Tidak Usah Punya Anak Deh!

DI JALAN Kelinci, Pasar Baru, tak jauh dari tempat indekos, ada salah seorang tukang parkir yang biasanya berjaga di depan restoran Bakmi Gang Kelinci. Setiap malam, setelah restoran tutup, dia tampaknya tidak pulang ke mana-mana. Bersama seorang wanita yang saya asumsikan ialah pasangannya, mereka menggelar tikar, bantal, dan guling di emperan ruko seberang restoran.

Sekilas, pemandangan ini terasa biasa saja untuk penghuni Jakarta. Termasuk saya. Hingga pada suatu malam saya baru menyadari ada balita tidur di situ selama ini. Terlelap begitu saja, terbuka dan bahkan tidak berselimutkan apa-apa, sementara kedua orang tuanya (lagi-lagi saya berasumsi) sedang asyik mengobrol tentang masalah mereka.

Apakah saya salah, marah kepada kedua orang dewasa itu?
Apakah saya pantas, menyebut mereka bodoh?
Alih-alih merasa marah dan menyebut mereka bodoh, apakah saya berhak langsung melaporkan hal ini ke Dinas Sosial setempat agar perawatan si anak diambil alih pemerintah?
Apa yang sebaiknya harus saya lakukan, ketika memberi uang kepada orang tua balita tersebut sama saja dengan sebuah kesia-siaan, apalagi memberi nasihat?

Mari kita benturkan antara hak asasi manusia, filosofi etis dan sosial, agama, serta emosional.

Beberapa hari lalu, seorang teman menulis begini di akun Path-nya:

“Human rights conundrum: do you prohibit somebody from having a child when you know the baby won’t be fed and raised properly, or do you let them be because it is a god-given right to bear children?”

Dari pertanyaan ini, tanggapannya pasti terbagi dua. Mereka yang berpikir rasional, menjalani gaya hidup modern, bertumpu pada logika dalam memutuskan segala sesuatu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal tanpa batasan suku, ras, maupun agama akan lebih condong pada poin pertama.

Dalam hemat mereka, kemandirian, kemampuan mengatur hidup, dan kemapanan (dalam artian settled, bukan kaya raya) merupakan syarat mutlak sebelum memiliki anak. Sederhananya, bagaimana bisa seseorang menjamin kelangsungan dan kesejahteraan hidup orang lain, jika kehidupannya sendiri masih morat-marit. Sesuatu yang sudah dipikirkan, direncanakan, dan diperhitungkan sedemikian rupa bisa berakhir dengan kemalangan, apalagi yang dibiarkan begitu saja?

Tidak hanya itu, bahkan keputusan untuk menikah pun mereka pertimbangkan dan diskusikan matang-matang. Saking “matangnya” sampai kadang-kadang menjadi tarik ulur dalam waktu yang cukup lama.

Kelompok konservatif dan orang-orang yang ingin sekali disebut saleh oleh sesamanya akan memilih poin kedua. Sebab kuasa tuhan tiada berbatas, dan manusia adalah sedungu-dungunya makhluk yang ingin tahu semua rencana besarnya, sekaligus selemah-lemahnya makhluk tanpa rahmat serta pertolongan darinya. Jadi, percayakanlah segalanya kepada tuhan. Ia yang memberi sang jabang bayi, ia pulalah yang akan membuka dan mencurahkan rezeki.

Mereka sungguh-sungguh percaya pada prinsip ini. Tak hanya dalam perkara memiliki dan membesarkan anak, namun semua yang terjadi dalam kehidupan mereka. Dipasrahkan total. Apabila terjadi kemalangan, itu pun bagian dari rencana yang mahakuasa. Bisa berupa teguran atau peringatan, bisa pula berupa ujian yang nantinya bakal diganjar dengan berkah, hikmah, atau pun rezeki pengganti yang lebih berlimpah.

Sekarang, manakah yang lebih baik di antara keduanya?

Untuk pemilih poin pertama.
Tidak ada yang salah dengan bersikap rasional dan realistis. Kemampuan berpikir secara menyeluruh dapat mempersiapkan seseorang menghadapi beragam kemungkinan, yang baik maupun buruk. Meminimalisasi keterkejutan, menekan kepanikan, tidak sampai gelagapan. Baru akan menjadi sangat salah jika ditambahi dengan sikap angkuh, merasa yang paling benar, dan merendahkan orang lain yang pendapatnya berseberangan. Siapa tahu orang yang mereka hina dan rendahkan ternyata memang dikasihi tuhan, malah jadi lebih mulia di masa depan.

