Pokoknya Marah Dulu

“Kepada penumpang Sitiling kami informasikan pesawat Anda ditunda keberangkatannya…” sayup-sayup suara pengumuman itu menghilang di kepala saya. Satu setengah jam tertunda, ya sudah. Sepertinya ini bukan peristiwa langka di seluruh dunia. Segera saya kabarkan pihak di kota yang dituju. Supaya tak menunggu terlalu lama. Mati Baik-Baik Kawan –  Martin Aleida saya keluarkan dari tas punggung yang selalu menemani di setiap perjalanan. Tapi baru halaman 4, maaf Martin, kali ini godaan untuk membuka Instagram lebih kuat. Beberapa foto saya posting sambil menonton IG Story orang-orang favorit yang memang langsung sukses membuat saya tersenyum sendiri.

Setelah bosan, saya melanjutkan membuka Facebook untuk menemukan tautan menarik. Sambil membaca, seketika saya merasa sebenarnya sudah lama saya tak mengalami ini. Sendirian tanpa gangguan sama sekali. Di sini tak ada yang bisa menemui saya. Kalau pun mencari saya, pastinya tidak bisa langsung ditemui. Saya mendadak terisolasi dan saya sangat menikmatinya. Jaz menemani saat langka ini. Entah sudah berapa kali berputar Dari Mata saya tak peduli. Saya pun menghilang.

Sampai kandung kemih yang merintih menemukan saya kembali. Saya pun membenahi tas. Begitu membalikkan badan, saya terkejut menyaksikan kerumunan penumpang di depan meja resepsionis. Di balik meja itu ada seorang kru darat yang terduduk sambil menatap kosong komputer di depannya.

“Saya ini kan pilih Sitiling karena katanya on time, lah kalo tiba-tiba begini gimana pertanggung jawabannya?” Hardik seorang Ibu yang pakaiannya tampak lebih terhormat dari rata-rata manusia di bumi.

“Mana managernya, mana?!!!” teriak seorang pemuda.

Sudah jalan ke sini” jawab kru itu.

“Jangan jalan dong, lari! Lari!!!” Teriak pemuda itu lagi.

Selintas percakapan yang saya dengar tentunya dengan intonasi marah. Seorang penjaga kamar kecil yang menonton kejadian itu, saya tanyai “kenapa itu pak?”

“Ya itu pesawat terlambat” jawabnya.

“Dari tadi ini?” tanya saya lagi.

“Iya pas pengumuman, langsung pada ngumpul”.

Sambil melepaskan beban kandung kemih tadi saya bertanya dalam hati, emang kalo marah-marah bisa bikin pesawat jadi tepat waktu? Bisa dapat ganti rugi semua biaya tiket? Toh sesuai perjanjian tertulis, makanan dan minuman ringan telah disediakan. Tapi dari wajah para penumpang itu saya bisa melihat kebahagiaan dan kepuasan melampiaskan amarahnya. Mungkin ini salah satu bentuk kekecewaan saja.

“Ditanyain cuma iya-iya aja, minta maaf pun enggak” gerutu seorang penumpang lagi. Kenapa kru itu harus minta maaf? Pesawat terlambat bukan karena kesalahannya. Kalau pun dia minta maaf maka itu hanya formalitas. Dan saat pengumuman keterlambatan, permintaan maaf formal kan sudah disampaikan. Harus berapa kali minta maaf?

Tak berapa lama panggilan untuk masuk ke pesawat berkumandang. Saya pun bergegas menuju gerbang itu. Yang ternyata sudah dipenuhi penumpang mengantri masuk pesawat. Sambil berdiri mengantri tiba-tiba terdengar suara tak sabar di belakang saya “buruan, buruan!!!”. Saya melihat ke arah bapak itu dan mempersilakannya maju ke depan saya. Ini kan bukan urusan siapa cepat dia dapat. Semua pasti kebagian kursi. Nomor kursi sudah tertera di boarding pass. Masuk pertama atau belakangan, tak ada bedanya.

Perjalanan di angkasa berjalan dengan lancar. Sampai setelah pesawat berhenti, belum lagi ada aba-aba dari kru pesawat, para penumpang segera berdiri mengambil tas dan seolah berebut hendak keluar pesawat. Tadi mau buru-buru masuk pesawat sekarang mau buru-buru keluar pesawat. 

Ada apa gerangan? Jangan-jangan saya yang selama ini kelewat santai.

Setelah keluar pesawat, saya pun menuju ban berjalan menanti barang saya. Dan benar saja, hampir semua penumpang yang tadi ingin buru-buru keluar, sekarang berdiri di depan ban itu juga. Keluar pesawat duluan tak berarti barang keluar duluan. Bahkan saat semua penumpang sudah menunggu pun barang belum tentu bisa langsung keluar. Lalu apa gunanya berebutan keluar pesawat? Tak bisakah menjalaninya dengan kalem saja?

Sesampainya di kamar hotel, saat sedang bebersih untuk mempersiapkan acara hari itu, tiba-tiba AC bocor dan airnya jatuh di lantai berkarpet. Dalam perjalanan keluar saya sempatkan mampir ke resepsionis untuk melaporkan. “Airnya jatuh ke karpet, kalau basah kan repot bisa bau sekamar nanti” saya melapor. “Baik Pak, akan segera saya periksa”. Saya pun pergi melanjutkan aktivitas hari itu sampai menjelang malam. 

