#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an

Ini murni kebetulan.
Hari Kamis minggu ketiga, jadwal tetap saya untuk menulis #rekomendasistreaming, untuk bulan Agustus ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Tadinya, tulisan ini mau sedikit ‘ambisius’. Ambisinya adalah mengumpulkan 17 film pendek Indonesia terpilih dari 17 tahun terakhir, yaitu tahun 2000 sampai 2017. Pas ‘kan ya? Sudah 17 tahun lho, kita menjalani milenium baru.

Tapi nyatanya, banyak sekali film pendek Indonesia (yang mau saya masukkan ke daftar ini) yang tidak tersedia untuk ditonton di video streaming platform yang ada. Sangat banyak malah.
Mungkin atas pertimbangan para pemiliknya, beberapa film pendek tersebut memang tidak diunggah ke public platform karena terikat perjanjian kerjasama dengan beberapa pihak pendistribusian film. Hal ini lumrah terjadi.
Selain itu, film-film pendek Indonesia yang dibuat sebelum ada Youtube, berarti produksi sebelum tahun 2004, sangat jarang ditemukan.

Film “Penderes dan Pengidep”

Alhasil, karena saya ingin mengajak kita semua menontonnya bersama-sama, maka daftar 17 film pilihan ini akhirnya mengerucut pada film-film pendek yang memang tersedia di platform video streaming yang mudah diakses di mana saja. Lewat perangkat apa saja. Namanya juga #rekomendasistreaming 🙂

Pilihannya acak. Tidak ada yang terbaik, tidak ada yang terburuk. Semuanya murni pilihan saya sebagai fellow audience, yang membuat saya belajar banyak dari film-film ini. Yang bisa mengangkat sisi Indonesia yang berbeda, beragam, dan berani.
Dan yang pasti, film-filmnya stand against the test of time, atau masih layak ditonton kapan saja. Tidak pudar oleh waktu.

Pilihan yang tidak mudah, mengingat ada ribuan, bahkan bisa jadi puluhan ribu, film pendek Indonesia yang sudah dibuat sampai sekarang.

Film “Vampire”

Dan kenapa film pendek? Seperti yang pernah dikatakan oleh Adrian J. Pasaribu, kritikus film Indonesia: “Wajah Indonesia sesungguhnya ada di film pendek”. Kutipan yang juga pernah saya tulis ulang di situs ini. Kutipan yang saya amini immediately, karena format film pendek memungkinkan siapa pun bisa membuatnya tanpa terbebani rating, jumlah penonton bioskop, atau pertimbangan komersial lainnya. Yang penting, ceritanya dituturkan dengan baik dalam waktu singkat, dan bisa mengena.

Maka berikut ini kita bisa saksikan 17 Film Pendek Indonesia Pilihan Untuk 17-an:

Harap Tenang Ada Ujian (2006)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Film yang secara tidak langsung menegangkan, tapi secara langsung juga menyentuh. Selalu ada sisi humanis di setiap kejadian bencana alam yang luput dari pemberitaan. Film ini mengangkat bagian tak terungkap itu dengan manis, dan tak terduga.

Sandekala (2015)
Sutradara: Amriy Ramadhan

Indonesia kaya akan cerita urban legend yang seolah tak ada habisnya. Termasuk mitos pulang saat Maghrib. Dan cerita seperti ini mendapat treatment yang pas di film pendek: tanpa ba-bi-bu, langsung ke bagian mengejutkan. Hasilnya? A very effective horror.

Irama Hari (2008)
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi

Film ini menangkap apa yang luput dari keseharian kita: suara orang-orang menawarkan jualan makanan yang lalu lalang sepanjang hari. Tanpa kita sadari, suara-suara itu membentuk sebuah ensemble yang harmonis.

Cinta (2008)
Sutradara: Steven Facius Winata

Satu lagi kisah klasik khas Indonesia yang tidak pernah ada habisnya: percintaan antar dua manusia yang berbeda suku, kelas, keyakinan dan kepercayaan. Kisah yang sudah dituangkan jutaan kali dalam berbagai karya seni di Indonesia, dan salah satu dari sedikit yang bertutur dengan baik, adalah film pendek ini.

