Seolah Nirupaya adalah Upaya Terbesar Zaman Now

Apa yang menjadikan gue merasa tertarik sama kondisi ekonomi negara ini? Adalah suatu malam menyaksikan interview Sri Mulyani yang pada saat itu menteri keuangan. Mengapa jadi tertarik? Karena Ibu Sri menyampaikan permasalahan dan solusi yang sedang dilakukannya, terdengar mudah dipahami. Seolah effortless atau nirupaya menurut Ivan Lanin.

Apa yang menjadikan gue suka sekali nonton vlog Awkarin yang mendapat hujatan? Besar kemungkinan tanpa disadarinya, Awkarin memberi kesan bahwa membuat vlog itu mudah. Seolah nirupaya. Bahkan di banyak bagian bikin gue pengen mencoba bikin vlog. Walau sudah tau yang namanya bikin vlog bukan perkara mudah.

Mengapa Kim Yuna, sampai sekarang masih dianggap sebagai skater terbaik dunia? Lihatlah bagaimana dia melompat dan menari di atas es. Semua disajikan seolah mudah. Nirupaya. Tanpa beban dan tanpa usaha untuk menunjukkan bahwa dia jagoan. Menjadikan sebuah tontonan yang enak ditonton.

Mengapa Chika Noya menjadi pilihan gue kalau ingin bertanya soal feminis dan pergerakan. Atau Vivi Yip urusan seni. Janti Wignjopranoto dan Avi Mahaningtyas untuk urusan resep makanan dan diet. Mr. X untuk urusan politik negeri. Semua bisa menjelaskan dengan caranya sehingga mudah dicerna dan mereka menjelaskan seolah nirupaya.

Sebaliknya kita sering menemui orang-orang yang menyampaikan segala hal dengan bahasa dan cara yang rumit dipahami. Dengan bahasa yang belibet dan berat atau istilah yang membuat kita harus membuka kamus. Ada dua kemungkinan; pertama karena ingin dianggap lebih tau, lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya. Atau memang tidak memiliki bakat untuk menjangkau. Tak mampu menjelaskan.

Menyajikan berbagai hal terutamanya yang sebenarnya berat menjadi seolah tanpa upaya, sepertinya menjadi koentji utama untuk kids zaman now.

Coba lihat bagaimana kita kesulitan mengajak anak muda untuk tertarik dengan masakan tradisional seperti rendang misalnya. Kemungkinan besar karena rendang selalu disiarkan sebagai makanan dengan proses yang panjang dengan bumbu yang sulit didapat.

Atau bagaimana upaya membuat kids zaman now mencintai batik dan kain nusantara lainnya? Yang lebih sering diangkat adalah proses panjang dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Tentu ini membutuhkan upaya yang besar dan terus menerus. Sementara, kita sedang hidup di zaman perhatian pendek.

Ketika lembaga sosial ingin memasyarakatkan sebuah isu. Jarang yang berhasil mengkomunikasikannya dengan mudah dicerna. Contohnya ya soal reklamasi. Gue sama sekali tak yakin apakah benar semua orang yang pro atau anti reklamasi, paham betul arti reklamasi. Padahal tanpa pemahaman itu, sepertinya sulit membuat kampanye bernafas panjang.

Kecenderungan yang lebih sering terjadi adalah menyajikan segala hal dengan cara “menggampangkan”. Kiat cepat sukses. Cara cepat kaya. Menangkan hatinya dalam seminggu. Dapatkan perut sixpack dalam 3 hari. Atau seminar-seminar berjudul menulis itu mudah. Bikin film itu gampang. OK, memang ini adalah cara untuk menggaet peserta dan pembeli.

Dalam kenyataannya, semua orang yang sudah bergelut lama di sebuah bidang akan lebih paham bahwa yang mudah itu cuma kelihatannya mudah. Ada upaya dan pengorbanan besar dibalik semua yang terlihat mudah. Belum lagi kalau kita bicara bakat, walau ada yang bilang kerja keras mengalahkan bakat saat bakat tak bekerja keras.

Lalu bagaimana cara menyajikan semua terlihat nirupaya sehingga mudah diterima oleh kids zaman now? Ini adalah kerja keras tak berkesudahan. Pembelajaran yang terus menerus. Dan kerendahan hati untuk menyampaikan seolah berbicara untuk anak kecil. “Ah masa gitu aja gak tau?” adalah sebuah pertanyaan keji yang mematikan.

Hampir semua pertanyaan soal bagaimana berkomunikasi #kekinian bisa dijawab dengan: jadikan seolah nirupaya. Mudah dipahami dan dicerna karena relevan. Dan ini jelas bukan upaya mudah karena harus tetap disampaikan dengan benar dan tidak terjerumus jadi menggampangkan.

Almarhumah Yasmin Ahmad pernah berkata, saat beliau sedang tak punya waktu untuk menulis biasanya tulisannya akan menjadi panjang. Sementara saat punya waktu, tulisannya akan menjadi pendek. Loh? Ya karena untuk menjadikan sebuah tulisan yang ringkas dan mudah dipahami apalagi relevan, perlu waktu lebih lama untuk berpikir dan upaya yang lebih besar.

“Kita ingin membuat semua tampak sulit dan rumit dengan harapan untuk dihargai. Sementara mereka membuat semua tampak mudah dan relevan dengan harapan untuk disukai dulu” saat dua film tentang makanan tayang bersama di bioskop.

Baru-baru ini harian nasional menulis headline (gue tak sempat membaca isinya) “Anak Milenial Tak Suka Politik”. Dalam hati gue berkata, jangankan milenial, gue aja gak doyan! Ya iyalah, siapa yang doyan kalau politik selalu dicitrakan sebagai yang rumit dan berbahaya. Hati-hati karena menyangkut kelangsungan hidup orang banyak. Selalu dikaitkan dengan dosa dan pahala. Baru mau mulai aja keburu takut.

Lihatlah bagaimana Ibu dengan susah payah telah mengandung dan membesarkan kita, telah dijejali dari kecil. Responsnya jadi; membalas budi. Bandingkan dengan; Ibu dengan gembira dan sepenuh hati mengandung dan membesarkanmu. Responsnya jadi; membalas hati.

Menghargai batik bukan karena prosesnya yang panjang dan filosofi yang dalam. Mencintai batik karena batik itu keren. Batik itu cool. Cocok untuk segala aktivitas #kekinian dan bikin banyak lope-lope di media sosial. Batik itu relevan. Nanti kalau sudah diterima, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Masak itu tak perlu alat aneh, tak perlu paham segala dan tak perlu lama. Kamu bisa mulai masak dengan apa yang ada di sekitar. Dengan memasak kamu jadi orang yang lebih menarik sehingga banyak yang naksir. Memasak itu relevan. Nanti kalau sudah merasakan faedah memasak, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Seni itu seru. Seni itu bisa jadi bagian dari hidupmu. Seni bisa bikin kamu jadi lebih menarik. Seni milik semua. Seni ada di mana-mana. Seni itu relevan. Nanti kalau sudah menemukan keseruannya, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Yang kita bisa lakukan adalah memberikan rangsangan. Caranya dengan menyajikan semua seolah nirupaya.

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “Seolah Nirupaya adalah Upaya Terbesar Zaman Now Leave a comment

  1. Tp klo konsep nirupaya gt, endingnya gmn ya? Oke, nulis keknya gampang nih, nirupaya! Trus tertarik, trus nyoba nulis, trus ternyata susah, trus bosan, trus ganti minat lain, trus hal yg sama terulang, trus?

Leave a Reply