Buat Kamu…

MANTAN, seberapa pun tidak menyenangkan dan sungguh-sungguh ingin dilupakan, ternyata selalu sukses menjadi topik pembicaraan yang amat sukar terhindarkan 😅. Sekuat dan setegar apa pun hati telah dipersiapkan, lama kelamaan ya runtuh juga. Ngikut deh. Setidaknya bagi sebagian kecil* orang.


Hari ini, awalnya pengin menulis mengenai hal-hal remeh, trivia, atau informasi-informasi ringan seperti biasa setelah ngomongin perasaan manusia selama dua pekan berturut-turut. Apa kek gitu. Misalnya, kenapa orang Tionghoa Indonesia terbiasa menggunakan istilah “kamu orang” dan “dia orang” untuk menyebut “kalian” dan “mereka”; atau mengapa orang Asia Timur dan sekitarnya terbiasa menggunakan serbuk kayu wangi berbentuk dupa dalam aktivitas spiritualnya; atau soal kebiasaan orang Mahayana melakukan rapalan mirip zikir tetapi secara tertulis; atau ini, maupun topik-topik serupa lainnya. Namun rencana itu berubah seketika setelah baca tulisan Mas Nauval yang manis, menggemaskan dan menyenangkan pekan lalu 😃.

We’ll never get over it, ever. Iya! Sampai kapan pun. Kecuali jika kita mengalami amnesia, ingatan tentang mantan dan segala hal yang terkait dengannya akan tersimpan selamanya dalam gudang memori kita.

Kondisinya sama saja dengan ingatan mengenai sarapan apa kemarin pagi, atau kejadian pertama kalinya jatuh saat bersepeda berpuluh-puluh tahun silam. Pembedanya adalah seberapa besar dampak dan kesan emosional yang ditinggalkan selepas peristiwa berlangsung. Makin kuat dampaknya, makin gampang teringat pula. Apalagi ini soal mantan, pernah pakai hati, dan pakai yang lain sebagainya.

Ingatan tentang mantan dapat muncul ke permukaan dan mendistraksi pikiran seketika itu juga tanpa bisa kita kendalikan. Lagi-lagi, besar-kecilnya distraksi yang timbul juga bergantung pada kuat-lemahnya dampak dan kesan emosional yang pernah ditinggalkan. Ditambah bagaimana cara kita menanggapi ingatan yang muncul. Ibarat membakar korek kayu, apakah kita akan mempertahankan nyala api tersebut dengan memberikan kertas, atau kita biarkan apinya mati setelah batang koreknya habis terbakar.

Masalahnya bukan pada ingatan seperti apa yang muncul, melainkan perasaan yang ikut timbul. Ada ingatan yang bikin kita gembira, sedih, tersipu malu, marah, menyesal, berahi, dan sebagainya. Aneka rupa perasaan itu yang justru mengambil alih kesadaran, bukan ingatannya.

Seseorang yang sudah moved on, bukan berarti berhasil menghapus kenangan tentang mantan sepenuhnya. Melainkan mampu menyikapinya dengan tepat, entah dengan membiarkannya berlalu begitu saja, telah berdamai dengan diri sendiri atas segala hal yang terjadi, atau cepat-cepat sadar bahwa itu hanyalah sisa dari masa lalu yang mustahil diubah dan sama sekali tidak penting untuk terlampau diperhatikan. Terkecuali kalau berencana untuk melakukan rekonsiliasi, atau mengejar si dia kembali.

Namanya juga penyesalan, selalu datang belakangan. Lagian, siapa suruh dijadikan mantan. Enggak balikan tapi kangen. Mau balikan, malu ama gengsi. 😝

Ada tiga jenis mantan sejauh ini:

  • Mantan yang menyadarkan,
  • Mantan yang terindah, dan
  • Mantan yang membanggakan.

Ketiganya patut mendapatkan apresiasi dan terima kasih sesuai jasanya masing-masing. Walaupun tampaknya ada lebih banyak orang yang berikrar untuk jangan sampai terhubung kembali dengan sang mantan. Sebab sebaik apa pun seorang mantan, pada akhirnya tetap menjadi mantan. Menyisakan kecanggungan. Hahahaha!

Mantan yang menyadarkan adalah mantan yang kehadirannya membuahkan pelajaran, baik secara menyenangkan atau pun tidak. Membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu, bahkan sangat paham.

Dari interaksi dengan mantan yang satu ini, kita benar-benar menyadari kekurangan diri dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut, serta menyadari pentingnya untuk selalu waspada dan berhati-hati ke depannya.