Cheng Cheng Po (2007)
Sutradara: BW Purbanegara

Bisa dibilang BW Purbanegara adalah satu dari sedikit sekali sutradara film Indonesia yang humanis. He understands human beings, and he makes human human in his films. Bahasa Jawa-nya “nguwongke wong”. Ini terlihat dari karya-karyanya, yang selalu bicara tentang manusia dalam level yang terlihat simpel di permukaan, namun terasa mengena di hati. Film Cheng Cheng Po ini merupakan awal dari filmography-nya yang beragam, dan lebih polished di bidang produksi. Namun film ini masih terasa relevan untuk kita lihat sampai sekarang.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
Sutradara: Edwin

Edwin is one of a kind. Seorang pembuat film yang karya-karyanya tidak cukup mengundang satu interpretasi yang “ajeg”. Bahkan ketika ditonton lagi pun, interpretasi kita sendiri pun bisa berbeda jauh dari apa yang kita lihat pertama kali. Seperti film Kara Anak Sebatang Pohon ini. Sebagai film pendek Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes Film Festival di kategori Director’s Fortnight, tentu saja film ini sempat ramai dibicarakan. Namun yang lebih penting, film ini menandai kehadiran seorang Edwin yang selalu memberi nafas segar di antara monotonnya cerita dan gaya penceritaan film Indonesia.

CONGQ (2016)- Episode 7
Sutradara: Lucky Kuswandi

CONGQ adalah sebuah web-series yang sempat populer, dan memang pantas untuk banyak mendapat perhatian. Gaya penceritaan yang ringan namun mengena, permainan para aktor yang sangat relaxed but very game on, membuat kita tersenyum setiap selesai menonton satu episode. Tapi kalau saya boleh memilih the unexpected highlight serial ini ada di episode 7. Kenapa? Tonton saja.

https://www.viddsee.com/player/a67uv

Lawuh Boled (2013)
Sutradara: Misyatun

Sudah 15 tahun terakhir, kota Purbalingga secara konsisten menelurkan film-film pendek berkualitas. Ceritanya selalu berkisar seputar kehidupan sehari-hari di kota itu, orang-orangnya, dan seolah tidak mempedulikan dunia yang lebih besar. Namun dari pengamatan mikro itulah film-film dari kota Purbalingga ini justru terasa nilai universalnya, yang membuat kita semua akhirnya bisa relate to them. Seperti film ini. Lihat saja permainan ciamik ensemble-nya yang hampir semuanya bukan aktor. Detil-detil kecil yang membuat film ini terasa nyata. Masih banyak lagi film-film Purbalingga yang menawan. But this one is pretty special.

Friend (2014)
Sutradara: Yandy Laurens

Baik di film panjang maupun sinetron, sudah sangat jarang kita melihat senior citizens atau lansia menjadi subyek cerita. Biasanya mereka menjadi latar belakang cerita dengan fokus penceritaan di karakter-karakter yang jauh lebih muda. Namun beberapa film pendek Indonesia terakhir menempatkan orang tua sebagai subyek cerita yang manis. Gula-Gula Usia, Wan-An (yang masih menjadi karya terbaik Yandy Laurens), dan film ini. Bercerita tentang kesendirian di usia lanjut, sesuatu yang rasanya menakutkan untuk dibayangkan, berat untuk dijalani, tapi ternyata menyenangkan untuk dibagi. Malah bisa jadi lucu dan kocak untuk dinikmati. It’s the kind of film that lingers on.

https://www.viddsee.com/player/2k3ba

Lewat Sepertiga Malam (2014)
Sutradara: Orizon Astonia

Tema cerita dan style pembuatan film ini seperti menjadi ciri khas Orizon Astonia, dan membuat filmography-nya menjadi menonjol di antara rekan sebayanya. Ada yang kaget, ada yang menganggap tabu, ada yang lega karena akhirnya ada yang menceritakan ke bentuk visual. Menurut Anda? Silakan tonton dulu.

https://www.viddsee.com/player/trkry

Payung Merah (2010)
Sutradara: Andri Cung, Edward Gunawan

Awal dekade ini dimulai dengan cukup banyaknya stylish horror di film pendek Indonesia. Salah satu yang paling berkesan adalah film ini. Tentu saja akting dari pemain profesional sangat membantu kita sebagai penonton dengan cepat masuk ke dalam cerita yang singkat, dan padat. It is stylish, it is short, and it is well told.

