Panduan Ketika Video Pornomu Tersebar

VIDEO pemersatu bangsa,
dicari orang-orang se-Indonesia.

Beginilah ungkapan seorang teman, merujuk pada dua video erotis kelas amatir yang menghebohkan jagad maya sejak sepekan terakhir.

Yang saya ketahui sejauh ini, video-video tersebut dibuat dan (awalnya) menjadi milik pribadi dua pasangan berbeda. Salah satunya bahkan disebut-sebut merupakan orang Samarinda. 😅 Seperti biasa, pembahasan-pembahasan klise bermunculan kemudian.

  • Dari penelusuran wartawan ke sekolah-sekolah yang diduga menjadi almamater para pemilik rekaman, sampai pelacakan lokasi hotel, waktu kejadian, dan hal-hal lainnya.
  • Kecaman terhadap pola pergaulan masa kini, kepada mereka yang membuat rekaman, dan kepada orang-orang yang menyebarluaskan video tersebut.
  • Spekulasi tentang mengapa video tersebut bisa beredar; apakah revenge porn, ataukah gadget yang diretas atau dicuri. Dibarengi dengan asumsi lazim bahwa pemilik dan penyebar video adalah si laki-laki. Setidaknya dilihat dari gestur dan percakapan dalam adegan, serta stereotip bahwa laki-laki doyan pornografi. 😂
  • Tinjauan psikologis dan psikoseksual atas perilaku merekam adegan persetubuhan diri sendiri. Dikaitkan dengan sikap narsisme seksual, kegemaran seksual tertentu atau fetish untuk mendapatkan dorongan seksual dari melihat rekaman persenggamaan diri sendiri, sekadar spontan dan memang kinky, atau iseng dijadikan kenang-kenangan/koleksi belaka.
  • Imbauan untuk berhenti menghakimi, tidak merisak atau mem-bully orang-orang yang terlibat dalam rekaman, serta mendorong korban untuk tetap kuat dan berani mencari bantuan dari lembaga-lembaga terkait. Semisal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau yang di daerah, Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, aparatur hukum, dan sebagainya.
  • Sampai munculnya kembali seruan untuk jangan telanjang di depan kamera, atau menjauhi seks di luar nikah sekalian. Ditujukan terutama untuk para perempuan sebagai korban dengan kerugian yang lebih besar dibanding laki-laki (guncangan batin, kehamilan yang tidak diinginkan, rasa malu yang berlebihan dan destruktif, depresi dan tertekan, serta lain sebagainya).

Saat ngobrolin tentang video erotis pribadi (non komersial, bukan sengaja diproduksi untuk diperjualbelikan), pasti selalu berhadapan dengan konsep-konsep etis dan kesusilaan, moralitas, privasi individual yang terbatas, serta implikasi hukum pra maupun pasca dibuatnya rekaman tersebut. Setiap orang tentu punya pendapat berbeda-beda.

Untuk itu, silakan jawab beberapa pertanyaan berikut. Semacam tes modulasi sebelum obrolannya berlanjut. Ya monggo juga kalau jawabannya bersedia dibagi di kolom komentar.

  • Apa pandanganmu tentang berahi atau syahwat?
  • Bolehkah seseorang merekam dirinya sendiri saat bersenggama? Jika boleh, apa alasannya?
  • Jika tidak boleh, apakah merekam diri sendiri saat bersenggama adalah perbuatan yang salah? Apa alasannya?
  • Bagaimana jika persenggamaan dan perekaman adegan tersebut dilakukan oleh pasangan suami istri? Apakah perbuatan yang salah?
  • Kepada siapa kondisi “salah” ini berdampak? Diri sendiri (pemilik rekaman), keluarga, masyarakat di lingkungan sehari-hari, masyarakat luas, agama dan tuhan, atau semuanya? Apa alasannya sampai bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang “salah”?
  • Menurutmu, siapakah yang berinisiatif merekam persenggamaan tersebut? Laki-laki atau perempuan?
  • Menurutmu, adakah kemungkinan video tersebut juga disimpan, atau bahkan disebarluaskan oleh si perempuan? Apa alasannya?
  • Setuju/tidak setujukah kamu, dalam konteks “salah” berarti terlarang dan “benar” berarti harus dilakukan, kondisi yang “tidak salah” itu bukan berarti “benar”? Jangan salah paham lho, saya tidak mengajurkan apa pun di sini. 😝 Melainkan tetap tenang, berpikir jernih, dan selalu siap menghadapi kenyataan.

