Aku Ragu Maka Aku Yakin: Pandangan Yahudi Agnostik Atas Turunnya Alquran Kepada Muhammad

Hapuskan semua keraguan, dan yang tertinggal bukanlah keyakinan, melainkan kepastian mutlak yang tidak punya perasaan

Beberapa jam yang lalu saya menonton filem “Dunkirk“. Kisah peperangan era Jerman menguasai hampir seluruh Eropa. Dunkirk sendiri diambil dari  nama sebuah kota kecil di sisi utara Prancis, daerah terakhir yang dapat dipertahankan pasukan Inggris dan Prancis dari gempuran tentara Jerman.

Dunkirk_Film_poster

Tidak seperti filem perang lainnya yang menampilkan sisi heroik, dimana tokoh utama dengan gagah berani membabat habis musuh-musuhnya dengan tembakan jitu, rentetan peluru, atau lemparan granat, filem ini memiliki sisi kepahlawanan dengan cara yang berbeda. Sepanjang filem dipenuhi dengan wajah ketakutan dan perasaan yang memancarkan sisi traumatik prajurit perang. Wajah prajurit yang penuh takut mendengar suara mesin pesawat, merunduk dan tiarap ketika bom yang dijatuhkan menyentuh tanah dan ledakan terdengar dimana-mana.

Sang tokoh dalam filem tidak sedang sibuk membunuhi lawan-lawannya. Dia sibuk menyelamatkan diri dari desakan musuh. Dirinya sibuk kesana-kemari untuk sekadar bertahan hidup. Dia berharap bisa pulang. Syukur-syukur bisa membantu teman lainnya selamat dari peperangan. Sepanjang filem sang tokoh tiada hendi ditembaki tentara musuh yang sama sekali tak berwujud. Tak diketahui sama sekali tembakan itu berasal dari mana.

Bagi saya filem Dunkirk adalah filem perang dengan kamera yang selalu “close-up”. Bukan close-up kepada wajah para pemeran filem. Namun filem yang bercerita sedekat mungkin dengan emosi dan jiwa para pelaku. Filem yang menyoroti sisi batin dan alam pikir prajurit perang saat itu. Bahwa perang bukan hanya soal gagah berani. Namun soal ketakutan-ketakutan. Soal hati yang selalu rawan dan cemas. Dalam ketakutan menghadapi dan mempertahankan nyawa, justru disitulah keberanian tak terduga muncul. Bahwa pilihan untuk terus bertahan hidup adalah keputusan paling berani dalam keterdesakan yang amat sangat. Ketika nyawa hanya bagaikan kacang rebus yang tersedia dalam sebuah mangkuk kenduri. Tinggal pilih mana yang akan masuk dalam kerongkongan para tamu.

Sudut pandang pembuat filem yang menampilkan sesuatu secara manusiawi. Bahwa dalam perang semua tak menentu. Semua serba ragu. tak ada kepastian bahkan atas segala sesuatu yang sedang dirasakan.

Sama halnya dengan hidup kita. Sewaktu kecil begitu yakin bahwa hidup itu indah. Hidup itu mulus. Tinggal pilih, jalani, dan nikmati. Semakin dewasa saya baru memahami apa yang dikatakan Kurt Vonnegut: “Hidup itu seperti sepiring tahik.”

Menonton filem ini mengingatkan saya pada sebuah  analisa seorang perempuan Yahudi agnostik yang mengaku menjadi “turis keyakinan” ketika dirinya menulis Biografi Nabi Muhammad SAW dan mengkaji AlQuran perlahan-lahan. Anda yang tertarik bisa menontonnya disini. Namanya Lesley Hazleton.

Hal yang menarik dalam tesisnya itu adalah dia berpendapat bahwa seorang Muhammad pun adalah manusia yang penuh keragu-raguan pada awalnya.

Menulis biografi adalah pekerjaan yang aneh. Pekerjaan ini merupakan perjalanan ke area asing dalam kehidupan orang lain, sebuah perjalanan, suatu penjelajahan yang bisa membawakan pada Anda tempat-tempat yang tidak pernah terbayangkan oleh Anda untuk Anda datangi dan tetap Anda tidak bisa percaya bisa berada di sana, terlebih apabila, seperti saya, Anda seorang Yahudi agnostik sementara kehidupan yang Anda eksplorasi adalah yang dijalani Muhammad. Lima tahun yang lalu, contohnya, Saya terbangun setiap pagi di Seattle yang berkabut oleh pertanyaan yang setahu saya mustahil:

Apa yang sebenarnya terjadi pada suatu malam di gurun pasir, yang berjarak setengah belahan dunia dan hampir separuh sejarah lamanya? Yang terjadi pada malam dalam tahun 610 itu ketika Muhammad menerima wahyu pertama dari Quran di sebuah bukit tepat di luar Mekah?

