Ego Trap: Kita Menjadi Apa yang Kita Hina, Cela, dan Benci

JANGANKAN berlaku adil kepada orang lain, kita saja kerap abai dan bersikap tidak konsisten terhadap diri sendiri.

Harus selalu tegas bila menyangkut orang lain, meski untuk persoalan sesepele apa pun. Namun kita selalu meminta keringanan dan pertimbangan kembali atas nama kemanusiaan serta belas kasihan untuk diri sendiri, walaupun sebenarnya telah melakukan kesalahan besar.

Kita seringkali dengan mudahnya menghakimi orang lain atas tindakan dan perbuatan mereka tanpa didasari pemahaman yang utuh, apalagi rasa santun, sesuatu yang kian dianggap tidak penting dan makin diidentikkan dengan kemunafikan.

Sebaliknya, kita malah tersinggung berat apabila ada orang lain yang melakukan perbuatan serupa; menghakimi kita. Bukannya merespons atau memberikan konfirmasi dengan baik dan elegan, kita malah mengamuk tidak karuan. Dengan begini, masalah tak akan selesai, kita akan dianggap defensif, terlalu sensitif, suka menyerang tapi juga gampang meradang.

Pokoknya jangan gue!” Singkatnya seperti itu.

Kita merasa sangat terganggu dan benci dengan orang-orang yang parkir kendaraan sembarangan. Saking bencinya, bisa terdorong untuk melakukan perusakan. Mulai dari membunyikan alarm, mengempiskan ban, menggores cat luar kendaraan, bahkan sampai memecahkan kaca lalu ditinggal begitu saja. “Siapa suruh parkir sembarangan?!” Seolah tindakan vandalisme tersebut dibenarkan dengan sejumlah alasan.

Kita merasa sangat terganggu dan benci dengan anak-anak motor yang balap liar di jalan umum, atau pengendara motor dengan knalpot yang bising. Saking kesalnya, kita sampai bisa menyumpah secara lantang atau dalam hati: “Mudahan jatuh mati lo!” Pada saat terjadi kecelakaan yang melibatkan pembalap liar tersebut, spontan bisa kembali menyumpah: “Mampus!” Pertanyaannya, apakah dengan mendoakan dan mengharapkan kematian seseorang yang kita benci, termasuk tewas dalam keadaan mengenaskan, menjadikan kita seseorang yang lebih baik dibanding mendiang? Lebih baik mencari tahu, kenapa mereka getol sekali balapan liar?

Balap liar di jalanan Samarinda.

Padahal beberapa di antara kita pun kerap tergoda untuk mengebut di jalan raya, terlebih ketika sedang mengendarai motor atau mobil yang terasa keren dibanding lainnya. Hal ini juga terjadi pada masalah knalpot. Sampai kapan pun knalpot yang berisik hanya akan menganggu orang lain, kecuali pengendaranya. Knalpot berisik di sini bukan cuma yang memekakkan telinga, atau yang identik dengan motor para jambret zaman dulu, termasuk juga muffler-muffler berukuran besar yang dipasangkan ke motorsport berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Masih ingat kasus pernyataan keliru dari seorang psikolog mengenai girlband Korea beberapa waktu lalu? Sentimen massa di timeline akun-akun media sosial milik saya terpecah dua. Di Twitter, banyak yang menertawai betapa asal-asalannya pernyataan tersebut, ada pula yang menyayangkan sosok psikolog tersebut berkomentar tanpa mengerti konteks yang sebenarnya. Namun umpatan, cacian, dan serangan-serangan kepada psikolog tersebut juga bermunculan dari para warganet, tanpa peduli bahwa sang psikolog sudah meralat dan meminta maaf atau kekeliruannya dalam berpendapat.

Sementara di Facebook, lebih banyak beredar posting-an status yang menyayangkan kurang beradabnya ucapan (tweet) generasi muda saat ini terhadap orang yang lebih tua. Isunya pun bergeser sedemikian cepatnya, dari kekeliruan ucapan, menjadi bobroknya moralitas dan perilaku anak muda masa kini. Lalu, siapa yang salah? Semuanya! Sang psikolog salah, para bocah yang tidak bisa menyaring ucapannya salah, begitu pula orang-orang yang seolah ikut memanas-manasi topik dengan membenturkan kedua kubu. Menikmati ramainya dunia maya.

Gambar: Youtube

Kekesalan, kebencian, dan kemarahan adalah hak semua orang. Tidak ada satu pun yang bisa dan boleh menghilangkan kuasa emosi dan perasaan itu dari seseorang. Adalah lebih penting untuk memastikan dan mengatasi penyebab munculnya kekesalan, kebencian, dan kemarahan tersebut, ketimbang saling berseteru. Sebab itu sama saja dengan melawan kekesalan dengan kekesalan, kebencian dengan kebencian, dan kemarahan dengan kemarahan.

Lebih parah lagi jika ada yang merasa lebih pantas kesal, benci, dan marah dibanding orang lain; merasa alasannya untuk kesal, benci, dan marah lebih pantas diakomodasi dibanding alasan-alasan kekesalan, kebencian, dan kemarahan orang lain. Sebab apabila sudah ada pandangan seperti ini, berarti kita sudah terjebak untuk merasa lebih baik dan mulia dibanding orang lain… dan sikap itu cenderung mengarah pada arogansi.

Begitu pula dengan kedunguan, ketidaktahuan yang dibarengi dengan sikap keras kepala, bebal. Semua orang mustahil terlahir dengan kepandaian, kemampuan memahami, dan kecerdasan multidimensi (IQ-EQ-SQ, dan kebidangan) yang sama atau setara. Okelah kamu, atau kita sudah merasa jadi orang paling pandai, pintar, cerdas, nyambung, gesit dan tepat berpikir terhadap sesuatu, kemudian bagaimana cara kita menghadapi orang-orang lain dengan keadaan yang berbeda? Apakah memandang rendah dan tidak memedulikan mereka? Memperlakukan mereka seperti manusia kelas rendah yang tak pantas berada di dekat-dekat kita? Kalau begitu sih semua orang juga bisa, karena sealamiah merasa kesal atau sebal dengan keadaan tersebut. Yang pasti, sikap tersebut tidak mencerminkan kepintaran dan kecerdasan yang kamu miliki sebelumnya. Atau bisa jadi kamu belum cukup cerdas, terutama untuk hal-hal beginian. Fair enough, right?

Jangan sampai karena kita merasa sudah paling benar, paling pantas, paling cerdas, paling pintar, dan paling-paling positif yang lainnya, kita merasa pantas untuk menganggap orang lain paling salah, paling tidak pantas, paling bodoh, paling tolol, dan paling-paling negatif yang lainnya. Sebab itu bisa jadi tandanya kita telah masuk dalam perangkap ego kita sendiri.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik adanya.

[]

Iklan

One thought on “Ego Trap: Kita Menjadi Apa yang Kita Hina, Cela, dan Benci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s