Bagi saya, siapa pun orangnya, kesalahan terbesar dilakukan oleh si penyebar. Bukan hanya melanggar privasi (sama saja dengan merampok), tetapi juga mengkondisikan terbentuknya kekeliruan pemahaman seksual pada generasi muda, serta mendorong banyak orang untuk mendiskreditkan tokoh dalam video. Lagi-lagi, terutama si perempuan.

Berapa banyak laki-laki yang membayangkan dirinya ada dalam video tersebut menjadi partner seksual sang perempuan? Ditambah berapa banyak laki-laki yang beranggapan bahwa perempuan di video tersebut bisa diajak tidur sembarangan? Sekilas, fantasi seksual tidak jauh berbeda dengan pelecehan seksual dalam pikiran. Buktinya, sekejap berselang setelah video erotis itu tersebar, banyak beredar cuplikan pesan pribadi tak senonoh dari laki-laki yang ditujukan ke akun Instagram sang perempuan. Terlepas dari apakah akun itu benar-benar milik ybs atau bukan.

Dari cuplikan video, dijadikan meme. Warganet Indonesia memang kreatif.

Dalam hal ini, saya percaya, perempuan dewasa (berkeadaan legal) berhak memutuskan ingin bersetubuh/tidak ingin bersetubuh dengan siapa, dan seperti apa. Consent itu pula yang menentukan apakah sebuah keadaan seksual bisa disebut senonoh atau tidak senonoh.

Analoginya begini, meski suami istri, bersenggama di ruang tamu rumah orang lain, apalagi yang tak dikenal, dapat dikategorikan sebagai tindakan tidak senonoh, mengganggu ketertiban umum, serta melanggar pidana asusila.

Lain halnya jika persenggamaan dilakukan di ruang tamu rumah sendiri. Kata orang, mau sampai salto-kayang-jungkir balik atau lodoh sekalipun, ya tetap senonoh-senonoh saja selama dilakukan dalam lingkup tertutup dan di luar pemaksaan. Toh, dilakukan pada pasangan sendiri. Berteriak, mendesah, melenguh, dan suara-suara lainnya bisa bebas dikeluarkan, minimal tidak gaduh atau mengganggu orang lain.

Lalu, kembali ke pembahasan sesuai judul, bagaimana menyikapi keadaan ketika video erotismu tersebar? Yang pasti, begitu kamu dan pasanganmu sama-sama setuju untuk merekamnya, insiden ini adalah salah satu risiko konsekuensi terburuk yang dapat terjadi. Penyesalan mati-matian tetap tak akan mengubah keadaan. Telanjur, dan harus siap-siap terganggu oleh cibiran orang.

Kalau kamu sudah menikah, dan video itu kamu buat bersama pasanganmu dalam keadaan sadar, kamu juga bermental kuat dan sanggup tidak baper berlebihan, serta dikelilingi kolega/atasan/bawahan yang suportif (menyangkut karier, pekerjaan, dan penghasilan), mending kamu bawa santai saja kejadian ini. Life goes on, hidup terus berjalan.

Lebih baik fokus dan mencurahkan tenaga untuk memproses hukum si penyebar. Saya yakin sikap ini jauh lebih bermanfaat dalam pemulihan, ketimbang terlampau malu pada lingkungan. Saya juga yakin sikap percaya diri seperti ini bisa berdampak positif pada self-esteem, dan tidak mengubahmu seketika menjadi seorang ekshibisionis, hiperseksual, maupun lacur, tak peduli seberapa banyak dan keras omongan orang yang dicecarkan kepadamu.

Kalaupun kamu (laki-laki/perempuan) disebut liar dan binal, lah kenapa memangnya? Kamu telah berlaku liar dan binal kepada pasangan sahmu sendiri secara tertutup kok, menjadikan kehidupan asmara kalian terlihat begitu menyenangkan. Hanya kebetulan lagi apes saja, gara-gara ada kampret yang menyebarkan bukti kemesraan kalian. Bukan mustahil, orang-orang yang menghujat paling nyaring sebenarnya iri, dan kepengin juga bisa seperti itu dengan pasangannya masing-masing.

Singkatnya, daripada kelimpungan, sibuk bersembunyi, lari dari kenyataan, dan terus menerus menyangkal keras tudingan orang-orang, yaudasik, diiyain aja.