Ini adalah momen mistis terdalam dari Islam, dan seperti biasa, tentu saja, peristiwa tersebut menantang analisis empiris.

Namun pertanyaan tersebut tidak mau pergi dari pikiran saya. Saya sepenuhnya sadar bahwa untuk seorang sekular seperti saya, hanya dengan mempertanyakannya saja sudah bisa dinilai sebagai chutzpah (kekurangajaran) tulen.

Dan saya mengaku bersalah karena semua penjelajahan, baik fisik maupun intelektual, mau tidak mau dapat bermakna tindakan pelanggaran, menerjang batasan-batasan. Padahal, sebagian batasan lebih luas dibandingkan yang lain. Jadi seorang manusia sedang menghadapi sisi Ketuhanan, seperti dipercaya oleh umat Muslim bahwa itulah yang dialami Muhammad, bagi rasionalis, ini bukan fakta tapi khayalan, dan seperti kita semua, saya senang menganggap diri saya sebagai orang yang rasional. Yang mungkin menjelaskan mengapa ketika saya menengok sumber paling awal yang kita punya dari malam itu, yang lebih menohok saya dibandingkan apa yang sebenarnya terjadi adalah apa yang sebenarnya tidak terjadi.

Muhammad tidak melayang ke atas bukit itu seperti berjalan di udara. Dia tidak berlari menuruni bukit sambil berseru, “Haleluya!” dan “Puji Tuhan!” Dia tidak memancarkan sinar dan kegembiraan. Tidak ada satu pun paduan suara malaikat, tidak ada musik dari langit, keriangan, kegembiraan, tidak ada aura keemasan menyelubunginya, tidak ada pemahaman mutlak, pentahbisan sebagai utusan Tuhan.

Nah, dia tidak melakukan hal-hal itu yang dengan mudah menyerukan kepalsuan, dan menempatkan keseluruhan kisah itu sebagai dongeng kesalehan. Justru sebaliknya. Dalam kata-katanya sendiri, dia yakin pada mulanya bahwa yang baru terjadi tidak mungkin nyata. Yang paling mungkin, menurutnya, kejadian tersebut merupakan halusinasi — tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri yang bekerja melawan pemiliknya. Yang terburuk, kesurupan — bahwa dia telah kerasukan jin jahat, jin yang keluar untuk memperdayainya, bahkan untuk menghancurkan kehidupannya. Malahan, dia begitu yakin bahwa paling mungkin dia sudah jadi majnun, dikuasai oleh jin, sehingga ketika dia menyadari dirinya masih hidup, impuls pertamanya adalah untuk menuntaskan sendiri pekerjaan itu,untuk melompati rintangan tertinggi dan membebaskan diri dari teror yang baru dia alami dengan menyudahi semua pengalaman.

Jadi, pria yang berlari menuruni bukit malam itu gemetar bukan karena gembira melainkan oleh ketakutan primordial yang sebenarnya. Dia tidak dipenuhi oleh kepastian, melainkan keraguan. Dan disorientasi penuh kepanikan itu, yang memisahkan dari semua yang familier, yang menakuti kesadaran akan sesuatu yang melampaui pemahaman manusia, hanya bisa disebut sebagai kekaguman. Mungkin agak sulit untuk memahami karena sekarang kita menggunakan kata “mengagumkan” untuk menggambarkan aplikasi baru atau video yang mewabah.

Dengan pengecualian mungkin bencana gempa bumi besar kita menutup diri dari kekaguman yang sebenarnya. Kita tutup pintu-pintu dan duduk mencangkung, yakin bahwa kita berada dalam kendali,atau, setidaknya, mengharapkan kendali. Kita lakukan apapun untuk mengabaikan fakta bahwa tidak selamanya kita memilikinya, dan bahwa tidak semuanya bisa dijelaskan. Namun, tidak peduli apakah Anda rasionalis atau mistis, apakah Anda mengira bahwa kata-kata yang didengar Muhammad malam itu berasal dari dalam dirinya sendiri atau dari luar, yang jelas dia benar-benar mengalaminya, dan bahwa dia mengalaminya dengan suatu kekuatan yang sanggup menghancurkan pikiran sehat dan dunianya dan sebaliknya mengubah lelaki sederhana ini menjadi seorang penganjur radikal untuk keadilan sosial dan ekonomi.