Tak mudah bagi seseorang yang benar-benar bijak untuk menyebut orang lain bodoh. Bukan hanya lantaran tidak sopan dan tidak sepatutnya diucapkan, melainkan karena menyadari bahwa ketidaktahuan dan perbedaan pemahaman alamiah adanya. Mereka merasa tak perlu jorjoran membuktikan diri sebagai yang benar, bila tujuannya hanya untuk menjatuhkan orang lain. Tidak ada gunanya.

Dalam kasus si tukang parkir di atas, saya tentu bukan seseorang yang bijak. Peduli setan dengan kedua orang tuanya, yang penting si bocah itu tidak tersia-siakan. Melihat mereka membiarkan balitanya tidur begitu saja, ingin rasanya berkata kasar tetapi tak tahu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Mengadopsi dan merawat si bocah? Ya ogahlah. Saya belum sebaik hati, sekaya raya, dan seleluasa itu untuk menanggung hidup orang lain selain keluarga sendiri. Serbasalah, kan?

Membingungkan.

Foto ini diambil Minggu dini hari lalu (sekitar pukul 01.00 Wib), dalam perjalanan pulang tepat setelah menyelesaikan tulisan ini. Tidak lama setelah foto diambil, bocah yang kiri langsung marah-marah. “Apa lu, foto-foto!” Sambil mengacungkan kemoceng. Mereka tidak dilahirkan untuk dibesarkan sembarangan, dan dibiarkan berkeliaran di jalanan, kan?

Untuk pemilih poin kedua.
Tidak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang sangat religius. Hanya saja, jangan lupa bahwa tuhan juga menganugerahkan akal, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan untuk mengendalikan diri yang menempatkan manusia menjadi makhluk mulia. Merupakan hak asasi setiap orang untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu, akan tetapi fanatisme menjadikan keduanya berbahaya. Ya! Fanatik percaya dan fanatik tidak percaya mustahil dipisahkan. Ketika seseorang mempercayai sesuatu (misalnya: A) secara membuta, maka ia pasti menolak lawan dari sesuatu (-A) itu juga secara membuta.

Fanatisme berkerabat erat dengan ketertutupan dan penolakan atas semua masukan dari luar lingkaran. Sebab tidak mungkin ada sumber kebenaran lain, selain yang sudah dipercaya selama ini. Jangankan memperluas wawasan dan pemahaman, informasi yang datang saja ditepis mentah-mentah. Dampak dari fanatisme pun menjadi jauh lebih hebat ketika dipadukan dengan keterbatasan pemahaman.

Dalam kasus si tukang parkir di atas, tuhan yang mahabaik dan penuh kasih tidak mungkin mempersiapkan rencana celaka bagi si balita. Tetapi tetap saja, manusia (baca: orang tuanya) harus mengusahakannya. Dengan menidurkan si balita di emperan toko tanpa pelindung dan selimut, ada kemungkinan besar bocah tersebut bisa terserang flu, terkena Pneumonia atau paru-paru basah, mengalami Malaria atau Demam Berdarah Dengue. Minimal bentol-bentol kemerahan dan alami gatal-gatal. Mau menyalahkan siapa? Apakah tuhan? Yang membiarkan semua itu terjadi meskipun si manusia sangat taat dan berbakti?

Jangankan si bocah anak tukang parkir tadi, apa kabar anak-anak yang terserang penyakit gara-gara tidak diimunisasi oleh orang tuanya? Mereka, para anak-anak yang semestinya masih suci tanpa dosa itu, malah dengan sengaja didekatkan kepada risiko yang mengancam keselamatan jiwa. Mereka, para anak-anak itu, tidak minta dibegitukan. Lagipula mereka, para anak-anak itu, jelas tidak memiliki derajat keimanan setinggi anak-anak Ibrahim (dipercaya terjadi pada Ismail dalam tradisi Islam, atau pada Ishak dalam tradisi Kristen dan Yahudi) dari kisah perintah penyembelihan. Jadi sepatutnya memang tidak dibegitukan.

Dari dua pernyataan di bawah ini, silakan pilih kalimat pelengkapnya.

Anakmu bukanlah milikmu, melainkan titipan tuhan…
> Rawatlah dia dengan baik, atau
> Percayakanlah dia sepenuhnya kepada tuhan.

