tingkat yang lebih ekstrem, akun media sosial sang pacar juga dimonitor, bahkan dioperasikan olehnya. Semua komentar di wall Facebook bisa langsung dihapus, tautan foto bisa langsung dihilangkan, pesan-pesan pribadi yang masuk ke inbox langsung dijawab.

  • Selalu Melapor Dibarengi Foto

Terjadi pada lebih banyak pasangan, tidak cuma di Samarinda. Pada saat seseorang hangout bareng teman-temannya, ia harus selalu standby dengan ponselnya. Menjawab pesan instan dan panggilan telepon yang masuk, mengirimkan foto pada saat itu, atau bahkan melakukan panggilan video. Saking intensifnya sampai-sampai malah menyita konsentrasi dan membuatnya tidak benar-benar hangout bareng teman.

Keadaannya akan sangat berbeda kalau sang pacar mengirimkan foto-foto secara sukarela, berbagi pemandangan dan suasana tanpa diminta. Bukan terasa sebagai kewajiban bawahan pada atasan.

  • Bertukar Ponsel

Saya baru menemukan satu kasus yang seperti ini beberapa tahun lalu, dan itu pun terjadi pada pasangan SMA di Samarinda. Mereka bersepakat untuk saling bertukar ponsel atau kartu SIM selama sehari (entah dari sepulang sekolah hingga saat mereka bertemu lagi di malam hari waktu kencan, atau keesokan harinya). Dalam hal ini, kemungkinan besar hubungan mereka sudah diketahui keluarga masing-masing. Mereka terlihat oke-oke saja dengan ini, just for fun.

  • 1 Ponsel untuk Bersama

Kasus ini, seingat saya, terjadi pada pasangan suami istri. Mereka selalu bersama-sama setiap hari, menghabiskan waktu di toko. Tidak terlalu aktif bergaul alias memiliki kehidupan sosial yang biasa-biasa saja. Bubaran toko, pulang dan istirahat. Ditambah lagi di kota kecil, tempat ngumpul bareng teman relatif terbatas.

Awalnya, sang suami punya ponsel pribadi, tetapi tidak terlalu aktif digunakan. Kebetulan ponsel Symbian masih berjaya kala itu. Kemudian hadirlah BlackBerry, booming sebagai ponsel pintar teranyar. Sang istri mengganti perangkat, menjual ponselnya dan ponsel suaminya.

Pakai satu ini aja. Kalau mau hubungi bisa ke sini, atau ke telepon toko aja.

Biar hemat, mungkin. Mudah-mudahan.

Ketegasan sebagai seorang individu dalam menjalani hubungan asmara berkomitmen tidak sama dengan bersikap dominan, keras, dan mengekang. Semua memiliki kedudukan yang setara, bebas berkomunikasi, bebas berdiskusi, dan bebas menjalani kehidupan pribadi masing-masing. Termasuk bebas mengambil keputusan. Lantaran ini soal kehidupan berpasangan, bukan perbudakan.

Jangan takut untuk berhenti. Sebab perubahan itu ada di luar kuasamu.

[]

6 thoughts on “Saya Merasa Bersalah Leave a comment

    1. Tergantung, Mas. Bagi jomblo yg memang jomblo, pasti melakukan rasionalisasi (meminjam poin pemikiran dari Pidato Kebudayaan teranyar). Sedangkan jomblo yg sudah pernah berpasangan, pasti melakukan refleksi. Hehe.

  1. bahkan rekening bank pun, termasuk internet banking (no PIN) kudu dibagi agar dapat terpantau kemana saja uang keluar dan dari mana saja uang masuk.

Leave a Reply