Dari yang sebelumnya kurang peduli kesehatan dan penampilan, perlahan-lahan mulai nge-gym dan belajar terlihat modis hingga keterusan jadi kebiasaan. Dari yang sebelumnya malas menyelesaikan skripsi, akhirnya bisa jadi sarjana juga. Lengkap dengan nama sang pacar (yang kemudian jadi mantan) di halaman terima kasih, dan salah satu salinannya bertengger berdebu di perpustakaan kampus. Dari yang sebelumnya gampang jatuh cinta dengan cowok keren, menjadi lebih serius mengenali seseorang sebelum memutuskan berpacaran dengannya. Cakep-cakep tapi abusive kan bahaya juga, yang dalam banyak kasus lebih susah mutusinnya. Bagi kamu yang tengah terlibat dalam hubungan semacam ini, mantankan dia segera!

Mantan yang terindah adalah kategori paling absurd dan paradoks, namun tetap ada. Barangkali mesti jadi mantan dulu baru bisa mencapai keadaan terindah, atau mungkin belum tentu indah-indah banget kalau tetap jadi pasangan sampai sekarang. Sesuatu yang diglorifikasi dari masa lalu.

Indah di sini, bukan sekadar urusan fisik atau sebatas kulit semata. Mantan yang cakepnya enggak ketolongan sekalipun, belum tentu bisa jadi mantan terindah kalau perilakunya menjengkelkan parah dan bikin ilfil.

Terdapat dua perspektif mengenai mantan yang satu ini, dari yang mutusin hubungan, dan yang diputusin. Seseorang yang diputusin, cenderung enggak bisa terima diperlakukan begitu. Terkecuali kalau penyebab putusnya adalah sesuatu yang nyata-nyata salah, macam ketahuan selingkuh, atau pacaran kamuflase belaka. Sementara yang mutusin hubungan, masih bisa menganggap mantannya adalah mantan terindah, just because it’s not you, it’s about me… atau kamu terlalu baik buat aku.

Mari batuk rejan bersama-sama.

Idealnya, kategori mantan terindah dihasilkan dari hubungan yang sepakat diakhiri bersama-sama, terutama akibat alasan yang tidak bisa diapa-apakan lagi. Pacaran beda agama, misalnya. Pacaran tak direstui orang tua karena perbedaan status sosial dan kasta juga. Tidak sanggup menjalani pacaran jarak jauh. Kurang lebih yang begitu.

Kenapa sampai bisa disebut mantan terindah? Karena hubungan mereka berakhir di saat sedang indah-indahnya. Mereka saling memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih sayang, nyaris tak ada masalah krusial dengan guncangan emosional yang terlampau berat, akan tetapi tetap harus mereka sudahi. Terlalu éman untuk dilepaskan. Menjadi bonus kalau sang mantan juga indah dipandang dan nyaman digenggam.

Jenis ketiga memberikan efek baper yang lebih ringan dibanding dua sebelumnya. Sesuai penyebutannya, mantan yang membanggakan adalah mantan yang bisa menimbulkan rasa bangga pada diri sendiri. Jadi lebih berupa feeding the ego, rasa bangga yang tidak relevan bagi orang lain. Sehingga enggak penting-penting banget untuk diceritakan kepada orang lain, apalagi jika tujuannya adalah sesumbar.

Contohnya, merasa bangga setelah mantan ketahuan tetap aktif mantengin akun-akun media sosial kita, ketahuan enggak sengaja nge-love foto kita di Instagram, ngerasa kalau kita masih sering diperbincangkan sang mantan, dan sebagainya. Jujur aja, siapa sih yang enggak bangga ketika berasa orang penting. Cuma pentingnya di mana, dan dianggap penting oleh siapa, itu beda cerita.

Dari sudut pandang sebaliknya, ada juga mantan yang membuat kita merasa bangga karena pernah berpacaran dengannya. Hahaha! Terdengar agak aneh, tapi hal ini terjadi apabila mantan kita itu memang memiliki nilai-nilai positif yang kuat dan menginspirasi. Orang hebat lah pokoknya.

Ngobrolin mantan memang enggak ada habis-habisnya. Namun sekali lagi, penting diingat bahwa kisah bersama mantan adalah bagian dari masa lalu, mustahil diubah kembali, dan mantan adalah mantan. Kalau memang tidak ada rencana atau tak mungkin menjalin hubungan kembali, perlakukanlah kenangan-kenangan bersama selayaknya cenderamata. Kenang-kenangan dalam arti sebenarnya, dipajang atau disimpan. Bukan selalu dibawa ke mana-mana. Pasalnya, lumayan besar, berat, dan melelahkan pikiran. Terlebih kalau kita masih terlampau baperan, masih berusaha menuju pendewasaan.

Lagipula, banyak dari kamu yang lebih berpengalaman soal permantanan ini. Jangan sungkan-sungkan untuk berbagi. 😃

[]

Iklan

3 thoughts on “Buat Kamu…

    1. Tergantung, sudah masuk kategori mantan gebetan, atau bahkan didekati saja belum. Haha! Secara umum, masuknya ke seseorang yang menyadarkan. Entah menyadari apa, pokoknya ya sadar deh. 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s