Lulu Lutfi Labibi, Perancang Suasana Hati

Malam itu di sudut Ibu kota sedang berlangsung salah satu acara kesenian termewah. Besar kemungkinan ada pengunjung acara tersebut yang mengenakan pakaian Lulu Lutfi Labibi. Di malam itu juga Lulu memilih salah satu cafe kecil di pojokan Halim Perdanakusuma untuk diwawancara khusus buat linimasa.com. Sambil menantikan jam pesawat yang akan membawanya pulang ke Jogja. Perjalanan pulang yang akan selalu mengingatkannya pada kepulangannya di tahun 2013 meninggalkan Ibukota. Sampai 2015, majalah Dewi yang saat itu dipimpin oleh Leila Assegaf – yang juga penulis linimasa- memberikannya panggung di Dewi Fashion Knight. Saat itu Lulu membawakan Jantung Hatinya.

Dua hal yang selama ini dilekatkan pada dirinya oleh media dan dirinya sendiri adalah teknik menjahit draperi dan bahan lurik. Kedua sarana itu dan tubuh manusia sebagai kanvasnya telah dipilih Lulu untuk menyampaikan gagasannya. Gagasan yang mungkin selama ini belum bisa dirumuskan oleh Lulu sendiri atau bahkan tak dia pedulikan. “Apa sih artinya gagasan?” tanya Lulu. Lulu memang sedang asik bermain-main di rumah yang juga menjadi butiknya di salah satu gang depan pasar di Kotagede.

Coba tengok akun Instagramnya yang menampilkan hal-hal kecil nan lumrah di sekitarnya seperti daun pisang, kucing rumah, terpaan sinar matahari, seonggok jerami yang saking lumrahnya luput dari perhatian orang, ditangkap oleh Lulu untuk kemudian disodorkan kembali dengan bentuk yang lebih relevan, pakaian. Lulu seolah sedang berusaha mengingatkan bahwa kebahagiaan dan keindahan tak perlu dicari ke mana-mana. Dia ada di sekitar kita. Dia ada di dalam hati. Inilah gagasan besar Lulu Lutfi Labibi.

Menengok ke belakang soal koleksinya, dia beri nama Jantung Hati (2015) menyampaikan kedalaman perasaan, Gedangsari Berlari (2016) bekerjasama dengan SMKN 2 Gedangsari di dekatnya, Hypecyclus (2017) kolaborasi dengan seniman Yogyakarta. Dan terakhir, Perjalanan. Yang merupakan perjalanan ke dalam, ketimbang perjalanan ke luar. Di video presentasinya Lulu meruntuhkan sekat jarak dan menyampaikan perasaannya di semesta yang lebih luas dari rumah, kampung dan kotanya.

Gagasan ini lagi-lagi tercermin dari prakata yang ditulisnya sendiri untuk Tirakat koleksi terbarunya “… kita lupa untuk memberikan ruang yang cukup longgar untuk sedikit pelan, sedikit mengerem suatu keinginan, dan sesekali menyapa inti terdekat dalam diri sendiri hanya untuk menanyakan apa kabar”. Menjelaskan tentang koleksinya kali ini dengan bahasanya sendiri “kali ini akan menampilkan sisi noraknya Lulu. Akan ada dangdut koplo dan warna warni. Akan ada model yang menenteng jerami… Berbeda dengan Perjalanan yang moodnya kan sunyi. “ Lulu sama sekali tidak membahas soal penggunaan bahan dan cutting. Padahal ada bahan campuran katun dan linen yang merupakan favoritnya muncul di Tirakat. Dia berbicara soal suasana hati yang akan ditampilkannya. Karena dia perancang suasana hati.

Di dalam tempurungnya Lulu membuat sendiri lubang-lubang agar sinar tetap masuk ke dalam sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Sinar Dries van Notten, Yohji Yamamoto dan Akira Isogawa yang diizinkan masuk itu jatuh di dandang dan cerek dapurnya kemudian memantul ke kandang kerbau seberang butiknya. 

Jangan pernah mengajaknya diskusi politik, dia tidak tertarik. Jangan pula berdiskusi soal fashion, dia juga tidak tertarik. Tapi tanyakan makan siang apa hari ini? Maka dengan senang hati dia akan memamerkan kemewahan masakan Mbok di rumahnya. Atau tanyakan kabar kucing peliharaannya. Atau soal pohon pisang yang ada di belakang butiknya. Tanyakan soal nasi kucing angkringan saat makan malam tadi. Lulu akan menjelaskan dengan panjang lebar. Bukan hanya soal nasi kucingnya, tapi juga orang-orang yang ditemui saat makan bersama. Pantang menanyakan soal cinta padanya, karena saat ini dia sedang memilih jalan sunyi sendiri. Hal-hal inilah yang menjadi nafas karya-karyanya.

Josephine Komara atau O’bin pernah berkata “fashion is all about silhouette“. Maka yang Lulu lakukan selama ini adalah bermain-main dengan siluet. Draperi adalah cara yang sering digunakannya. Bukan tak mungkin suatu saat Lulu akan mengeksplorasi teknik menjahit yang lain. Yang akan terus dilakukannya adalah mengobrak-abrik tampilan bentuk tubuh manusia saat berpakaian agar tak selamanya sempit pada “keliatan lebih langsing”. Selama ini terbukti berhasil dengan relanya pembeli  dari Jakarta khusus ke Yogyakarta untuk membelinya. Ini salah satu sebab mengapa Lulu sering disebut Anomali.

Keberhasilan terbesar dalam perjalanan Lulu adalah membuat pemakainya menemukan dirinya yang baru saat mengenakan pakaian Lulu. Penemuan-penemuan diri yang baru inilah yang menjadikannya menarik bagi pemakainya. Ternyata pantas juga. Seru juga. Asik juga. Tak banyak pakaian yang bisa memberikan rasa dan suasana hati yang berbeda. Rasa yang muncul saat mengenakan karya Lulu bukan karena lurik, bukan karena draperi, bukan pula karena telah dipakai banyak orang, tapi karena gagasan yang teranyam diantaranya.

“Harusnya sih enggak ya….” kata Indah Ariani penggiat dan pemerhati seni, saat ditanya apakah Lulu selamanya harus terdikte menggunakan lurik dan draperi. Setelah semuanya ini, menantikan karya Lulu Lutfi Labibi berikutnya bisa jadi semakin mengasyikkan atau semakin membosankan semua ada di tangan Lulu. “Aku harus semakin menjaga jarak antara Lulu dan Lulu Lutfi Labibi. Kalau terlalu dekat dan intens hasilnya malah jadi kayak apa’an sih Luuuu?! Tapi kalo Lulu bisa main-main dulu, punya waktu lebih buat bernapas, sebelum balik lagi menemui Lulu Lutfi Labibi, kayaknya hasilnya lebih baik” kata Lulu menyimpulkan dirinya sendiri. “Sekarang mungkin lagi perlu gak ngapa-ngapain dulu” kata Lulu mengejar pesawat yang akan membawanya pulang.

 

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Lulu Lutfi Labibi, Perancang Suasana Hati Leave a comment

Tinggalkan Balasan