Apakah benar orang yang ada dalam video porno tersebut adalah Anda?
Iya. Itu saya kok.
Kenapa dibikin video?
Biar makin mesra sama pasangan
Oh, begitu.

Ya pada intinya, saran di atas memang easier said than done, tapi kamu bisa segera meneruskan kehidupan setelahnya. Malah bisa naik level, dari orang biasa, menjadi hot husband dan hot wife, yang dibuktikan lewat rekaman. Jika merasa bodi kurang oke, pasti muncul motivasi untuk makin rajin berolahraga dan menjaga pola makan. Iya! Sampai segitunya. Asal hati-hati, jangan sampai berhasil digoda untuk bikin video serupa dengan orang lain. Mentang-mentang sudah berhasil membuat banyak orang penasaran. 😅

SEX TAPE!

Terus, bagaimana jika si empunya video belum menikah, masih pacaran, atau cuma one night stand?

Saya sotoy banget sih ini, tapi sepertinya bakal jauh lebih tricky.

Ada dua hal paling mendasar. Pertama, apabila kamu dan/atau pasanganmu masih di bawah umur, maka persetubuhan sekaligus perekaman video yang kalian lakukan langsung bersinggungan dengan hukum pidana. Biasanya, si laki-laki dijadikan tersangka, orang tua/keluarga perempuan sebagai pelapor, tak peduli suka sama suka. Jadi, JANGAN!

Kedua, khusus untuk yang sudah berusia dewasa. Since you are the only rightful person upon yourself, kamu berhak mengatakan tidak dan menolak apa saja. Apalagi kalau kamu belum bisa sepenuhnya percaya kepada partnermu itu. Stay alert! Ini berlaku baik untuk laki-laki atau perempuan, walau stigmanya laki-laki mah hayuk-hayuk aja saat diajak bobo bareng… dan masih banyak kejadian, para laki-laki menggunakan tipu daya. Misalnya: hubungan seksual dijadikan sebagai pembuktian rasa cinta, atau “kan aku pasti nikahin kamu sebentar lagi.

Secara logis, selalu ada tiga fase.

Sebelum membuat video

Pada fase ini, lakukanlah semua upaya dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kejelasan. Pahami benar-benar apa yang akan kalian lakukan, termasuk segala risikonya. Salah satu caranya ialah bertanyalah kepada diri sendiri dan pasangan, sebab kedudukan kalian setara;

“Kenapa harus direkam? Buat apa?”
“Kalau ini adalah keinginan si cowok, kenapa harus aku turuti? Kalau tidak dituruti, kenapa?”
“Setelah direkam, mau diapakan videonya? Ditonton bareng lalu dihapus, atau disimpan?”
“Disimpan di ponselnya siapa? Kenapa?”
“Apakah aku nyaman dengan perekaman ini, merasa risi, atau malah penasaran?”
“Bagaimana kalau video ini nanti tersebar?” (Jawabannya bukan: “Ya jangan sampai tersebar dong”)

Beberapa contoh pertanyaan di atas memang bakal bikin suasana drop saat sedang horny. Namanya juga mekanisme pengamanan, supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Minimal menghasilkan kesepakatan dan keputusan bersama. Kecuali kalau sudah yakin benar ingin merekam aktivitas peraduan, kamu tidak akan mencapai fase berikutnya.

Saat membuat video

Semua orang bisa berubah pikiran kapan saja, termasuk dalam momen ini. Sibuk mengurusi kamera ponsel, atau riweuh megangin gadget bikin permainan terasa kurang menyenangkan. Kali aja

Apabila perekaman tetap berlanjut, jangan abai dengan sudut pandang pengambilan gambar. Rentan. Dari sex tapes yang pernah saya lihat selama ini, hampir semuanya lebih mengekspose wajah dan tubuh sang perempuan. Dengan demikian, identitasnya lebih mudah dikenali (untuk kemudian dihujat dan dipermalukan masyarakat) lebih dahulu dibanding si laki-laki. Sangat tidak adil, tatkala hampir semua lekuk dan ceruk tubuh perempuan ditampilkan, sementara satu-satunya bagian tubuh utama laki-laki yang ditunjukkan hanyalah pelirnya. Ibarat kata, saat sang perempuan sudah tercyduk dan dihakimi massa, si laki-laki masih punya kesempatan untuk melarikan diri.

Setelah membuat video

Dorongan syahwat sudah dituntaskan, rekaman pun sudah dihasilkan. Kembali mengacu ke salah satu pertanyaan di fase pertama, rekaman itu mau diapakan?

