Mana Sampah, Mana Berlian

Aku berdiri di tepian. Menunggu awal yang baru. Ndak mampu menengok ke bawah. Ndak mau liat ke belakang. Tapi untuk maju, aku harus tau. 

Berat sekali kaki ini. Sekejap jadi pengecut. Jutaan suara menjerit-jerit di kepala. Ribuan bisikkan jadi bentakkan. Kenapa ndak sekarang? Apa bedanya dengan besok? Lusa? Kapan? Menerror tiap sunyi turun dari puncak gunung ragu-ragu yang dingin abu-abu.

Aku yakin, aku akan menyerah. Tinggal satu langkah lagi untuk pergi gitu aja. Persetan lah! Sampai…

Kehilangan mengajarkanku banyak hal. Satu di antaranya: Katakan! Ndak ada yang salah. Akibatnya juga gampang ditebak, bukan? 

Maka, aku kumpulkan semua beban. Menimbangnya sampai puluhan malam. Menyaring dari yang sekedar monyet-monyetan, selangkangan, atau kekonyolan lain yang kadung terjadi. 

Rupanya ada tiga orang yang ndak tau. Atau tau, tapi diam. Yang jelas, mereka berhak tau. Kalau aku mencintai mereka. 

Kuhampiri yang satu. Setelah satu dekade. Jatuh sama-sama. Bangun sama-sama. Mereka bilang aku gila. Udah lah, tinggalin aja. Setia ndak berbalas apa-apa. Percuma. Nyatanya, aku masih di sini. Tak pikir pantang menyerah. Ternyata, aku mencintaimu. Senyumnya merekah. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Kucari kontak yang kedua. Sewindu ndak saling sapa. Entah kenapa. Aku yang pergi waktu itu. Aku biarkan dia punya kekasih. Bertukar kabar lewat sosial media. Menikah. Berkeluarga. Pikirku soal harga diri. Ternyata, aku mencintaimu. Terima kasih katanya. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Yang ketiga, pulangnya sore terus. Basket lah. Kerja kelompok. Latian drama. Mulai susah dijemput. Aku nanti diantar Kirana, katanya. Belajarnya pakai YouTube. Om Gendut ketinggalan jaman. Persamaan Trigonometri, dunia prokaryota dan agama ndak lagi bisa kami bahas. Aku udah lupa semua. Apalagi bahasa Jepang. Pikirku ndak bisa. Taunya, aku cinta. Aku juga om. Aku selalu tau. 

Selama kita diciptakan lengkap dengan perasaan, kadang beberapa diantaranya jadi beban. Mengendap. Berkerak puluhan taun. Mengotori pikiran. Kecuali, kita membaginya sama rata. Aku tau. Dia tau. 

Kalau akhirnya mereka pergi karena aku cinta. Jadinya terang-benderang: mana sampah, mana berlian

Posted in: @linimasa

5 thoughts on “Mana Sampah, Mana Berlian Leave a comment

  1. Ini alasanku dari dulu selalu jujur soal perasaan. Karena memelihara kerak itu lelah, kepotek sedikit aja perih, dilupakan juga ndak bisa karena dia ada dan nyata di situ. Mau jadi apa setelah bilang, ya itu urusan belakang. Bukannya masalah jadi hilang, setidaknya udah naik pangkatlah. Bukan lagi soal mengharap mereka tau.

Leave a Reply