Menerjemahkan Rasa Kesepian

SEGALANYA muncul melalui keterkondisian. Begitu pun dengan rasa kesepian. Muncul dan dialami seseorang yang terkondisi untuk merasa demikian.

Keterkondisian adalah berlangsungnya keadaan-keadaan yang sesuai dan cocok, yang mendukung dan memperbesar kemungkinan munculnya sesuatu hingga mendekati 100 persen. Keterkondisian bersifat kausalitas, sebab akibat, bukan semacam sulap atau sihir yang bisa menciptakan sesuatu dari udara secara tiba-tiba.

Semua orang pasti tahu dan pernah merasakan kesepian. Beberapa dari kamu yang sedang membaca Linimasa hari ini barangkali juga tengah merasakannya, dengan beragam penyebab dan latar belakang. Namun pada dasarnya, rasa kesepian terjadi karena adanya kesenjangan antara yang diinginkan dan yang terjadi. Dalam hal ini, berkaitan dengan hubungan dan interaksi sosial kita terhadap orang lain.

Kita Menciptakan Rasa Kesepian Kita Sendiri

Banyak yang beranggapan bahwa rasa kesepian terjadi akibat perlakuan orang lain terhadap diri kita. Bisa disebabkan oleh penolakan secara personal maupun sosial, merasa ditinggal atau tidak diikutsertakan, merasa terisolasi, terasingkan dan tidak ada yang bisa memahami, atau merasa dijauhi. Padahal semua itu hanyalah pemicu.

Rasa kesepian selalu muncul dari dalam diri/benak kita sendiri. Bukan semata-mata perasaan, munculnya rasa kesepian juga disebabkan oleh bagaimana cara kita memahami, memikirkan, dan menanggapi sesuatu. Sederhananya, kita benar-benar merasa kesepian setelah kita berpikir demikian.

Sebagai contoh, penolakan dari keluarga tentu terasa berbeda dibanding penolakan dari para sahabat baik; dari rekan kerja, dari tetangga, dari musuh atau orang yang tidak disenangi, maupun juga dari gebetan. Kadar perasaan tidak menyenangkan dan kesepian yang dihasilkan akan tidak sama, tergantung pada siapa yang memberikan penolakan. Seberapa penting tempat orang tersebut dalam kehidupan kita. Kita bisa benar-benar merasa sendirian dan ditinggalkan setelah ditolak oleh para sahabat, namun di sisi lain kita tetap bisa cuek dan masa bodoh saat penolakan tersebut dilontarkan oleh rekan kerja di kantor yang tidak dekat-dekat amat. Dengan demikian, kita berperan dalam menciptakan rasa kesepian kita sendiri.

Kita Perlu untuk Merasa Kesepian

Saya membaca petikan wawancara menarik dari John Cacciopo–seorang peneliti neurosains–beberapa waktu lalu. Salah satu poinnya adalah, rasa kesepian adalah mekanisme alamiah tubuh yang kita perlukan dalam sejumlah keadaan wajar. Salah satunya, termasuk rasa kesepian yang muncul setiap malam ketika menjelang tidur… sendirian.

“…as a social species, to be able to identify when our connections with others for mutual aid and protection are being threatened or absent. If there’s no connection, there could be mortal consequences. Those are threats to our survival and reproductive success.”

Justru ada yang keliru apabila kita tidak pernah merasa kesepian untuk sejumlah keadaan tersebut. Karena bisa jadi kita tidak sepenuhnya sadar dengan yang terjadi.

Kesepian ≠ Kesendirian

Rasa kesepian menempatkan diri kita sebagai korban atau penderita. Sedangkan keadaan untuk sendiri atau menyendiri merupakan keinginan, menempatkan diri kita sebagai pemegang kendali atas kehidupan kita sendiri.

Dengan menempatkan diri sebagai korban, kita akan melakukan semacam defense mechanism berupa sikap mendahulukan diri sendiri meskipun secara tidak sadar. Dalam keadaan wajar, tindakan ini akan timbul dan tenggelam dengan sendirinya. Berbeda kalau sikap seperti ini dilakukan terus menerus, akan menjadi masalah sosial. Membuat seseorang cenderung selalu dijauhi oleh sekitarnya, lalu membuatnya lagi-lagi merasa kesepian dan tidak dimengerti.

Penting untuk dipahami, orang yang sedang dalam hubungan personal pun bisa merasa kesepian. Saat ini terjadi, defense mechanism kembali aktif secara otomatis. Membuat seseorang melindungi dirinya dari hal-hal yang dianggap/berpotensi mengganggu, termasuk pasangan. Perlu dilihat apa penyebab munculnya rasa kesepian itu, dari luar atau justru dari dalam lingkar hubungan tersebut. Kemudian, apakah sang pasangan bisa meredam dan meredakan rasa kesepian itu atau tidak… atau ternyata memang ada gangguan kepribadian?

 

Bukan Cuma Kekosongan yang Perlu Diisi

Jangan rancukan rasa kesepian dengan sekadar kebosanan. Bosan sendirian, tanpa teman bicara atau bertukar pikiran. Lantaran ada juga orang-orang yang sudah berpasangan, namun bosan, dan akhirnya menganggap dirinya kesepian. Hal ini pun dijadikan alasan. Bukan dibicarakan dan diselesaikan, eh malah diselewengkan. Rasa kesepian jadi pembenaran. Kelakuan yang memuakkan seperti ini, yang bikin suasana sepi sendiri kadangkala terasa lebih menyenangkan.

🍻Cheers! Untuk semua orang yang saat ini sedang merasa kesepian. Semoga bisa saling menemukan.

[]

Iklan

4 thoughts on “Menerjemahkan Rasa Kesepian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s