Orang-orang yang terlibat dalam video pasti penasaran, dan ingin menontonnya kembali. Nah, berhubung video ini menampilkan dua orang, lebih baik ditonton bersama. Semacam nobar berdua lah. Justru sangat bermasalah jika merasa tidak nyaman menyaksikannya bareng seseorang yang juga ada di dalamnya. Karena itu berarti video tersebut tak seharusnya dibuat.

Idealnya, manfaatkan waktu nobar ini untuk memperkuat dan meningkatkan keintiman bersama pasangan. Bisa juga dijadikan referensi supaya meningkatkan kehidupan seksual ke depannya.

Akan sedikit berbeda ceritanya, bila lebih terfokus pada tampilan fisik dalam rekaman tersebut.

Iiih… Perutku buncit di situ. Jelek ah! Hapus!
“Mulut monyong-monyong kayak ikan mas koki. Hapus!”
Itu bulu ketiak kelupaan dicukur, gondrong banget. Hapus!
Ya ampuuun, pantatku kok tipis banget ya? Hapus ah!
Astaga, ekspresi mukaku kayak lagi mabuk tuak. Hapus dong.

Dalam setiap foto dan video, setiap orang cenderung lebih memerhatikan dirinya sendiri. Terlebih di era selfie dan wefie seperti sekarang. Perasaan malu akibat bentuk tubuh yang dianggap kurang bagus, berpotensi kuat mengarahkan tindakan seseorang. Termasuk menghapus video erotis pribadi yang sudah dibuat. Lagi-lagi, mekanisme pengamanan. Begitu video hilang, peluang untuk disebarluaskan pun jauh berkurang, hampir nihil. Lebih aman.

Andaikan videonya tetap bocor juga, yaudasik, diiyain aja.

[]

Karena menulis ini, mendadak penasaran. Apa kabarnya ya, mas dan mbak dari video “Bandung Lautan Asmara” beberapa tahun lalu? Boleh dibilang mereka adalah penyintas atau survivor dari hujatan sosial massal waktu itu. Pengin ngobrol tentang bagaimana cara mereka menghadapi dan menjalani masa-masa tidak menyenangkan tersebut. Siapa tahu bermanfaat bagi para korban penyebaran video erotis pribadi lainnya.

11 thoughts on “Panduan Ketika Video Pornomu Tersebar Leave a comment

  1. surveynya kudunya dinomerin kak, biar gampang jawabnya, hahaha

    – wajar ah, biasa2 aja, sama kayak pandangan gw ttg makanan. you eat for life not life for eat.

    – boleh2 aja, itu kan hak asasi, as long as they keep it for themself

    – **

    – sama kayak 2 jawaban sebelumnya.

    – yg berinisiatif?? bisa siapa aja, ga mesti yg cowo. cewe juga bisa koq jd inisiator.

    – mungkin aja, di dunia jaman now, apa yg ga mungkin. alasannya macam2, bisa ga sengaja (karena gaptek), karena terlalu narsis atw cuman cari sensasi aja.

    – ENGGA SETUJU, karena dunia ini penuh warna jadi ga semua hal bisa dilihat hanya hitam dan putih.

  2. Terkadang pihak laki-laki yang disalahkan dengan alasan revenge porn. Alasan yang paling masuk akal. Padahal secara tidak langsung muka dia juga ikut tersebar. Tapi lagi-lagi dalam kebanyakan video porno subjeknya selalu perempuan. Karena penikmatnya kebanyakan laki-laki(?). Dan ketika video tersebar tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pelaku. Apalagi di era internet sekarang ini. Bikin video porno ya harus siap tersebar videonya. Kalau tidak siap ya tidak usah bikin. Bukan membela penyebar tapi itu memang konsekuensi. Terlepas penyebar yang iseng unggah ke situs porno.

    Just my two cents. :”)

    1. Betul, Kang. Bukan terkadang, tapi setiap waktu. Cuma, seperti beberapa poin di atas, proporsi tampilan wajah si cewek lebih banyak dibanding si cowok. Perkara siap tidak siap memang kembali kepada para pemerannya (sekaligus pemiliknya). Masalahnya tetap ada di penyebar, apa hak mereka turut menyebarluaskan? Akan berbeda implikasinya kalau setelah didapat, ditonton sendiri, lalu dihapus atau disimpan tanpa diunggah ke laman publik lainnya.

Leave a Reply