Ketika Awet Tak Lagi Relevan

Sepasang sepatu Doc Mart menarik perhatian saya. Selain mengingatkan saya pada masa SMA, saat semua orang berburu sepatu model boot dengan sol tebal anti kepleset ini. Mendapatkannya di Jakarta saat itu bukan perkara mudah. Tapi sekarang toko sepatu khusus sepatu era skinhead ini sudah hadir di mall. Sepertinya lumayan banyak peminatnya walau bisa dibilang harganya lumayan.

“DocMart gue waktu SMA sampe sekarang masih ada loh, lagi dipake anak gue” kata teman saya. “Wah udah 30 tahunan dong” sahut saya. Kemudian pikiran saya melayang. Di usia yang lewat 40 tahun ini, apakah sepatu dengan janji awet dan tahan lama masih relevan? Sepatu ini akan bertahan sampai saya berumur 70-80 tahun. Di usia segitu, mungkin saya tak kuat lagi berjalan jauh apalagi mengenakan DocMart yang bisa dibilang berat.

Pikiran saya melayang mundur ketika masih kecil. Ibu saya sering menjiplak kaki saya di atas kertas kalau mau titip beli sepatu dengan pesan “beli satu dua ukuran lebih besar biar bisa dipakai lebih lama”. Jadilah saya mengenakan sepatu yang lebih besar seperti donald bebek.

Setelah ukuran kaki saya kayaknya tidak akan bertambah besar lagi, sepatu diusahakan terbuat dari kulit karena dinilai lebih awet. Seriring bertambahnya kebutuhan, ada sepatu buat jalan, kerja, dan olahraga. Pertimbangan tahan lama menjadi yang utama. Supaya gak usah beli-beli terus.

Nyatanya? Tidak juga. Sepatu kulit satu belum rusak sudah mau beli sepatu kulit yang lain. Punya yang warna hitam, tapi perlu yang cokelat juga. Setelah yang cokelat, ternyata disainnya sudah ketinggalan zaman jadi perlu disain baru lagi. Istilah “beli desain yang klasik” sepertinya kurang ampuh. Atau ada saja keperluan mendadak untuk membeli sepatu kulit lagi. Atau ada diskon yang sayang kalau dilewatkan.

Semakin bertambah usia, ternyata saya lebih cocok mengenakan sepatu model slip-on atau bertali sehingga kaki saya terasa lebih longgar. Saya merasa kurang cocok kalo kaki harus tertutup seharian. Dan kesenangan untuk berjalan kaki membuat saya mencari sepatu yang lebih ke nyaman ketimbang gaya.

Sepatu DocMart tak jadi saya beli. Balik rumah, saya membongkar lemari sepatu saya. Jumlahnya ada sekitar belasan. Lumayan. Berbagai jenis sepatu sudah saya miliki. Ada yang tak lagi layak pakai, tapi masih saya simpan karena saya suka modelnya. Ada pula yang salah beli, setelah dibeli dan dipakai ternyata tak nyaman. Atau sepatu-sepatu acara khusus yang memang jarang dipakai. Ada pula sepatu-sepatu pemberian orang. Dan ujung-ujungnya sebenarnya saya mengenakan sepatu yang itu-itu juga.

Lama saya menatap sepatu-sepatu itu dengan sebuah pertanyaan, apakah kata “awet” untuk pakaian dan sepatu masih ada gunanya untuk saya? Buat apa baju tahan lama, toh sebentar-sebentar ada saja alasan membeli yang baru. Jam tangan? Ujung-ujungnya saya hanya memakai satu saja. Yang lain, keburu habis battery dan saya enggan untuk ganti battery. Tas? Well, ada 3-4 jenis tas yang saya pakai dan sudah cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan saya. Ikat pinggang? Segunung ikat pinggang masih rapi di lemari karena sangat amat jarang saya pakai. Jeans? Percaya atau tidak, celana yang ada masanya menjadi celana setiap hari, sudah 3-5 tahun belakangan ini saya rasakan tak lagi relevan untuk dipakai di negara tropis.

Ada banyak barang-barang awet di lemari yang sebenarnya bisa dibilang seandainya saya menyadari ini dari dulu, saya tak akan beli dengan harga lebih tinggi. Untuk apa awet kalau jarang dipakai. Untuk apa awet kalau tak lagi sesuai zaman. Untuk apa awet kalau tak lagi relevan. Untuk apa panjang umur kalau tak hidup.

Advertisements

5 thoughts on “Ketika Awet Tak Lagi Relevan

  1. Apalagi barang yang awet itu relatif lebih mahal, jadinya malah bikin sayang untuk dibuang/dihibahkan.

    Another “eh iya juga ya” moment for me nih kak.

  2. Hahaha, baru semalem ngobrol. Kalo lagi perlu atau pengen sesuatu, carilah dulu di lemari sendiri. Biasanya akan ketemu, akibat seringnya shopping aja trus gak dipake 😂

Leave a Reply