#RekomendasiStreaming – Kisah Klasik Untuk Sekarang dan Masa Depan

I love classic films.

Dari kecil, saya punya kebiasaan menonton film Indonesia tahun 1970-an. Kebiasaan ini terjadi karena ibu saya. Beliau suka meminjam kaset video Betamax film-film Indonesia di era kejayaan Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy, Dicky Zulkarnaen, dll., dari tempat persewaan video. Memang ada film-film lain, seperti film-film silat Bridgitte Lin Ching Sia, film-film James Bond era Roger Moore (yang ini pilihan ayah), dan film-film Indonesia pilihan ibu.

Ternyata kebiasaan ini terus terbawa sampai menonton film menjadi hobi yang tak bisa ditinggalkan. Kalau ada film lama yang tayang di televisi, yang saya perhatikan dari tampilan gambarnya yang “berbeda” dari kebanyakan film atau program televisi saat itu, maka saya buru-buru duduk di depan layar cembung televisi di rumah. Pertama kali menonton Breakfast at Tiffany’s di RCTI hari Kamis siang. Pertama kali menonton Djendral Kantjil, film tahun 1958 yang dibintangi Achmad Albar waktu kecil, di SCTV hari Rabu siang sepulang sekolah.

Ada yang menarik dari film klasik.

Meskipun namanya film adalah karya cerita visual buatan, bukan merepresentasikan kehidupan asli, tapi saya suka membayangkan sendiri keadaan masa lalu. Saya tidak bisa melihat langsung seperti apa Jakarta atau New York di tahun 1950-an atau 1960-an, kecuali teknologi time travel sudah ada dan terjangkau untuk umum. Maka pilihannya cuma dari membaca buku, melihat dokumentasi foto, atau menonton film. Meskipun cuma secuil informasi yang bisa didapatkan tentang keadaan asli di masa lalu, namun buat saya itu lebih dari cukup. Selebihnya, biar imajinasi kita yang berbicara.

Sayangnya, memang tidak semua film klasik mudah diakses. Mulai dari kondisi film yang sudah tidak terawat setelah puluhan tahun, sampai ke permasalahan hak cipta. Bisa dibilang, persoalan hak cipta dan hak distribusi ini yang paling pelik. Perusahaan pemilik film bisa jadi sudah tiada. Atau kalau film tersebut sudah diserahkan hak distribusinya ke perusahaan lain, belum tentu juga perusahaan ini memberikan lisensi atas film tersebut untuk ditayangkan di seluruh dunia. Dan kalaupun diberikan, mungkin jangka waktunya hanya beberapa tahun, dan tidak diperpanjang.

Apakah dengan adanya online video streaming platform ini akan membantu? Jawabannya adalah “ya” untuk sementara waktu, dan “tidak” untuk di masa yang akan datang.

Kenapa? Karena pada akhirnya, semua platform ini dibuat untuk mengunggulkan konten asli yang mereka buat sendiri. Kemarin ada berita bahwa Netflix siap untuk mengeluarkan 8 milyar dolar untuk membuat original content dan menargetkan mulai tahun depan 50% isi program mereka adalah original content of Netflix productions. Sementara pesaing terdekatnya, Amazon, juga sudah mengambil ancang-ancang yang sama. Demikian pula dengan platform lain yang berdiri di kawasan Asia Tenggara, yaitu iflix dan HOOQ. Mereka sudah mulai membuat konten sendiri.

Kalaupun ada streaming platform yang mengkhususkan diri untuk film-film lama, seperti Mubi, Filmstruck, dan lain-lain, jumlahnya tidak banyak. Dan sampai tulisan ini dibuat, mereka belum tersedia di negara kita.

Artinya, program-program yang sekarang ada di jasa layanan mereka yang mereka akuisisi dari perusahaan-perusahaan lain, seperti film Hollywood, Bollywood, Korea, Indonesia, Spanyol, dan lain-lain, pada saatnya akan hilang dari semua platform ini. Maka, the only time to watch old movies is now.

Banyak film klasik ini malah sudah raib di kawasan utama streaming services ini, yaitu di Amerika Utara dan Eropa Barat, karena mereka tergeser oleh program-program baru yang terus berdatangan. Kita sedikit beruntung di sini. Berhubung kawasan Asia Tenggara masih merupakan kawasan baru untuk sebagian besar America-based streaming platforms ini, maka masih cukup ada beberapa film klasik yang bisa ditonton. Cukup ada, karena memang tidak banyak. Beberapa yang layak ditonton lagi, dan lagi:

Roman Holiday (tersedia di Netflix)

Debut film Audrey Hepburn di Hollywood sebagai pemeran utama, setelah beberapa kali bermain di film-film Inggris di peran-peran kecil, langsung membuat publik kala itu jatuh cinta. Dirilis tahun 1953, memenangkan Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik di tahun 1954, Audrey Hepburn sontak menjadi the princess of all. Sebuah gelar yang terus melekat di benak jutaan orang, meskipun beliau sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Film ini sempat terangkat lagi saat kematian Putri Diana di tahun 1997, karena ada sedikit kemiripan cerita, meskipun film Roman Holiday tidak berakhir tragis. Tidak manis, tapi realistis.

Save the Tiger (tersedia di Amazon Video)

I have a very soft spot for this kind of movie: seluruh cerita film terjadi dalam satu hari. Namun dalam waktu 24 jam, kita melihat banyak sisi cerita yang terungkap dari karakter-karakter yang hidup. Di sini, Jack Lemmon berperan sebagai Harry Stoner, pengusaha yang berniat untuk menghancurkan usahanya sendiri, supaya mendapat uang asuransi untuk membiayai karyawan dan membayar hutang-hutangnya. Kefrustrasian Harry Stoner tergambar dengan baik sepanjang film, membuat kita tertegun dan merasa dekat dengan karakter ini. Jack Lemmon meraih Oscar untuk pemeran utama pria terbaik di tahun 1974, hampir setahun setelah film ini dirilis. Salah satu dari sedikit kejadian di mana Oscar is rightly justified.

Anand (tersedia di iflix)

Dari ratusan film yang sudah dibintangi Amitabh Bachchan sampai sekarang, mungkin film ini termasuk yang paling manis. Film tahun 1971 menempatkan Amitabh Bachchan di supporting role, sebagai dokter Bhaskar yang merawat pasien kanker bernama Anand (Rajesh Khanna), yang justru malah memilih menghabiskan sisa umur dengan living life to the fullest, kebalikan dari sang dokter. “Bromance” antara dokter dan pasien menjadi daya pikat kita mengikuti film ini. Tak heran kalau sampai sekarang, film ini masih menjadi film Hindi dengan rating tertinggi di IMDB.

Selamat menonton!

Advertisements

2 thoughts on “#RekomendasiStreaming – Kisah Klasik Untuk Sekarang dan Masa Depan

Leave a Reply