“Homoseksualitas Bisa Disembuhkan dengan Hipnoterapi”

APAKAH kalimat judul di atas benar adanya? Ya manalah saya tahu! Lha wong saya bukan seorang hipnoterapis (apalagi yang sudah tersertifikasi klinis), pun bukan seorang gay dengan perspektif orang pertama, yang sedang mengalaminya.

Namun secara pribadi, kalimat judul di atas terdengar kurang sreg bagi saya.

Hanya penyakit yang berpeluang/bisa disembuhkan, bukan preferensi seksual yang sebenarnya sama seperti selera makan atau cara bersantap. Seaneh atau setidak lazim apa pun gaya seseorang ketika makan, itu akan tetap merupakan ranah pribadi, tentu saja selama tidak melanggar ketentuan hukum formal yang harus dipatuhi semua orang di luar batasan agama dan budaya.

Intinya, that’s none of your business.

Juni 2016, jagat Twitter dihebohkan oleh kelakuan Aulia Masna berikut ini.

Tak hanya memicu perdebatan dan perang argumentasi, hujatan, serta ratapan dari para warganet, perbuatan Mas Masna ini bahkan digugat lewat petisi. Yang meskipun gagal mencapai target dukungan, tetapi tidak menyurutkan perjuangan melawan ketidaklaziman.

Iya, kata kuncinya adalah “ketidaklaziman”, ketika ada sesuatu yang dilakukan di luar kebiasaan khalayak ramai.

Begitu pula dengan yang satu ini, dari komentar salah satu pembaca Linimasa. Cukup dengan membayangkan penampilannya saja, kita bisa mengernyitkan dahi dan menunjukkan ekspresi wajah aneh secara refleks. Karena lagi-lagi, itu hal yang tak lazim.

Apa hubungannya antara contoh kuliner tadi dengan preferensi seksual sebagai urusan pribadi?

Selama Mas Masna bukan seorang kanibal yang ngecapin rendang daging manusia, atau selama kecap yang digunakannya tidak diperoleh dengan mencuri atau membunuh sang pemilik warung, perbuatan aneh Mas Masna tidak melanggar hukum formal apa pun. Mas Masna tidak bisa dijatuhi hukuman resmi. Paling jauh ya dicaci maki oleh teman-temannya.

Ihwal rendang dikecapin ini, saya semestinya tidak menggunakan kata “aneh”. Sebab saya tidak mendukung atau pun membencinya. Biasa saja.

Demikian pula dengan homoseksualisme sebagai salah satu preferensi seksual. Selama tidak berlangsung pada anak-anak di bawah umur (UU Perlindungan Anak); tidak melibatkan pemaksaan, tipu daya, dan kekerasan fisik termasuk perkosaan, tidak melibatkan pasangan sah orang lain (zina dalam pemaknaan hukum pidana); tidak dilakukan secara terbuka dan dapat mengganggu orang lain (pidana asusila), maka tidak bisa diganjar dengan hukuman formal. Menyisakan orang-orang yang merasa sangat tidak nyaman, dan menggunakan pandangan keagamaan sebagai alasan utamanya. Untuk kemudian ditambahkan dengan argumentasi-argumentasi pendukung dari berbagai sudut pandang. Termasuk Psikologi dan kejiwaan.

Bagi kelompok masyarakat yang membenci homoseksualisme, homoseksualitas dianggap sebagai penyakit kejiwaan. Sehingga mereka berpendapat bahwa keadaan ini bisa disembuhkan dengan terapi-terapi kejiwaan yang sesuai, termasuk hipnosis maupun pernikahan (kerap diistilahkan “rawat jalan*”, yang menurut saya amat konyol dan merugikan salah satu mempelai beserta keluarganya).

Apabila tidak berhasil, metode lain yang dapat dijalankan adalah sabotase hormon, melalui konsumsi obat-obatan untuk meredam berahi maupun dorongan biologis serupa. Kebiri kimiawi, bisa dibilang begitu. Seperti yang terjadi pada Alan Turing. Seolah dibarengi celetukan: “Kamu boleh saja tetap seorang gay, tapi kamu juga enggak bisa ngapa-ngapain dengan ke-gay-anmu itu.