Takut adalah satu-satunya tanggapan sadar, satu-satunya tanggapan manusiawi. Terlalu manusiawi untuk sebagian orang, seperti teolog Muslim konservatif yang menjaga agar kisah keinginannya untuk bunuh diri tidak boleh disebut-sebut, meskipun itulah fakta yang terdapat di dalam biografi-biografi Islam paling awal. Mereka memaksakan bahwa dia tidak pernah ragu, sekejap pun, apalagi putus asa. Menuntut kesempurnaan, mereka menolak untuk menoleransi ketidaksempurnaan manusia. Tapi apa, persisnya, yang tidak sempurna dari keraguan? Sebagaimana yang saya baca dari sumber-sumber awal, saya menyadari keraguan Muhammad-lah yang menjadikan dia sosok nyata bagi saya, yang memungkinkan saya untuk mulai melihatnya secara utuh,untuk memahaminya sebagai wujud integritas dari realitas. Dan semakin dalam saya memikirkannya, semakin masuk akal bahwa dia ragu-ragu, karena keraguan penting dalam keyakinan.

Seandainya ini tampak sebagai gagasan yang mengejutkan di awal, pertimbangkanlah bahwa keraguan, sebagaimana dinyatakan Graham Greene, adalah inti dari sesuatu. Hapuskan semua keraguan, dan yang tertinggal bukanlah keyakinan, melainkan kepastian mutlak yang tidak punya perasaan.

Anda yakin bahwa Anda memiliki Kebenaran — mau tidak mau menawarkan K — dengan huruf besar tersirat dan kepastian ini dengan segera beralih menjadi dogmatisme dan kebenaran, dengan itu saya maksudkan harga diri demonstratif yang berlebihan untuk menjadi yang paling benar, singkatnya, arogansi fundamentalisme.

Tentu ini hanya salah satu dari sekian banyak ironi sejarah bahwa satu seruan favorit dari fundamentalis Muslim sama dengan yang pernah digunakan oleh fundamentalis Kristen yang dikenal sebagai Pengikut Perang Salib: “infidel (kafir),” berasal dari bahasa Latin yang berarti “tidak setia/tidak beriman.” Ironi ganda, dalam kasus ini, karena absolutisme mereka sesungguhnya lawan dari keyakinan. Akibatnya, merekalah yang kafir (tidak setia). Sebagaimana fundamentalis semua aliran agama, mereka tidak punya pertanyaan, hanya ada jawaban. Mereka menemukan penawar sempurna bagi pikiran dan suaka ideal bagi tuntutan ngotot untuk keyakinan yang nyata. Mereka tidak perlu memperjuangkannya seperti Yakub bergulat melewati malam dengan malaikat, atau seperti Yesus yang sepanjang 40 hari dan malam di alam liar, atau seperti Muhammad, bukan hanya malam itu di bukit, melainkan sepanjang tahun-tahunnya sebagai nabi, bersama Quran yang terus-menerus mendesaknya untuk tidak berputus asa, dan mengutuk mereka yang paling lantang menyatakan bahwa mereka tahu semuanya yang ada untuk diketahui dan bahwa mereka dan mereka sendiri yang benar.

Dan kita, mayoritas yang besar namun terlalu tenang, telah menyerahkan arena publik pada minoritas ekstremis ini. Kita izinkan Yudaisme untuk diproklamasikan oleh penghuni Tepi Barat al-masih yang kejam, Kekristenan oleh para hipokrit homofobia dan fanatik misoginis, Islam oleh para pelaku bom bunuh diri.

Dan kita biarkan diri kita dibutakan oleh fakta bahwa tidak peduli apakah mereka menyatakan diri sebagai umat Kristen, Yahudi atau Muslim, ekstremis militan tidak lain dari yang disebutkan di atas. Mereka memuja saudara sedarah mereka sendiri sambil berkubang dalam darah orang lain. Ini bukan keyakinan. Ini adalah fanatisme, dan kita harus berhenti mengacaukan keduanya. Kita harus mengenali bahwa keyakinan sejati tidak punya jawaban mudah.

