Gantungkan Citra-Citramu Setinggi Langit

Lima sampai sepuluh tahun belakangan ini, ada semacam gerakan yang mendorong anak-anak muda memulai bisnis sendiri. Menjadi pengusaha, wiraswasta, freelancer, dan tentunya entrepreneur. Seketika ramai pelatihan, bimbingan dan seminar untuk memfasilitasi kebutuhan itu. Acara televisi, radio, semua kanal online, menyampaikan betapa negara ini krisis entrepreneur. Kekurangan pengusaha. Diperlukan lebih banyak pengusaha muda. Bahkan kalau bisa dari masih di bangku sekolah. Setiap acara seperti ini dilangsungkan, bisa dipastikan peminatnya membludak.

Jadilah Young on Top, di puncak saat usia muda. Puncak di sini tentunya identik dengan keberhasilan ekonomi dan ketenaran. Dua hal yang dibuat seolah berhubungan. Kaya dulu baru tenar atau tenar baru kaya, tak masalah. Usia muda di sini lebih tepatnya adalah mereka yang baru memasuki atau akan sudah memasuki usia produktif.

Hasilnya lumayan menggembirakan. Kita banyak menemukan kreasi-kreasi baru hasil karya anak muda di masa itu. Beberapa masih bisa kita nikmati sekarang. Mulai dari restoran, aplikasi, perangkat mobile, dan sebagainya. Di korporasi pun banyak yang mencapai posisi tinggi di usia muda. Sekarang kita bisa menemukan brand manager, brand director bahkan CEO di usianya kepala dua.

Tentunya lebih banyak lagi yang masih berusaha mendaki. Tak terbilang pula yang balik badan, bubar jalan grak! Apa pun hasilnya, seharusnya sudah bisa menjadi pengalaman yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Selama tak terlalu merugikan banyak pihak, anggaplah sebagai biaya kuliah. Selamanya akan lebih baik pernah mencoba daripada tidak sama sekali.

Di sisi lain, geliat ini juga membuat kekayaan dan ketenaran tak hanya cita-cita tapi obsesi. Segala hal dilakukan untuk meraih kedua hal itu. Tak ada salahnya sampai kemudian menjadi senjata makan tuan. Didorong media sosial, senjata itu tak hanya memakan tuannya tapi juga mematikan. Young on Top rupanya sepaket dengan Lonely At The Top.

Setelah di puncak pun ternyata banyak biaya dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Apalagi urusan, kesiapan mental. Gampangnya, pengen tajir melinting tapi udah siap belum untuk tajir melinting? Ingin segera terkenal, udah siap mental belum jadi terkenal? Menjadi kaya dan terkenal punya risikonya masing-masing.

Bayangkan suatu ketika di tabungan yang biasanya berisi belasan juta, mendadak masuk uang ratusan juta saja. Seketika pasti rasanya menjadi pemilik dunia. Semua bisa dibeli. Setelah kebutuhan pokok dinaikkan derajatnya, lalu kebutuhan sosial pun harus ikut naik. Didukung semakin banyak media tersedia untuk mempertontonkannya. Mengundang like, lope-lope dan decak kagum. Seringnya membuat orang menjadi besar kepala dan banyak yang kemudian lupa diri. Terbang setinggi langit dan saat melihat ke bawah yang dilihat adalah gumpalan awan nan indah. Harapannya tentu di atas langit masih ada langit, maka segala cara dilakukan agar terbang semakin tinggi lagi seiring jumlah rekening.

Di kondisi puncak, mendadak semua orang di sekitar menjadi baik dan manis. Siapa benar teman siapa lawan mulai tak jelas. Namanya di puncak, tentu banyak yang ingin di posisi yang sama. Menginspirasi. Jalan menuju puncak yang tadinya sepi menjulang ke atas mendadak ramai. Pemain semakin banyak, pesaing bermunculan, puncak pun semakin melandai. Bukan masalah, selama yang sedang melayang di awan-awan menyadari dan ikhlas untuk turun lagi tanpa beban. Mudah? Tentu tidak.

Namanya kondisi puncak, semua ada semua tersedia. Mendadak yang sudah ada jadi terasa kurang. Rumah kurang besar. Mobil kurang mewah. Handphone kurang kekinian. Pasangan hidup kurang cocok. Batin kurang terisi. Eksistensi kurang maksimal. Otomatis segala dilakukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan ini. Mendadak biaya hidup semakin membengkak juga. Padahal besar kemungkinan tak ada yang kurang sebenarnya. Ini mungkin yang sering disebut ongkos sebuah kesuksesan yang selalu dilekatkan pada kekayaan dan ketenaran. Tak ada yang gratis, termasuk pencitraan.

Latihan percepatan menuju puncak, tak diimbangi dengan penanganan saat sudah di puncak. Makanya belakangan kita sering menemukan orang-orang yang mendadak kaya. Mendadak beken. Jangan pernah menyepelekan masalah ini. Bagai pucuk gunung es, di bawahnya bisa tersimpan kebobrokan yang luar biasa dan di luar akal sehat. Terutamanya soal mental dan bagaimana mereka melihat sesama manusia dan kehidupannya. Ini adalah salah satu dari buah pahit dari benih yang ditanam lima sampai sepuluh tahun lalu tersebut.