Saat di lift balik kamar, bersama dengan saya seorang tamu dan seorang karyawan hotel yang mengenakan jas. Tamu itu berbicara dengan pitch tinggi “saya kan udah bayar ini hotel mahal Pak, masa AC kamar bisa bocor beggitu? Hotel apa’an sih ini? Bapak managernya kan? Urus yang becus dong Pak! Kita udah capek di jalan, sampe kamar kok malah dibeginiin!!!” Saya mendengarkan sambil memutar mutarkan kepala saya untuk pelemasan saja.

Kejadian-kejadian ini sepertinya sering kita temui sehari-hari. Melihat orang yang marah-marah untuk banyak hal. Bukan hanya urusan macet, yang pastinya marah tak akan bisa menyelesaikannya, tapi juga urusan kopi yang disajikan kurang panas atau kepanasan, sampai soal standar sopan santun seorang menteri. 

Saya mendapatkan impresi, semua hal bisa jadi alasan untuk melampiaskan kemarahan. Marah demi memuaskan diri sendiri atau marah supaya bisa memperbaiki keadaan, semakin lama semakin buyar garisannya. Semua berhak marah dan saya sedang tidak berusaha menghentikan itu. Marah adalah hak segala bangsa. Yang lucu sebenarnya, yang marah jadi bertambah marah karena yang lain tak ikut marah. Ha. Ha. Ha.

Hidup diantara para sumbu pendek, pastinya bukan perkara mudah. Godaan untuk ikut marah itu besar sekali. Dan jangan dikira yang tak marah itu tak kesal. Bukan berarti pula yang tak marah artinya diam saja. Perbedaannya mungkin, ada yang marah dengan cara yang lebih bersahabat dengan tensi dan jantung. Marah pun ternyata ada tingkatannya. Marah langsung jotos, ini paling primitif dan yang tertinggi adalah marah dengan diam.

Tidak semua kemarahan itu mubazir, banyak yang ada gunanya. Kemarahan bisa memperbaiki keadaan, bisa memberikan energi untuk berkarya, semangat untuk berolah raga, dan banyak lagi bukti nyata yang diakui dunia bersumber dari kemarahan. 

Seperti kemarahan pejalan kaki karena trotoar dipakai oleh kendaran roda dua. Atau warga yang marah karena ketua RT diduga melakukan korupsi. Atau kemarahan mahasiswa karena dikekang sebuah orde pemerintahan. Bahkan ada masanya para seniman di tanah air kita didorong untuk marah sebagai simbol perlawanan. 

Alanis Morissette, Pink, Taylor Swift dan Beyonce pernah meraih ketenaran karena lagu tentang kemarahan. Picasso, Roy Lichtenstein, Francis Bacon, pelukis yang karyanya sering didasari pada kemarahan. Favorit saya tentunya Banksy, marah pada situasi politik yang disampaikan dengan cara ciamik. Sayang kan kalau kemarahan terbuang percuma bersama angin. Setidaknya jadikanlah tulisan.

Marah bukanlah musuh tapi perlu belajar untuk disampaikan dan disalurkan dengan cara cerdas. Kalau sekedar marah-marah saja, saya punya teori disebabkan oleh kurang seks dan atau kurang gula. Kemudian beberapa teman menambahkan, kurang makan, kurang uang, kurang olahraga, kurang pengakuan, kurang perhatian sampai kurang serat sehingga tak bisa pup, bisa jadi penyebab gampang marah.

Kurang seks, karena saya yakin seks adalah kebutuhan dasar manusia. Sama seperti makan. Jadi kalo itu kurang, bisa menyebabkan kegelisahan. Kurang gula, karena gula bisa bikin bahagia. Kurang olahraga, karena energi dalam tubuhnya bertumpuk sehingga butuh penyaluran. Kurang pengakuan, sama seperti seks, pengakuan dan perhatian adalah kebutuhan dasar. Dan berbagai kurang-kurang lainnya yang membawa kita pada satu kesimpulan: sebelum mengambil hak untuk marah-marah, selesaikan dulu kewajiban untuk memenuhi segala kekurangan.

 

 

Iklan

18 thoughts on “Pokoknya Marah Dulu

  1. Aku suka tulisan ini, aku pun ga ngerti knapa ada yg mesti kudu marah2 sampe memaki atw tendang2 meja kursi kerja. Mending duduk d meja makan, kmudian menyinyir habis sambil ngemil. Lbh beradab dan memuaskan hati. Bapaknya kurang olahraga bs jadi atw cuman kurang piknik. *ya ampun jd curcol

    Suka

  2. Mas Glenn,
    Terima kasih banyak sudah menuliskan ini.
    Bagian ini “Yang lucu sebenarnya, yang marah jadi bertambah marah karena yang lain tak ikut marah.” Hahaha banget emang.
    Seolah-olah kita punya kewajiban utk menemani mereka ikut marah.

    Ada kebajikan dan kebijaksanaan yang bisa diambil dari tulisan ini.

    Salam cerah,

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s