Keyakinan sejati itu sulit dan keras kepala. Keyakinan sejati menyertakan perjuangan yang terus-menerus, pertanyaan bersambung mengenai apa yang kita pikir kita tahu, pergulatan dengan isu-isu dan gagasan-gagasan. Pergulatan ini seiring dengan keraguan dalam percakapan tanpa akhir dengannya, dan kadang-kadang dalam tantangan sadar darinya. Dan tantangan sadar inilah alasan bagi saya, sebagai agnostik, untuk masih bisa punya keyakinan. Saya punya keyakinan, misalnya, bahwa perdamaian di Timur Tengah mungkin tercapai meskipun sekian banyak bukti terus bertambahmenunjukkan sebaliknya. Saya tidak yakin akan hal ini. Saya nyaris tidak bisa mengatakan saya mempercayainya. Saya hanya bisa punya keyakinan akan hal itu, berkomitmen pada diri sendiri, yaitu, pada ide tentang hal itu, dan saya melakukan ini karena godaan untuk mengangkat tangan parah dan mundur dalam keheningan. Karena putus asa berarti pemenuhan diri. Apabila kita katakan sesuatu itu mungkin terjadi, maka kita bertindak sedemikian hingga kita akan mewujudkannya. Dan saya, untuk satu alasan, menolak cara hidup seperti itu.

Sebenarnya, kebanyakan dari kita sama, tidak peduli kita atheis ataukah theis, atau di manapun kita berada di antaranya ataukah di luar itu, untuk hal tersebut,yang mendorong kita adalah, walaupun kita ragu-ragu dan justru berkat keraguan kita, kita menolak nihilisme keputusasaan. Kita desak keyakinan di masa depan dan juga satu sama lain.

Silakan sebut ini naif kalau Anda suka. Silakan sebut ini idealistis yang mustahil ada kalau Anda mau. Namun satu hal yang pasti: Sebut saja ini manusiawi.

Bisakah Muhammad dengan radikal mengubah dunianya tanpa keyakinan semacam itu, tanpa penyangkalan itu dan berpasrah pada arogansi kepastian yang sempit-pemikiran? Menurut saya tidak. Setelah menemani dia sebagai penulis, selama lima tahun terakhir, saya tidak mengerti seandainya dia mau melakukan apapun kecuali gusar pada kelompok-kelompok fundamentalis militan yang menyatakan diri berbicara dan bertindak atas namanya di Timur Tengah dan di manapun saat ini. Dia akan terguncang atas tindakan represi terhadap separuh populasi karena jenis kelamin mereka. Dia akan tercabik-cabik akibat kejamnya pemecahbelahan oleh sektarianisme. Dia akan menantang terorisme karena yang terjadi, bukan cuma tindakan kriminal, melainkan sudah termasuk penghinaan atas apapun yang dia percayai dan perjuangkan. Dia akan katakan yang dikatakan Quran: Barang siapa membunuh satu nyawa maka dia telah membunuh seluruh umat manusia. Barang siapa memelihara keselamatan satu nyawa, berarti menyelamatkam seluruh umat manusia.

Dan dia berkomitmen sepenuhnya pada dirinya sendiri untuk menjalani proses yang keras dan sulit dalam mewujudkan perdamaian. Terima kasih.

(video)

Sengaja saya kutip semua paparan Lesley Hazleton berikut melampirkan tautan video pertemuan dalam forum Ted. Tiada lain agar tak ada pemaknaan sepenggal dan agar Anda dapat memahami konteks paparannya dengan tafsiran Anda masing-masing.

Salam anget,

Roy

kredit:  transkrip video diterjemahkan oleh Dian Vita Ellyati dan direviu oleh Innayah Roza

 

SaveSave

Iklan

6 thoughts on “Aku Ragu Maka Aku Yakin: Pandangan Yahudi Agnostik Atas Turunnya Alquran Kepada Muhammad

  1. Kadang suka kepikiran begini, jangan-jangan tuhan lagi ketawa ngeliatin kelakuan manusia.
    atau andai kita bisa denger tuhan secara langsung, tuhan bakal bilang, “ya elah, sok tau amat sih kalian soal aku.”

    well, who knows?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s