Nah, pertanyaannya sekarang, benarkah homoseksualitas bisa disembuhkan dengan hipnoterapi?

Saya berteman akrab dengan tiga orang hipnoterapis klinis bersertifikasi. Ketiganya berdomisili di Samarinda. Salah satunya pernah berbagi pengalaman (tanpa melanggar etika profesi) saat menangani klien dengan keluhan homoseksualitas.

Cerita dan beberapa detailnya bisa saya rangkum sebagai berikut.

  • Klien sadar bahwa ia adalah seorang gay
  • Klien berkeinginan untuk menjalani sesi-sesi konseling dan hipnoterapi setelah putus dari pacar.
  • Klien menyatakan keinginannya untuk tidak lagi punya kecenderungan suka pada sesama pria, terutama mantannya, supaya tak lagi merasa terganggu dengan semua perasaan tidak mengenakkan setelah putus. Selain itu, klien juga terus ditekan dan didorong orang tuanya agar segera menikah.
  • Hal-hal di atas sudah disampaikan klien kepada hipnoterapis sebelum sesi hipnosis. Berarti dapat dianggap sebagai konseling awal.
  • Menjelang sesi hipnosis, klien menyatakan dan memastikan kesiapannya menjalani semua proses. Termasuk relaksasi, memasuki kondisi somnambulisme di tingkat tertentu, dialog untuk menelusuri masa lalu, dialog untuk menangani kesan emosional yang tertanam dari masa lalu, dan sebagainya.
  • Dari penelusuran masa lalu, terungkap bahwa klien pernah diejek “bencong” oleh teman sekolahnya di SD. Kala itu ia berusia 12 tahun, dan sangat tidak terima dengan olok-olokan itu. Terindikasi, guncangan emosional atau trauma yang dialami klien pada waktu itu justru membuat sebutan “bencong” masuk dan tertanam ke pikiran bawah sadar.
  • Setelah ingatan masa kecil itu dibongkar, kesan mental yang melekat pun dibenahi. Di sini, sang hipnoterapis mulai menanamkan kesan mental yang baru, yaitu meningkatkan rasa suka klien terhadap wanita serta menumbuhkan semangat agar bisa segera menikah.
  • Klien pun kembali disadarkan; merasa lebih lega, nyaman, dan plong; tak menyangka kejadian di masa kecilnya bisa memberikan dampak sebesar itu.

Selepas itu, saya tak tahu lagi perkembangan terakhirnya. Yang jelas, saya maupun teman saya—sang hipnoterapis—sama-sama berharap yang terbaik bagi si klien. Meskipun “yang terbaik” menurut kami itu berbeda-beda.

Beranjak ke pertanyaan kedua, apakah terapi hipnosis seperti ini bisa dilakukan kepada semua gay?

Jawaban sotoy saya: mungkin/mungkin tidak. Saat dicari di Google pun, salah satu jurnal medis tertua yang membahas ini dirilis pada 1967.

Saya juga pernah menjalani sesi hipnoterapis untuk keluhan yang berbeda. Sedikit cuplikannya bisa dibaca dalam tulisan “‘Masa Lalu’ yang Bikin Kepo”, dan setidaknya ada tiga hal mendasar yang harus dipastikan sebelum sesi hipnoterapis dilaksanakan.

1. Masalah & Keluhan

Apa yang mesti ditangani jika tidak ada yang dikeluhkan? Seberapa mengganggunyakah keluhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Keluhan ini pun bukan yang berasal dari orang lain, melainkan diri sendiri.

Dibandingkan sang klien di atas, keluhan saya jauh lebih sepele. Yakni ketidaksukaan, yang menjadi ketidakmauan saya untuk bangun pagi. Lagi-lagi, ternyata salah satu penyebabnya adalah peristiwa di masa kecil. Hal sepele ini mulai menjadi masalah setelah memengaruhi kehidupan profesional.

