Jujur Saja, Apa Pentingnya Keluarga Besar?

Mudik sudah habis. Waktunya kembali pada hidup yang nyata. Tidak berpuasa dan semuanya kembali seperti keadaan semula. Bekerja seperti biasa.

Apakah makna Ramadan masih berbekas? Bagaimana keadaan keluarga besar?

Biasanya hal yang peling menarik dari berlebaran adalah pertemuan keluarga besar. Tidak hanya keluarga batih. Bukan saja bertemu Bapak Ibu adek kakak, melainkan juga Paman, Kakek, Nenek, Sepupu, Tante, Adeknya Nenek hingga Sepupu Ibu.

Lantas pertanyaannya adalah: Apa makna berkeluarga besar?

Pada momen tertentu berkeluarga besar dapat memacu semangat.

Secara positif ketika mudik keluarga besar bisa jadi ajang pamer paling mudah.

Lihat wahai lihat, hamba sudah berkelana di ibukota, punya istri jelita, mobil tiga dan anak lucu-lucu sekolah dengan bahasa pengantar gunakan bahasa mancanegara.

Ketika anak paman hanya jebolan universitas terbaik negeri ini, eike mah lulusan enggres bantuan LPDP dong. Ketika Tante dari Bekasi pamer totebag mangkokayam-nya Glenn, istri eike mah pamer kain sejauh mata memandang dong. Ketika Paman yang kerja di perusahaan minyak pamer gawai terkini, eike mah pamer ga bergantung pada apapun baik gawai berupa hape, tablet, kapsul, puyer, sampai sirup. Eike lebih memilih habiskan waktu bersama bini dan anak ane yang lucu-lucu gemetz. Tiada yang lebih indah dari sebuah keluarga sakinah.

Keluarga Besar adalah Lambe Turah

Jika keluarga besarmu malah menjadi mirip lambe turah, maka siap-siaplah untuk lebih baik tutup telinga dan sibukkan diri dengan banyak hal positif. Karena bisa jadi, tiba gilirannya kamu menjadi korban.

WA Grup menjadi ajang saling bertukar informasi gosipan terbaru. Meja makan jadi ajang saling konfirmasi. WA Grup bisa ada delapan. Grup Anak muda. Grup Full tanpa kecuali. Grup Jakarta. Grup Surabaya. Grup Pro Ahok. Grup InsyaAllah Surga.  Grup Mantu. Grup Pureblood.

“Tau gak Mas, anaknya Tante ini ternyata blabla bla.”

” jadi rupanya ya gitu itu. Kita ga nyangka ya.”

“Eh.. eh.. sssst. Sudah-sudah. Aku sih gak percaya. Aku mah percayanya itu gini was wis wus wes wosh.”

Seharusnya Keluarga besar menjadi sebuah ajang saling belajar toleransi dalam skala lebih besar dari sekadar keluarga kecil. Beruntunglah bagi kalian yang berkelaurga besar memiliki pemahaman dan kesabaran lebih untuk saling menghargai daulat keluarga kecil masing-masing.

Tidak ada yang sok kuasa bagai Negara Amerika. Tidak ada sosok Trump yang punya hobi berlebih tanya sana-sini urusan adek ipar atau ponakan, tanya penghasilan, lauk buka puasa, sampai berapa kali bercinta selama bulan Ramadan.

Apalagi jika ada kerabat yang post power syndrome  mantan pejabat kaya raya hasil korupsi jaman orba yang terbiasa suruh sana sini dan terbiasa mentraktir kemana-mana namun minta semuanya salim dan hormat padanya.

Tanya kenapa belom kawin. Tanya kenapa kok anaknya cuma dua. Tanya kenapa kok istri kita lebih banyak di dapur. Tanya kenapa lebaran ketiga sudah ingin kembali pulang. Tanya kenapa belum naik haji. Tanya kenapa itu ada kutil di bawah bibir. Tanya kenapa kumisnya berwarna putih. Tanya kenapa dia selalu banyak bertanya.

Tips.

Anggota Keluarga besar yang suka gatel ini tidak perlu diapresiasi dan disuapi dengan respek terlalu tinggi. Cukup hormati karena masih bersaudara. Biar hidup kita tenang. Jika masih riwil saja, silakan balas secukupnya biar mereka mikir.

Apakah selama ini kita dapat uang bulanan dari dia? Apakah saat pulsa listrik habis ybs memberi mengisi tokennya? Apakah saat pembagian rapor mereka mengurusi izin cuti kita dari kantor? Apakah saat air pancuran di kamar mandi bocor sodara kita yang mulia itu tergopoh-gopoh menuju ace hardware dan membeli selotip keran? Apakah saat kita kelaparan tengah malam sodara kita yang entah nama tengahnya siapa memesankan gofood? Apakah saat akhir bulan, saat banyak tagihan datang ybs menghitung segala tagihan dan dengan tekun menemani kita membayar segenap tagihan  di depan atm?

Jika jawabannya selalu tidak, maka tersenyumlah pada sodara-sodara kita. Dan doakan semoga mereka khusnul khotimah. Bukan mendoakan cepat tiada, hanya berdoa semoga lancar sampai tujuan.

 

salam anget,

Roy

  • bonus

 

 

SaveSave

Iklan

9 thoughts on “Jujur Saja, Apa Pentingnya Keluarga Besar?

  1. Kemaren ada satu paman ku ngajakin jalan ke luar kota, trus mamaku mikir kemungkinan alesan buat nolak secara halus. Aku bilang: sudah biar nanti aku aja yang nolak.

    “Makasih bakwo, tapi kami lagi gak pengen kemanamana. Semoga jalanjalannya menyenangkan ya.”

    Selesai.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s