Makan bakso aja kok ribet amat?!

OH, jadi begini ya caranya kamu kalau makan bakso.

Menunya boleh sama, berupa kuah kaldu rebusan tulang sapi yang dicemplungi bulatan daging giling, mi, sohun, potongan sawi, dan taburan bawang goreng—kalau di Jakarta ditambahi kecambah atau taoge berukuran kecil, mi atau sohunnya juga bisa diganti dengan kwetiau—tetapi ada beragam gaya ketika menyantapnya. Termasuk yang saya lakukan selama ini, sampai terbawa ke Jakarta.

  • Minta piring atau lepek kosong.

Di Samarinda, semangkuk bakso pasti disajikan dengan lepek sebagai tatakan atau alasnya. Apabila makan di pinggir jalan, lepek berfungsi sebagai penghalau panas dari mangkuk. Sedangkan kalau bersantap di restoran, tumpukan lepek bersih sudah tersedia di setiap meja.

Di Jakarta, sejauh ini, saya harus minta… dan kadang dibawakan mangkuk.

  • Bikin campuran condiments dasar: sambal, saus tomat, dan kecap manis di piring atau lepek kosong. Tidak pakai jeruk nipis atau cuka.

Rasanya mantap! Ini perkara selera dan tingkat toleransi seseorang terhadap rasa pedas sih. Itu sebabnya saya kurang doyan mencampurkan jeruk nipis maupun cuka, yang bagi sebagian besar penikmat bakso di Samarinda merupakan salah satu komponen wajib supaya terasa lebih segar. Sedangkan di Jakarta, ada tambahan condiments garam dan merica. Sejauh ini, saya belum berminat untuk mencobanya.

Khusus saus tomat, ada yang unik di Samarinda. Menyantap bakso bakal terasa kurang pas kalau menggunakan saus tomat bermerek ternama yang iklannya berseliweran di televisi-televisi nasional. Biarlah saus-saus tersebut digunakan sebagai bahan cocolan kentang goreng atau ayam goreng tepung.

Di Samarinda, seingat saya, warna dan tampilan beberapa merek saus tomat yang jamak disajikan bareng bakso terlihat tidak terlalu gelap, tidak seasam saus tomat ternama, dan terlihat agak bertekstur. Entah lebih banyak kandungan tomat atau pepayanya sih, yang pasti rasanya pas buat bakso.

Begitu juga dengan kecap manisnya. Salah satu merek yang populer adalah Niki Eco (bahasa Jawa: ini enak).

  • Kuah kaldu dibiarkan apa adanya.

Pada umumnya, banyak orang menyantap bakso dengan mencampur condiments ke kuah kaldu. Namun bagi saya, kuah bakso yang benar-benar enak sebaiknya dinikmati apa adanya. Lantaran sudah gurih dan lezat, tanpa micin sekalipun. Kecuali kalau kuah kaldunya biasa-biasa saja, boleh deh dicampur sambal, saus tomat, atau kecap manis supaya rasanya lebih pas.

  • Memindahkan semua bakso ke piring atau lepek tadi.

Semangkuk bakso kelihatan terlalu penuh dengan bermacam-macam bahan di dalamnya. Bakso-bakso dipindahkan agar bisa disantap lebih leluasa. Selain itu, bakso terasa lebih sedap setelah dilumuri campuran condiments tadi, tentu bagi yang gemar pedas.

  • Setiap bakso dibelah dua. Kalau ukurannya besar, bisa dipotong jadi empat bagian.

Bagi yang malas repot, tentu bisa menggigit langsung butiran baksonya. Bagi yang ingin lebih menghayati kenikmatan ngebakso dan ingin tetap terlihat elegan, bisa dipotong-potong terlebih dahulu agar pas dengan ukuran mulut. Di sisi lain juga agar lebih mudah disapukan ke campuran condiments tersebut. Apalagi kalau doyan bakso urat, urusan potong memotong ini bisa mengurangi kemungkinan serat daging tersangkut di gigi, karena sudah dipendekin duluan. 😂

Ada juga yang nyeletuk: “Dasar ogah rugi, makannya di-extend!”

  • Kuah bakso diseruput habis.

Setelah mi, sohun, dan bahan lain dalam mangkuk dihabiskan, tersisa kuah kaldu yang gurih dan beberapa potongan bakso di wadah terpisah. Saya biasanya akan menghabiskan kuah bakso, sesekali diselingi dengan bakso berbumbu pedas. Pada bagian ini sudah mandi keringat sampai ke tengkuk.

  • Sisa condiments dimakan/dihabiskan dengan kerupuk.

Penjual bakso pasti melengkapi dagangannya dengan beberapa jenis kerupuk. Campuran condiments yang masih tersisa agak mubazir ya kalau dibiarkan begitu saja. Jadi, paling pas kalau dicocol atau disapukan dengan kerupuk yang kuning atau putih. Sebuah penutup yang paripurna.

[]

Iklan

19 thoughts on “Makan bakso aja kok ribet amat?!

  1. yaelaahhh,
    sedih gini bacanya.
    sedih krn pengen tp gabisa

    btw,
    pengen banget ngebales video dengan video dikomen udh bisa blm?
    mau tunjukin juga niii gmana cara makan baso pake selei kacang niiihh 😜

    Suka

  2. patut dicoba. selama ini makan bakso gak pake saos or kecap cuma pake cabe dicampur ke kuah baksonya. lalu pentol baksonya dimakan terakhir pake kecap! kebiasaan dari kecil.

    Suka

  3. ini caraku makan bakso bangeet.. tapi cara yang kayak gini aku temukan sejak tinggal di malang sih.. dan kebawa pulang ke balikpapan sampai sekarang.

    Suka

    1. Kayaknya sih memang “lihat dan tiru” karena enak, keterusan deh. Kebetulan di Samarinda, saya dikelilingi pelahap bakso yang suka model begini. Di Jakarta, sama sekali enggak ada. Kecuali orang Malang/Surabaya. Klop!

      Suka

      1. kalau menurut saya enak sih mas, ada nostalgia masa kecilnya soalnya..hehe.. kayaknya mulai dari mie sampai bakso benar2 “homemade” , beda aja, .. tapi kalau dibandingkan sama bakso awang long atau lestari sepertinya kembali ke selera juga sih ya,, 🙂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s