Anakmu bukanlah milikmu, ia nantinya akan menjadi seorang manusia dewasa lainnya…
> Persiapkanlah dia dengan baik, atau
> Biarkan dia tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Tidak seharusnya keimanan selalu bertentangan dengan rasionalitas. Biarlah mana yang benar dan salah tetap menjadi hak prerogatifnya tuhan sesuai dengan yang dipercayai selama ini. Alangkah kurang elok menyodorkan label ketakwaan pribadi ke muka orang lain, sambil meneriakkan dengan lantang: “Kamu pasti masuk neraka! Enggak seperti aku, yang pasti masuk surga!” Siapa sih yang tahu tuhan punya mau?

Begitu pun sebaliknya, tidak sepantasnya orang-orang rasional terlampau membanggakan diri sebagai manusia pintar terpelajar yang lebih mulia dibanding para konservatif. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Makin tinggi pohonnya, makin sakit jatuhnya. Apabila memang benar-benar berilmu, sudah pasti sangat paham dan mengerti bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang. Tak ada yang bisa disebut kebenaran mutlak, sebab revisi dan koreksi bisa terus terjadi.

Pada kasus imunisasi, ada saja kaum rasionalis yang bisa berceletuk kejam seperti ini: “Tuh, kan! Sok-sokan menolak imunisasi anak. Akhirnya kena batunya.” Komentar semacam ini boleh saja dihasilkan dari perasaan jengkel melihat kedunguan sejumlah orang. Namun apa pun itu, sungguh tidak pantas meng-endorse dan mendukung kemalangan orang lain. Terlepas dari siapa pun itu. Termasuk dengan menyebut “syukurin!

Bisakah kita melarang orang lain memiliki anak, karena belum mampu menjadi orang tua yang baik?
Bisakah kita membiarkan orang lain memiliki anak meskipun mereka belum mampu menjadi orang tua yang baik, karena ini adalah urusan orang tersebut dengan tuhan?
Bisakah kita memaksa orang lain agar mau memiliki anak, karena itu yang lazimnya terjadi di masyarakat?

Pastinya, tanpa rasa simpati terhadap sesama manusia, kedua pendapat di atas sama saja. Sama-sama egois, sama-sama berpotensi terpatahkan, sama-sama tidak berujung pada kebaikan.

[]

Advertisements

10 thoughts on “Tidak Usah Punya Anak Deh!

  1. OMG Gon, ini selalu terlintas di kepala gue setiap kali melihat pasangan suami istri yang menarik gerobak sampah dengan anak di bawah usia 10 tahun di dalam gerobaknya. Enggak satu loh, seringnya aku lihat dua, atau tiga. Atau berita-berita seperti bayi yang dibuang di tempat sampah yang membuat aku bisa menangis darah berjam-jam. I know sometimes other choice seems impossible for a mother to be, or for a married couple. Tapi mbok yao. Enggak tau lagi sih harus komen apa, apalagi dengan semakin banyak yang koar koar anti kontrasepsi dan aborsi. Sebenernya akhirnya masing masing harus berpikir lagi; mana yang lebih manusiawi?

    • Betul, Mbak. Suka kasihan sekaligus geregetan dengan pemandangan begitu. Okelah mereka terlihat bahagia, tetap bisa tertawa, dll. Cuma… apa iya semua kebutuhan dasar si anak-anak terpenuhi?

      Dibilang meragukan kekuasaan tuhan lah, dsb, tetapi pada kenyataannya nasib para bocah itu terkatung-katung.

  2. selain itu juga, orang tua mesti siap secara batin for simply love their children, membesarkan anak bukan perkara transaksi atau investasi. the most matters are. gmana menunjukkan jalan yang tepat tanpa memaksakan kehendak, memberi pilihan dengan ikhlas sambil berharap jalan yg akhirnya dipilih adalah jalan yang memang terbaik (buat anaknya yah, bukan buat orang tuanya) dan akhirnya menjadi orang tua bukan hanya sekedar mengasuh, ngasih makan, ngasih tempat berlindung, menjadi orang tua. at the end adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk berbesar hati ketika si anak pelan2 sudah mulai melepaskan genggaman tangannya dan memilih berjalan sendiri.

    but heeeyyyyy,tapi ku tau apa sih, anaknya loh juga cuman 1. ini sekedar curcol aja sih.

    and you, once again made me having a deep thought over my wednesday breakfast. nice gon.

    • Terima kasih juga, sudah membaca dan berbagi cerita. Btw, mau anaknya satu, dua, empat, atau lebih, ya tetap saja enggak bisa dibandingkan. Soalnya kalau semuanya pakai perbandingan-perbandingan begitu, berarti saya enggak punya hak untuk menulis artikel di atas karena belum punya anak. 😅😅😅

Leave a Reply