What do You Say to the God of Death?

Sepertinya ini tidak asing lagi. Kemungkinan besar terjadi juga dengan Anda. Sebulan yang lalu ada salah satu rekan saya meninggal dunia. Kabarnya sedang lembur pekerjaan, kemudian mengeluh lelah, kemudian berlalu begitu saja. Innalilahi. Selang seminggu kemudian teman saya yang lain, kali ini sepuluh tahun lebih muda juga meninggal dunia. Kabarnya dia terbaring di rumah sakit sudah cukup lama akibat komplikasi liver. Innalilahi.

Kemudian kemarin saya bertemu teman lama, yang bercerita kalau suaminya sempat mendapatkan health scare. Suaminya yang teman saya juga, yang menurut istrinya gaya hidupnya memang kurang ideal; hampir selalu lembur, tidak pernah berolahraga, dan makan apa saja yang dia mau, tiba-tiba merasa kesakitan yang amat sangat di bagian abdomen sampai tidak bisa berdiri dan minta dilarikan langsung ke rumah sakit. Ketika diperiksa ternyata empedu dan usus buntunya harus diangkat. Sejak itu sang suami pun lebih berhati-hati memilih makanan dan menyempatkan berolahraga.

Umur manusia memang misteri. Kehidupan memang sungguh fana. Tetapi ada hal hal yang kita bisa usahakan yang masih dalam jangkauan kendali. Apa lagi kalau bukan apa yang kita masukkan ke dalam mulut.

Mumpung sedang puasa bulan Ramadan, mungkin waktu yang tepat untuk melihat kembali pola makan. Sepertinya mudah untuk memiliki pola makan sehat, tetapi sayangnya dengan informasi yang agak simpang siur, bahkan dari pemerintah sendiri, subsidi pangan yang tidak pada tempatnya, dan industri yang membanjiri supermarket dengan makanan dalam kemasan yang dibiarkan saja menempelkan klaim “makanan sehat” dan “diperkaya dengan vitamin A sampai Z” yang tak jarang membuat banyak yang berpikir bahwa makanan dalam kemasan bisa jadi lebih baik dari makanan segar. Jika Anda tertarik untuk membuang pola pikir yang sudah menahun kita dengar sejak “4 sehat 5 sempurna” dan ingin reset kembali dengan ide yang mungkin kurang mainstream, tetapi sudah terbukti lebih sehat dari pola makan kebanyakan, mungkin beberapa idola baru ini bisa Anda cari untuk didengarkan.

Dr. Tan Shot Yen
Banyak yang menganggap dokter ‘lebay’ tapi menurut saya buat masyarakat kebanyakan yang seringnya belum belum menolak untuk mendengarkan, kelebayan terkadang diperlukan. Saya suka bahwa beliau selalu konsisten mempromosikan real food, memasak sendiri, sumber makanan dan cara memasak khas Indonesia dan anti makanan dalam kemasan. Selain dari buku-buku tulisannya yang menurut saya agak kurang menarik dari segi sampul maupun struktur, karena ya pasti Anda paham buku kesehatan terbitan Indonesia bagaimana, tetapi tetap menarik untuk dibaca dan dipelajari, beliau juga sering menjadi narasumber Selamat Pagi Indonesia di Metro TV yang videonya pasti tersedia di situs TV tersebut.

 

Michael Pollan
Bukunya yang terkenal The Omnivore’s Dilemma, membuat Pollan juga sering jadi narasumber untuk film film dokumenter tentang makanan asli dan pola makan sehat. Buku lainnya tak kalah kece; In Defense of Food, dan Cooked. Cooked menjadi serial di Netflix, dan baru baru ini saya menemukan (dengan sangat gembira) dokumenter di Netflix dengan judul In Defense of Food, tentunya berdasarkan buku tersebut. Pollan sangat peduli dengan asal dari bahan makanan yang kita konsumsi dan proses memasaknya, tentunya selalu menyuarakan agar industri makanan tidak terlalu mengeruk keuntungan sebanyak banyaknya tanpa mengindahkan kesehatan produknya yang akhirnya memengaruhi kesehatan orang yang mengonsumsinya. Mantranya adalah “eat food, not too much, mostly plants.” Food ya, bukan edible food-like substance.

 

Dr. Robert Lustig
Sering sekali diwawancara untuk dokumenter tentang gula dan pola makan sehat. Ternyata bukunya juga bagus; Fat Chance. Cara dokter ini bicara sungguh sangat mengasyikkan ditilik. Tegas tetapi tidak ngotot. Karena itu public lecture dia soal makanan yang berdurasi satu jam setengah saja cukup banyak yang melihat. Sayangnya tidak sampai jutaan seperti YouTuber Indonesia yang katanya lucu itu. Dr. Lustig dengan keras memutuskan bahwa gula dalam jumlah tertentu itu akan menjadi racun bagi tubuh. Walau sering dimusuhi oleh industri makanan dalam kemasan dia tidak peduli untuk tetap menyerukan makanan apa sesungguhnya yang membuat diabetes dan obesitas merajalela.

Dua jam saja di akhir pekan ini bisa Anda gunakan untuk menonton salah satu video yang disebutkan di atas, siapa tahu bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Selamat berpuasa Ramadan dan semoga kita sehat selalu dan ingat, not today!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s