Begitu pula pada sang klien di atas, yang terganggu dengan homoseksualitasnya sampai memutuskan bertemu hipnoterapis, serta menjalani semua fase sebelum sesi hipnosis. Pandangan sang klien terhadap homoseksualitasnya memunculkan dorongan untuk mengikuti semua arahan, dan bersedia untuk membuka diri dalam konseling, ada willingness, hingga…

2. No Mental Blocks

Tidak semua orang bisa dihipnosis. Kendati pikiran aktif seseorang menyatakan mau dihipnosis, belum tentu dengan pikiran bawah sadarnya.

Penolakan ini kerap disebut mental blocks, dan menghalangi klien untuk bisa benar-benar rileks menuju tahap somnambulisme. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari tiba-tiba terjaga di tengah proses relaksasi tanpa tahu penyebabnya, sampai ada yang terjaga dalam keadaan marah sebagai mekanisme pertahanan dari alam bawah sadar.

3. Kecakapan Sosial dan Emosional

Hipnoterapi klinis memiliki peluang untuk mengubah atau memodifikasi perilaku seseorang. Itu sebabnya tidak sembarang orang bisa mendapatkan sertifikasi, diakui sebagai praktisi, dan menerima klien. Kabarnya, selain melihat kemampuan personal, juga mempertimbangkan cara berpikir serta kepiawaian sosial.

Akan sangat berbahaya apabila seseorang yang judgmental dan senang menghakimi, gampang memandang rendah orang lain, mudah berprasangka, dan memiliki sifat-sifat negatif sejenis lainnya memiliki akses untuk mereset benak manusia.

Dalam sesi-sesi konseling awal, hipnoterapis dan calon klien akan menjalin komunikasi dan saling menyamakan persepsi terhadap masalah yang nantinya akan ditangani. Dari situ, barulah bisa ditentukan apakah bisa/perlu berlanjut ke sesi hipnosis, atau tidak. Bukan tidak mustahil, ada masalah-masalah kesehatan yang lebih tepat dikonsultasikan ke dokter benaran.

Sang klien di atas mengeluhkan homoseksualitasnya, dan ingin dikondisikan agar menjadi heteroseksual. Dalam pandangan umum, termasuk yang diyakini oleh sang hipnoterapis, homoseksualisme itu salah. Maka permintaan klien pun disikapi sebagai sebuah hal yang wajar untuk ditunaikan… dan supaya menghindari relapse atau kambuh, sang hipnoterapis akan melakukan pemantauan berkala, atau bahkan melakukan sesi hipnosis ulang selama diperlukan.

Jadi, dengan demikian, apakah homoseksualitas bisa ditangani dengan hipnoterapi? Entahlah. Kembali lagi ke kamunya, merasa ada yang ngawur tentang itu atau tidak. Sebab mau homo atau hetero, semuanya sama-sama manusia. Tidak ada yang lebih berhak menjalani kehidupannya sendiri dibanding yang lain.

Toh yang selama ini sangat homofobia dan benci setengah mati terhadap para homoseksual serta homoseksualitas, belum tentu 100 persen heteroseksual. Enggak percaya? Coba cek pakai Kinsey’s Scale, yang walaupun sudah kuno tetapi masih bisalah dipakai.

[]

* Special note on “rawat jalan”: Saran ini barangkali terdengar ngaco dan susah untuk dilakukan, tetapi kalau kamu gay dan benar-benar ingin menikah demi memiliki keluarga heteroseksual pada umumnya, membina rumah tangga, menjalin kedekatan lahir batin dengan lawan jenis, serta memiliki dan merawat anak dengan baik, setidaknya jujur dan terbukalah dengan calon pasangan.
Namanya juga pernikahan, masak mau dimulai dengan potensi kecurangan? Siapa tahu dia nanti yang bakal bantu kamu untuk tetap pegang komitmen, jadi seseorang yang bisa berbangga hati, bukan malah merasa sebagai korban penipuan. Kecuali jika kamu sudah benar-benar yakin dan pasti enggak bakal lirik kanan kiri.
Soalnya, sejauh ini, perceraian masih dianggap lebih memalukan ketimbang batal menikah… dan ada juga sih yang baru menyadari ketertarikannya pada sesama jenis justru setelah menikah dan punya anak.

8 thoughts on ““Homoseksualitas Bisa Disembuhkan dengan Hipnoterapi”

Leave a Reply