Tol dan Mek

Le, sini dulu. Kamu kan ndak puasa, coba cicipin ini udah pas apa belum bumbunya?” Begitu selalu Ibu memanggilku. Le, dari frasa thole dari kata konthole (penis-nya); lumrah digunakan orang Jawa sebagai panggilan untuk anak laki-laki yang lebih muda, entah ada atau tanpa pertalian keluarga.

Sementara Simbah Putri (nenek, Jawa) selalu memanggil Ibuku dengan Wuk. Misal: “Owalah Wuk, Jeruke keri…” (Yah Nak, jeruknya ketinggalan). Berasal dari kata Gawuk atau Bawuk (vagina). Khusus yang ini mulai jarang digunakan ketimbang Ndhuk, dari kata Gendhuk yang berarti tonjolan atau telur. Maknanya lebih dalam dari sekedar kelamin perempuan.

Uniknya, ketiga panggilan di atas meski merujuk pada alat kelamin, tapi ndak sedikitpun punya tendensi negatif. Atau merendahkan, atau keburukan lainnya. Ia justru punya keintiman khusus yang lebih menggambarkan kasih sayang. Ada kedekatan dan perlindungan yang disampaikan oleh Le, Wuk dan Ndhuk.

Simbolisme seksual ini sebetulnya sudah hadir sejak lama di tanah Jawa. Sebelum agama samawi menguasai sebagian besarnya; lalu menabukan kelamin semata-mata alat reproduksi yang kepuasan penggunaannya berkaitan dengan dosa. Juga seks jadi begitu kotor dan rendah.

Lingga Yoni adalah simbol kesuburan dalam masyarakat Jawa kuno. Arcanya didirikan biasanya berhampiran dengan kebun, sawah, sungai bahkan sebagai tonggak berdirinya satu kota atau kampung. Filososi yang sama kabarnya dipakai dalam pembangunan Monas (Lingga) dan gedung DPR/MPR (Yoni). 

Relief Lingga Yoni di Candi Sukuh, Jawa Tengah. sumber: Google.

Tradisi Hindu menerangkan bahwa Lingga Yoni adalah proses penyatuan yang sakral. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru. Sebuah penciptaan. Karena tanpa penyatuan, ndak ada generasi yang berkelanjutan. 

Seks juga disimbolkan dengan Lingga Yoni. Lambang reproduksi laki-laki dan perempuan (phallus dan vagina). Kamus Jawa Kuna-Indonesia mendefinisikan: Lingga (sansekerta) bersinonim dengan tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu. Dan Yoni (sansekerta) yang bersinonim dengan rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (PJ Zoetmulder, SC Robson, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994, 601, 1494).

Makna inilah yang diadopsi orang Jawa secara turun-temurun. Memanggil putra-putri mereka secara sakral, menggunakan simbol yang bermakna kesuburan dan penciptaan.

Lain ceritanya jika hal yang sama kita terapkan dalam kehidupan sekarang menggunakan bahasa Indonesia pasar: Kontol dan Memek. Menjadi: “Tol, sini dulu. Kamu kan ndak puasa, coba cicipin ini udah pas apa belum bumbunya?” Juga “Yah Mek, jeruknya ketinggalan…” Anehnya, meski fungsi dan gramatikanya ndak berubah, tapi kok ndak terasa kehangatan dan kasih sayang dari Tol dan Mek, ya?

Iklan

4 thoughts on “Tol dan Mek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s