Mengulangi Hati

Terkadang kita mengalami, suatu situasi di mana rasanya semua seperti menjawab segala pertanyaan dan keinginan yang seumur hidup kita rasakan. Pernah, tak merasakan itu?

Bertemu dengan seseorang yang kita naksir secara fisik. Lalu ketika mengobrol tak terasa waktu terlewat berjam-jam karena bisa bicara tentang apa saja. Tatapan penuh arti pun saling bertukar. Ketika berpisah, komunikasi tetap jalan. Membagi apa yang dilihat, apa yang ditemukan, sesuatu yang lucu, sesuatu yang keren. Herannya selalu sepakat dengan hal-hal yang dibagi itu. Ketika pertama kali bersentuhan tangan, apalagi saling menempelkan bibir, seolah ada daya yang begitu kuat saling menarik. Hati mendadak cair menjadi cokelat fondue yang meluap luap dan mengalir ke perut menyebabkan Anda jarang merasa lapar. Dunia di luar tak begitu penting. Semua hal rasanya menjadi tepat pada tempatnya.

elizabeth-tsung-167289

Photo by Elizabeth Tsung on Unsplash

Menonton film untuk pertama kali, yang membuat hati serasa melonjak gembira, karena bertemu jodoh. Menyuguhkan visual dari teori teori yang selama ini dipikirkan, dibaca, yang membuat ingin menangis bahagia.

“Ternyata bukan aku sendiri yang memikirkan hal ini,” membatin sambil sedikit brebes smili, “ternyata aku tidak (terlalu) gila.”

Tetapi herannya kecil rasa ingin nonton lagi, karena firasat bahwa kali kedua tidak akan menimbulkan perasaan yang begitu kuat seperti yang pertama.

Kembali lagi ke seseorang tadi. Waktu berjalan, situasi dan kita pun berubah. Tantangan semakin pelik sehingga memutuskan untuk berpisah. Tetapi ketika tidak bisa berbohong kalau perasaan masih ada, dan besar rasa rindu memiliki ketertarikan dan keterikatan begitu kuat dengan seseorang, hubungan pun dijalin kembali. Dengan harapan bisa memunculkan lagi rasa meletup yang dulu.

Tetapi ternyata tidak bisa. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan sudah berbeda. Apa yang bisa diberikan pun sudah beda. Sentuhan tak lagi sarat makna seperti yang lalu. Ternyata kita hanya hidup dalam kenangan masa indah, dan berharapnya tercipta lagi dengan pelakon yang sama. Tetapi bahkan pelakonnya pun sudah tidak sama, di dalam hatinya.

Advertisements

5 thoughts on “Mengulangi Hati

Leave a Reply