Dalam Diam, Hati Tidak Bisa Dibungkam

Pengakuan: saya orangnya judgmental. Anda juga bukan?

Kita semua sering menuduh orang lain sesuka hati kita, because that’s the most natural thing to happen. Jangankan dengan orang yang baru kita jumpai. Bertemu dengan anggota keluarga, langsung maupun tidak langsung, atau teman lama pun, kadang membuat kita mengernyitkan kening. Kenapa kok dia begini? Kenapa kok mereka begitu?

Yang membuat kita bisa tidak terkesan judgmental adalah kemampuan kita untuk tersenyum. Kenapa tersenyum? Karena senyuman kita adalah alat pengontrol diri supaya judgment kita tidak keluar dari mulut kita semena-mena. Senyuman kita sekaligus jadi alat penguji kesabaran diri sendiri. Supaya tidak mudah terpancing, sekaligus memberi waktu untuk berpikir.

Ya, memberikan tanggapan atas komentar atau ucapan orang sering kali perlu waktu lebih untuk dipikir dan diproses sebelum dikeluarkan. Kadang kita suka bilang ke diri sendiri “tahan, tahan …” untuk mengerem ucapan.

Oke, tulisan yang telat hadir ini memang akan saya buat singkat saja. Berhubung sedang dalam confessional mood, maka saya akan memberikan tanggapan terhadap dua hal.

(source: thatcolumn.com)

Satu: hal yang membuat saya langsung seketika nge-judge lawan bicara, apalagi kalau dia orang yang jarang kita jumpai sehari-hari, adalah saat dia bilang …

“Eh, gemukan ya?” / “Eh, kurusan ya?”

By the natural order of things, siapa sih yang tidak sebel dibilang gendutan, dan siapa yang tidak senang dibilang langsingan? Tetapi ketika dua hal ini adalah hal yang pertama diucapkan saat berjumpa, maka hati saya langsung komat-komit menuduh kalau: a) orang ini tidak punya kemampuan komunikasi yang baik; b) orang ini tidak punya manner; c) orang ini sedang merana hidupnya, sehingga dia mencari pelampiasan untuk menjadi terlihat ‘lebih’ di atas orang lain; dan d) of all the things in the world, yang bisa dijadikan conversation starter, kenapa harus tampilan fisik? Are you God?

Nah. Judgment yang jahat-jahat, bukan? 🙂
Untungnya sampai sekarang tuduhan itu masih mengendap dalam hati. Dan kalau sudah dalam situasi seperti ini, yang ndilalah kok ya sering terjadi sama saya, maka tanggapan saya cuma tersenyum sambil bilang …

“Oh ya?” / “Hahahaha … Masa sih?” / “Hehehe. Ya gitu deh. Eh by the way …”

And don’t we love the three magic words of “by the way”? Seketika pembicaraan bisa kita kontrol untuk berbalik arah, atau mengarah ke topik yang berbeda sekaligus.

(source: universestars.com)

Dua: kebalikan dari poin nomer satu di atas, saya tidak bisa berkomentar apa-apa di saat beberapa orang, at least yang di sekitar saya, berkomentar soal pakaian orang.

“Kok bajunya aneh sih?” / “Gak pantes banget dia ih, norak dan malu-maluin pakai baju itu!”

Nah, di saat ini saya cuma bisa diam. Kenapa? Karena saya punya zero fashion sense. Bahkan saya tidak tahu selera pakaian saya itu buruk atau baik. Cuma tahu bahwa baju saat dipakai di dalam rumah dan di luar rumah itu berbeda. That’s it. Hampir bisa dipastikan bahwa saya perlu bantuan orang lain saat memilih baju, terlebih untuk acara-acara tertentu.
Tapi jadinya saya suka kagum sendiri kalau ada yang bisa menilai orang dari apa yang mereka kenakan. Tentunya kekaguman ini yang berdasarkan analisa ya, bukan asal jeplak.

Lalu saya sadar, pasti saya sering digunjingkan atas kecacatan selera berbusana ini. Hmmm … Hahahaha!

Sebenarnya banyak hal-hal lain yang membuat saya jadi judgmental dalam hati (kemampuan berbahasa? Checked. Selera film? Ya, maaf!), tapi sebagian besar memang lebih baik disimpan dalam hati.

Tapi kalau ada yang mau tanya di kolom komentar, saya jawab kok. Asal Anda mau berbagi dulu, judgments apa yang suka tercuat tiba-tiba dalam hati. 🙂

Iklan

22 thoughts on “Dalam Diam, Hati Tidak Bisa Dibungkam

  1. judgemental sama nyinyir mirip kali ya?

    aku suka nyinyir kalo:
    – tahun 2017 masih ada yang pake cincin batu akik warna, oh pwuhleeeees!!
    – di gym, mbak mbak ikutan kelas, masih full make-up 7 lapis ala krisdayanti, pleus bulu mata palsu ala syahrini, hellaaaw!!

    udah ah dosa. hahaa..

    Suka

  2. Kalo saya suka kambuh judgmental-nya kalo liat orang pke baju kekecilan 2 nomor,demi apa?? emangnya enak pake baju kesempitan?? tapi cuma dalam hati sih,buat apa ngomentarin orang sedang diri sendiri aja jauh dari sempurna

    Disukai oleh 1 orang

  3. Gue kadang2 pake ‘eh kurusan lho sekarang’ atau ‘tambah kece deh lama gak ketemu’ untuk opening line dengan beberapa orang yang seneng dipuja puji. Urusan tambah lancar abis itu biasanya. Apalagi sama customer waaah manjur banget…

    Suka

        1. yaauloh, muka kalender. *gasp
          semoga fuck buddy aku gak pernah menganggap aku muka kalender.
          uhm, wait.. selama ini.. lampu selalu nyala, dan selalu eye contact.
          oke berarti sepertinya aku bukan muka kalender, LOL!!

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s