Penderes dan Pengidep (2014)
Sutradara: Achmad Ulfi

Satu lagi dari Purbalingga. Film dokumenter yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri yang berada di garis kemiskinan, tanpa harus mengeksploitasi kemiskinan mereka. Istri bekerja menjadi pembuat bulu mata palsu, suami bekerja menjadi pembuat gula aren, di mana dia harus naik pohon kelapa berpuluh-puluh meter setiap harinya. Film yang memaparkan keadaan kehidupan as is, tanpa basa-basi. Seperti film-film dari Purbalingga lainnya, pembuatnya masih duduk di bangku sekolah. Semakin meneguhkan pandangan polos dan non judgmental terhadap cerita, yang memang sangat dibutuhkan di sini.

5 Menit Lagi Ah Ah Ah (2010)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak & Sally Anom Sari

Sering kali ada ‘putus hubungan’ yang besar antara televisi dan karya audio visual lainnya seperti film panjang, film pendek, sampai video instalasi. Namun lewat film ini, kita diingatkan lagi betapa (masih) kuatnya pengaruh televisi di masyarakat kita. Betapa televisi masih menjadi candu yang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Termasuk reality show contest and its aftermath, sesuatu yang sering kita lihat dan dengar, namun jarang yang benar-benar kita perhatikan dengan seksama. Film ini secara akurat memaparkan realita pahit dari pemenang sebuah reality show contest, yang tidak dibuat pahit. Just like life, it continues to struggle. Film yang membuat kita akan ‘manggut-manggut’ berusaha untuk memahami hidup yang keras.

Embed https://www.viddsee.com/player/djq8l

Titik Nol (2009)
Sutradara: Nicholas Yudifar

Dari daftar film pendek di sini, mungkin film ini yang membuat saya langsung teringat dengan idiom “seeing is believing”. Bisa ditambah, “seeing, and hearing, is believing”. Penggunaan puisi sebagai narasi memang tricky dalam film. Makanya jarang digunakan. Sekali digunakan, hasilnya akan menyentuh. Seperti yang ada di film ini. Setelah ditonton ulang beberapa tahun kemudian, masih menggetarkan hati. It’s a rarity.

Balik Jakarta (2016)
Sutradara: Jason Iskandar

Jason Iskandar, yang sudah membuat film pendek sejak SMA, bisa jadi merupakan sutradara muda yang paling berbakat. Selain berbakat, dia konsisten membuat film pendek dengan fokus penceritaan yang cukup tajam. Karya-karyanya selalu bermuara pada persoalan personal, yang mempengaruhi gaya visualnya. Namun di film ini, pendekatannya terasa berbeda. Dengan konsep road trip, Jason menjelajah sebagian isi ibu kota dari sisi yang, sekali lagi, terasa humanis. Definitely worth watching.

Kapur Ade (2014)
Sutradara: Firman Widyasmara

Berbeda dengan film non-animasi, film pendek animasi di Indonesia secara jumlah masih sedikit. Di luar karya iklan atau kepentingan komersil lainnya, setiap tahun hanya ada puluhan, tidak sampai 50, film pendek animasi di Indonesia dibuat. Dari yang sedikit itu, film ini termasuk yang mengesankan. Lagi-lagi soal cerita permasalahan kota besar. Namun fokus cerita yang berpaku pada mata yang masih lugu dan polos membuat kita terbawa sepanjang film ini.

Vampire (2014)
Sutradara: Fitro Dizianto

Sebagai penutup, rasanya saya hanya bisa menggambarkan film ini dengan menggunakan kata berikut dari bahasa slang Jawa Timuran: “ngguatheli pooolll”! Film yang akan membuat Anda … ah, tonton sendiri saja! 😉

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berlibur, dan selamat menonton!

4 thoughts on “#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an Leave a comment

Tinggalkan Balasan