Ukuran Penis dan Pertumbuhan Ekonomi Makro

 

SUDAH menjadi khitahnya, bahwa semua bentuk penelitian saintifik harus memiliki latar belakang dan landasan yang kuat supaya pantas dijalankan, untuk kemudian berujung pada penerapan tujuan yang bermanfaat.

Itu sebabnya saya sempat menganggap hasil riset (yang ternyata dirilis oleh Helsinki Center of Economic Research) berikut adalah kelakar, cuma buat lucu-lucuan. Soalnya, ngapain sih para ilmuwan bidang sosial-ekonomi mencari korelasi antara ukuran penis penduduk sebuah negara dengan Gross Domestic Product (GPD)-nya? Penting banget, gitu? 😅 Turned out this was a legit research… yang hasilnya barangkali bisa dijadikan salah satu pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan maupun rencana pembangunan strategis.

But, come on… the dicks? 🤣 Kok bisa-bisanya kepo soal begituan?

Sumber dan paparan lengkap di sini.

Ada beberapa poin krusial yang ditinjau secara khusus dalam makalah tersebut. Beberapa di antaranya seperti ukuran penis dan kondisi hormonal, dampak secara psikologis pada self-esteem, serta pengaruhnya dalam tindakan.

…Boas et al. (2006) show that penile lengths and testosterone levels are related in infant boys. Furthermore, as indicated in Apicella et al. (2008) salivary testosterone levels have been shown to be positively associated with risk-taking behavior. Assuming these links hold it would suggest that male organ acts as a proxy for risk-taking. …a logical conclusion would then be that an intermediate level of risk-taking in population yields the highest level of economic development. Countries with particularly low or high levels of risk-taking would evidence lower GDPs.

Penting untuk dipahami, riset ini bersifat sampling. Hasilnya hanya mewakili kondisi atau pola secara umum, bukan secara keseluruhan. Selalu ada ruang untuk bias, anomali, dan ambang galat (margin of error). Apalagi rentang waktu yang digunakan sudah cukup jauh, beberapa lebih dari 3 dekade silam. Jadi, sebaiknya jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa makin besar/kecil/panjang/pendek ukuran penis pria suatu negara, makin besar/kecil pula tingkat GDP-nya.

Kita memang bisa saja langsung mbatin: “Pantesan ekonomi Jepang, Korea Selatan, dan Singapura bisa maju banget. Ternyata gara-gara itu toh…” atau kita bisa saja berpikir bahwa jika kadar machoism seseorang dipengaruhi oleh ukuran penisnya, maka begitu pula dengan ego mereka. Makin besar ukuran kelamin seseorang, makin berasa superior pula dia; memiliki rasa percara diri yang berlebihan; bahkan cenderung ke arah narsisme. Ketertarikan seksual. Apa lagi, coba?

Selain itu, kita juga bisa berpikir kalau seorang pria punya penis yang lumayan besar dan benar-benar sadar akan anugerah tersebut, dan dia juga tumbuh besar dalam lingkungan sosial yang sangat mendewakan machoism (termasuk soal ukuran), sangat tidak mustahil dia terbiasa mencurahkan lebih dari 30 persen perhatian kognitifnya untuk memikirkan tentang penis serta hal-hal terkait.

Jangan begitu, sejak SD sampai sekarang saja, dinding toilet-toilet umum dan lokasi sejenisnya lainnya selalu dipenuhi coret-coret gambar penis. Bukan gambar pemandangan alam.

Tapi semua itu baru asumsi, besar potensinya untuk keliru.

This study has made three contributions. First, it reveals the somewhat perplexing link between the size of male organ and economic growth. Second, it provides some rudimentary interpretations which state that macroeconomic growth might be related to populations’ risk-taking and/or self-esteem. Third, for the best of author’s knowledge the interplay between sex and macroeconomic outcomes is novel, and has not been discussed in the literature before. Obviously the proposed ‘male organ hypothesis’ should be tested with more elaborate methods and data. Until then it remains an intriguing statistical artefact.

Jangan lupa, semuanya tetap bisa berubah. Hasil riset di atas dirilis pada 2011, dan selalu ada kemungkinan terjadinya pergeseran tren. Seperti yang disampaikan Mirror.co.uk beberapa bulan lalu, ukuran rata-rata penis millennials mengalami peningkatan yang lumayan signifikan (baca: tambah panjang kurang lebih 2,5 cm). Dengan catatan, survei dilakukan pada 15 ribuan pria di Inggris. Sayangnya, survei yang dilakukan bersama King’s College London ini tidak dijelaskan lebih rinci. Setidaknya untuk mempertimbangkan peluang para responden berbohong, dan sengaja memanjang-manjangkan. Untung tidak no pics = hoax.

Temuan tersebut tentu sangat menarik untuk ditelaah lebih dalam, terutama dalam kaitannya dengan GDP tadi. Apakah pertambahan panjang tadi dibarengi perubahan di sektor ekonomi, juga sosial-budaya, atau tidak.

Ah… Dasar manusia! Selalu tertarik dengan selangkangan dan sekitarnya. Mungkin juga bukan masalah ukurannya, tapi seberapa mahir dan mutual pemanfaatannya. 😂😂😂

Kalau begini, mau jujur atau bohong? 😅

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s