Susilo Prabowo Dua Anak Cowok Yang Sedang Jomblo

Kuasa adalah hak untuk melakukan sesuatu. Juga dapat diartikan kekuatan atau kesanggupan. Mampu. Sanggup.

Surat Kuasa berarti memberikan hak kepada orang lain melakukan sesuatu atas nama pemberi kuasa.

Penguasa mendapatkan kekuasaannya atas amanah rakyat. Pemberi kuasa adalah rakyat. Lalu mengapa pemberian kuasa ini diperebutkan? Mengapa perebutan kekuasaan lebih menarik daripada memberikan kekuasaan?

Tidak ada kewajiban sama sekali dari warga negara untuk memberikan kuasa kepada wakilnya atau memilih pemimpinnya, karena itu adalah hak. Namun menjadi kewajiban bagi warga untuk mentaati pemimpin. Merupakan konsekuensi logis jika kita tak menggunakan hak kita dalam memilih pemimpin adalah bentuk pasrah (atau tidak peduli) siapapun pemimpinnya, namun berjanji akan mentaati siapapun yang nantinya jadi pemimpin.

Oleh karena itu memilih pemimpin adalah mitigasi risiko atas kemungkinan potensi kerugian atas terpilihnya pemimpin yang merugikan.

Sesuatu yang menjadi aneh adalah jika bukan pemimpin dan terbukti tidak memiliki hak untuk memimpin seolah-olah merasa menjadi pemimpin dan bertingkah laku bagai pemimpin dan merasa memiliki hak untuk memimpin.

Susilo bertemu dengan Prabowo. Susilo pernah memimpin. Prabowo masih pemimpi. Lalu seaakan-akan pertemuan mereka adalah sesuatu yang penting. Memberikan manfaat bagi warga?

Dua orang mantan militer ini seolah-olah memiliki keyakinan bahwa negeri yang makmur dan diberkahi kekayaan alam oleh Tuhan ini dapat disiasati dan diatur kekuasaannya oleh mereka berdua. Dua orang tua ini bagi kita sama saja dengan dua orang petani yang sedang bercengkrama di kedai saat rehat makan siang. Tidak ada yang istimewa. Susilo sudah pernah kita icipi bagaimana cara dia memimpin. Prabowo ndak perlu kita icipi karena yang dia sajikan bukan selera kita. Mereka lupa bahwa warga sedang memberikan haknya kepada yang lain. Seorang sipil yang sederhana. Atau justru itu yang terbawa mimpi oleh mereka, mengapa pemimpin sipil justru yang memimpin. Atau jangan-jangan mereka sedang memastikan junior militer mereka, Gatot bisa digadang-gadang untuk memimpin negeri ini asalkan ndak lupa dengan senior sesama kaum militer.

Dalam benak mereka status militer masih saja lebih tinggi kastanya dari anak cungkring kurus kering lulusan universitas negeri. Bagi mereka lebih gagah yang pernah berbaris rapi dan paham menggunakan senjata untuk memimpin negeri dibandingkan yang lebih senang duduk bersama petani.

Sedangkan Jokowi adalah pemimpin saat ini. Dia sedang sibuk bekerja.

Pemimpin negeri ini bukan saja harus pandai menentukan bauran kebijakan dari berbagai sektor. Dia kudu cepat belajar dan paham kebijakan fiskal, penanganan defisit neraca pembayaran, paham pemanfaatan sumber energi, manajemen sektor riil yang sungguh berkaitan dengan sektor swasta dan ekonomi rumah tangga, tahu pentingnya UMKM buat negeri ini. Yang dapat memerintahkan menteri agar tak hanya bicara blokir namun menggenjot infrastruktur telekomunikasi agar pelosok nusantara semuanya diliputi sinyal jaringan, semuanya bisa belanja online, semuanya bisa main facebook, semuanya bisa memanfaatkan kekayaan alam digital.

Karena kekuasaan tidak melulu menggunakan jas, dasi, foto dengan banyak pemimpin negeri dan berorasi di fora internasional. Kekuasaan ini ada di harga cabai, beras dan ikan cakalang. Ada pada ketersediaan bahan pokok. Juga ada pada tabung elpiji yang menjadi urat nadi ekonomi pinggir jalan.

Karena kekuasaan tidak hanya pada kacamata hitam, sisiran rapi dan sasak rambut sang istri yang begitu tinggi. Kekuasaan dan kemampuan memimpin negeri juga ada pada soal koordinasi. Bagaimana mengembangkan tol laut sebagai sarana lalu lintas perekonomian yang penting bagi negeri ini. Bagaimana menyikapi pencurian ikan yang selama ini dibiarkan. Juga koperasi dan bank kecil yang tidak berpihak kepada ekonomi rakyat.

Karena kekuasaan tidak hanya bicara naik mobil sedan warna hitam, dikawal oleh sederetan polisi perut buncit. Kekuasaan juga adalah koordinasi memastikan banyak hal soal ekonomi canggih. Dia ada pada naik turunnya harga saham, jumlah investasi langsung dari luar negeri atau laku tidaknya surat utang negara kita. Kekuasaan juga bicara seberapa banyak ketersediaan uang yang dimiliki setiap lembaga keuangan. Terlebih lagi, bukan hanya bicara gedenya cadangan devisa kita, melainkan sudah mapankan fundamental ekonomi kita.

Kekuasaan tidak hanya bicara berapa kuota haji kita, melainkan memastikan bahwa kehidupan beragama telah selayaknya menjadi anugerah bagi alam raya bumi pertiwi. Apakah tetap dibiarkan jika grafik kenaikan jamaah haji sejalan dengan jumlah korupsi di negeri ini? Mengapa banyak pemimpin yang lebih sering cuti umroh dibandingkan pemimpin yang meninggalkan keluarganya untuk menengok rakyatnya bekerja dan memberi semangat bahwa hari esok akan semakin cerah. Biar lelah asal berkah.

Karena kekuasaan tidak hanya membuat banyak undang-undang dan segala macam aturan yang saling tumpang tindih bertabrakan kocar kacir ndak karuan. Karena  kebijakan yang baik adalah hasil dari pengamatan dan pengalaman yang telah dikoordinasikan. Pemimpin yang tak membusungkan dada. Pemimpin yang dapat memilih perangkat anak buah yang sehat jasmani rohani dan tidak hanya bicara menumpuk pundi-pundi harta untuk anak istri atau untuk suami. Pemimpin yang ndak jaim dan berjarak dengan siapapun juga.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pemimpin tidak perlu pamer seberapa dekat ia dengan tuhan. Tapi ia harus menunjukkan seberapa intim dirinya dengan warga. Tidak hanya soal keberpihakan, namun jauh lebih dari itu: Senyum seluruh warga adalah mimpinya yang tersimpan rapi di dalam hati.

salam anget,

roy

Capres 2024

 

 

Iklan

7 thoughts on “Susilo Prabowo Dua Anak Cowok Yang Sedang Jomblo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s