Banyak pengusaha muda yang sekarang tak lagi mampu menutupi boroknya. Padahal bukan borok, tapi kenyataan. Banyak pemilik bisnis yang gulung tikar. Padahal bukan gulung tikar, tapi tikar memang tak pernah dibentang. Banyak tokoh dan selebriti dadakan mendadak hilang namanya. Padahal bukan hilang, tapi ternyata hanya terkenal di dunia maya. Makna pencitraan pun semakin buruk. Seolah sama buruknya dengan mengelabui.

Padahal, semua orang, perusahaan bahkan negara pun melakukan pencitraan. Pencitraan itu bukan berbohong, tapi menyampaikan yang baiknya saja. Bukan menutupi kekurangan, tapi menonjolkan yang baiknya saja. Seorang teman yang paham budaya Jawa bilang “kami ini sebagai orang Jawa diajarkannya untuk menampilkan semuanya  itu “under control”, terkendali. Kami gak boleh menampilkan kegelisahan, masalah dan kesedihan, karena itu hanya boleh di kamar tidur bukan di ruang tamu. Makanya gue gak bisa sama konsep studio apartment gitu bok… kamar tidur dan ruang tamu kok nyampur…”.

Diantara pengusaha-pengusaha muda yang gagal meraih puncak itu pun ada yang memilih untuk kembali ke tanah dan menata ulang hidupnya. Kembali menjadi karyawan, melunasi hutang akibat gagal bisnis, mengevaluasi ulang cita-citanya. Banyak pula yang memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan cara menggantungkan citra-citranya setinggi langit. Dengan keyakinan dan harapan, semakin tinggi pencitraannya semakin tinggi pula kelak pemasukkannya. Pemasukkan dan pencitraan kejar-kejaran. Seperti nasi dan sambal. Orang-orang di sekelilingnya, semakin seru menonton dan bahkan menyoraki untuk memberikan semangat untuk semakin menggantungkan citra setinggi langit. Pertunjukkan ini semakin hari semakin banyak pelakonnya. Tentu banyak penonton yang juga ingin menjadi pelakon.

Sialnya, sebagai penonton kadang kita suka lupa bahwa itu hanya tontonan. Bukan hanya yang mecitrakan pengusaha sukses saja. Saat yang mencitrakan kesehatan kemudian sakit, kita kecewa. Saat yang mencitrakan kekuatan ternyata lemah, kita marah. Saat yang mencitrakan keberhasilan ternyata gagal, kita menghina. Saat yang mencitrakan keharmonisan ternyata berantakan, kita menghujat. Saat yang mencitrakan kaya ternyata miskin, kita ngamuk.

Kita bertingkah seperti ibu-ibu tetangga yang ngamuk sama Meriam Belina karena dia selalu berlakon sebagai ibu tiri yang kejam. Padahal pas nonton sinetron mengaku sadar ini cuma tontonan. Atau dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana dengan mudahnya kita tertipu oleh tampilan dan pembawaan. Penghakiman yang sebenarnya kita buat sendiri. Berpenampilan mewah artinya kaya. Berotot artinya sehat. Bersih artinya higienis. “Modest” artinya taat beragama. Mata kita memang penipu ulung.

Sepertinya layaknya manusia modern harus ada yang selalu disalahkan. Kalau seperti ini siapa yang salah? Yang melakon atau yang menonton? Salah yang menonton. Karena pelakon akan selamanya ada di sekitar kita dan jangan pernah lupa, kita juga pelakon. Kita berlakon untuk hidup, act of survival. Berlakon rajin hanya saat ada boss di kantor. Berlakon alim di depan calon mertua. Berlakon pintar karena gengsi. Berlakon sopan nan jantan hanya di depan gebetan. Jangan-jangan menjadi diri sendiri dan apa adanya itulah semu yang sesungguhnya.

Saat bisa meyakinkan penonton bahwa yang sedang disaksikannya adalah kenyataan, itulah puncak kesuksesan pelakon. Pelakon akan terus menerus mengasah kemampuannya membangun citra. Maka seabgai penonton kita juga harus semakin mengasah kemampuan memisahkan pencitraan dan kenyataan. Sehingga saat lampu dipadamkan, riasan dihapus, kostum dilepas, penonton tak perlu kecewa apalagi marah. Toh tak ada yang pernah memaksa untuk menonton apalagi mempercayainya. Semua atas kehendak penonton sendiri.

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Gantungkan Citra-Citramu Setinggi Langit Leave a comment

  1. dan kita merindukan sentuhan di ujung jemari, dan senyuman hangat disertai binar mata tanpa terhalang ruang, jarak, dan waktu. tanpa melalui layar-layar mini yang seringkali membawa ilusi dan mimpi..

    mmmmm…. kita?

Tinggalkan Balasan