Dari “Waktu Tengah Hari” Sampai Coventry

SEMAKIN banyak saya belajar, semakin sadar betapa tidak tahunya saya. Ini terjadi dalam banyak hal, termasuk kehidupan spiritual. Sampai mikirnya seberapa jauh ingin terus belajar, dan berbesar hati mengkoreksi apa yang sebelumnya sudah telanjur dianggap sebagai kebenaran.

Berikut adalah salah satu contohnya.

Sebagai seseorang yang sedang berusaha mempelajari, mengkritisi, memahami, dan menjalani Buddhisme mazhab Theravada hingga saat ini, saya tahu ada aturan berpuasa yang disebut Vikalabhojana. Yakni tidak makan setelah tengah hari sampai menjelang fajar di keesokan harinya.

Praktik berpuasa ini wajib dijalankan para Bhikkhu setiap hari sepanjang hidupnya. Sedangkan bagi umat biasa, praktik berpuasa ini dijalankan pada hari-hari tertentu setiap bulan sebagai bentuk latihan mental secara paket dalam Attasila atau Dasasila (terdiri dari delapan atau sepuluh pantangan).

Para Bhikkhu tidak bermata pencaharian, tidak memiliki uang maupun harta benda sejenisnya, maka tidak bisa melakukan transaksi jual beli. Keberlangsungan hidup mereka pun bergantung atau ditunjang oleh umat. Yang apabila disesuaikan dengan peraturan Vikalabhojana tadi, maka umat dipersilakan memberi derma makanan kepada para Bhikkhu sebelum tengah hari.

Sudah menjadi kesepakatan umum selama ini, yang dianggap sebagai “tengah hari” adalah sekitar pukul 12.00, atau saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun. Dengan demikian, waktu yang ideal untuk mempersembahkan makanan kepada para Bhikkhu adalah sekitar pukul 11.00, dengan asumsi aktivitas makan siang berlangsung kurang dari satu jam.

Nah, baru pada beberapa hari lalu saya membaca catatan seorang Bhikkhu Indonesia yang ditahbiskan secara Kamboja, dan memiliki komitmen kuat untuk menjalankan Buddhisme secara murni dan tanpa kontaminasi apa pun. Termasuk anggapan-anggapan yang berlaku setempat.

Ia berpendapat bahwa waktu “tengah hari” tidak bisa disederhanakan menjadi pukul 12.00 siang, lantaran posisi bumi dan matahari sebagai patokan utama selalu berubah setiap hari. Pendekatan yang diambilnya pun lebih ilmiah, yaitu perhitungan astronomis dengan jam dan menit tersusun dalam tabel. Terkesan sama seperti penentuan jatuhnya magrib dan imsak saat puasa Ramadan.

Tabel harian detail waktu fajar dan tengah hari untuk wilayah Tangerang.

Kembali lagi, sebagai seseorang yang sedang berusaha mempelajari, mengkritisi, memahami, dan menjalani Buddhisme mazhab Theravada hingga saat ini, saya memang sudah tahu ada aturan berpuasa yang disebut Vikalabhojana. Yakni tidak makan setelah tengah hari sampai menjelang fajar di keesokan harinya. Namun saya baru benar-benar tahu bahwa penentuan waktu “tengah hari” bisa seketat ini. Apalagi sebagai peraturan dasar, para Bhikkhu yang melanggarnya berarti telah melakukan kesalahan dan harus disidang para guru maupun sesepuh.

Di sisi lain, para umat sangat tidak dianjurkan untuk memberi derma makanan di waktu yang mepet. Sebab mengkondisikan terjadinya pelanggaran. Para Bhikkhu pun bisa menolak pemberian tersebut, kendati itu sama saja dengan tidak makan apa pun hari itu.

Sepanjang akhir pekan kemarin, saya sibuk berdiskusi dengan para senior via WhatsApp. Sangat besar kemungkinan saya pernah melakukan kesalahan terkait ini, dan muncul perasaan bersalah karenanya.

Perbincangan kami mengerucut pada tiga hal: esensi dari praktik, toleransi dan kompromi atas kondisi kehidupan saat ini, serta kesepakatan dalam pengaturannya.

Pertanyaannya sekarang:

  • Seberapa tepat kita memahami esensi dari praktik keagamaan?
  • Seberapa jauh kita bisa menoleransi dan berkompromi terhadap perikehidupan saat ini dalam beragama?
  • Seberapa jauh kita bisa setuju dengan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam beragama?

Tak hanya terjadi dalam Buddhisme, ilustrasi bernuansa dilematik seperti di atas juga—saya yakin—berlangsung dalam agama-agama lain, lengkap dengan kubu pendukung dan penentangnya masing-masing.

Kalau ada Amina Wadud di Amerika Serikat, ada juga Seyran Ates di yang mendirikan masjid liberal di Jerman. Begitu pula dengan pengumuman di Coventry Cathedral berikut ini, ketika salah satu gereja Katolik tertua dan terbesar di Inggris seakan menjadi lebih bersahabat dengan para pendosa. Baik pendosa agama (yang melanggar aturan keagamaan), maupun pendosa sosial (yang melanggar ketentuan kehidupan kemasyarakatan).

Lalu, bagaimana tanggapan Anda terhadap Amina Wadud, Seyran Ates, atau dewan pengurus Coventry Cathedral? Ya kembali ke tiga pertanyaan di atas. Soal esensi, toleransi dan kompromi, serta kesepakatan.

Masalahnya tak lagi sesederhana: “Itu salah, dan ini benar. Maka lakukanlah ini, dan jangan lakukan itu.” Melainkan ada penjelasan tentang latar belakang dan alasan, menjadikan kita sedikit lebih mengerti serta tidak gampang jemawa, gampang merasa jauh lebih mulia ketimbang orang-orang yang dicap berdosa.

Seyran Ates dalam Masjid Ibn-Rushd-Goethe. Foto: IB Times

[]

Bonusnya video ini, tentang seorang Rabi Yahudi, Pastor, dan seorang ateis. Mereka saling berbicara, setara, tanpa sikap menghakimi satu sama lainnya. Coba aja tonton sampai habis.

Terlepas dari apa pun tindakan kontroversial yang mereka lakukan, tetapi hati ini terasa hangat saat mereka saling mendoakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s