Hari Ibu

Everyday is Mother’s day.
Setiap hari adalah hari ibu. Saya percaya itu. Kerja ibu tidak pernah berhenti, bahkan ketika seorang ibu sedang berdiam diri. Malah ada yang pernah bilang, kalau ibu sedang tidur pun, dia sedang mengerjakan pekerjaannya. Kalau saya bilang, mbok ya kasihan sama ibu, sudah kerja seharian, malah nggak bisa tidur.

Tapi kalau boleh saya memilih, saya ingin bilang bahwa hari Selasa, 23 Mei lalu, adalah hari ibu. Di hari itu, saya terpaparkan berbagai sosok ibu yang luput dari pandangan.

Dua hari lalu, saya terbangun dengan berita pengeboman konser Ariana Grande di Manchester, yang menewaskan banyak korban yang masih muda belia. Hati semakin mencelos saat membaca artikel dari The New Yorker ini yang menunjukkan pencarian orang tua terhadap anak-anak mereka yang menonton konser tersebut.
Penggemar Ariana Grande kebanyakan adalah remaja dan anak-anak. Tentu saja tidak semuanya menonton didampingi orang tua masing-masing. Ada yang menonton beramai-ramai dengan pengawasan dari perwakilan orang dewasa. Dan seperti kita yang pernah menjadi remaja, ada kalanya kita ingin pergi tanpa ada orang tua di sebelah kita, karena kita mau berkumpul bersama teman-teman, have fun dengan yang seumuran. Salah? Tentu tidak. Yang salah adalah mereka yang memaksa memutuskan tali kekeluargaan itu dengan cara yang tidak manusiawi.

Dan pemaksaan itu yang terlintas di kepala saya di sore hari, saat saya melihat rekaman video Ibu Veronica Tan membacakan alasan mengapa suaminya tidak jadi mengajukan naik banding.
Dari beberapa reaksi di Facebook, ada satu yang menarik perhatian saya. Postingan ini diunggah teman lama saya. Dia bilang, bahwa ketika dirinya memutuskan untuk menikah dengan suaminya sekarang, dia dinasihati, kalau seorang perempuan harus selalu menyiapkan diri untuk menjadi single parent setiap saat, kapan pun, dalam kondisi apa pun. Lebih lanjut dia menulis, seorang perempuan, apalagi ibu, harus siap menjalani hidup sendiri.
Veronica Tan tentu mengerti resiko itu, meskipun sebagai orang yang melihat dari jauh, saya masih sedih sekali menyadari bahwa dia dipaksa untuk menjalani tersebut oleh orang-orang lain yang haus kekuasaan. It is scary what one does for power.

Membawa kesedihan tersebut menjelang tidur, saya menyalakan televisi. Ingin menonton apa pun yang bukan tayangan berita. Pilihan jatuh ke film HBO, The Wizard of Lies. Kisah nyata tentang penipu ulung Bernie Madoff, yang menghanguskan ratusan milyar dolar uang orang-orang lewat skema Ponzi, sehingga membuat krisis ekonomi dunia tahun 2008. Bernie Madoff diperankan dengan apik oleh Robert DeNiro, yang akhirnya bermain di film bagus lagi setelah bertahun-tahun. Namun yang memikat perhatian saya adalah Michelle Pfeiffer, yang berperan cemerlang sebagai Ruth Madoff, istri dari Bernie.
Ruth adalah ibu dari dua anak mereka, Mark dan Andrew, yang memilih untuk menjauh dari orang tuanya karena malu atas perbuatan mereka. Yang membuat film ini semakin menarik adalah penggambaran Ruth Madoff sebagai perempuan dengan dua dilema: menjadi istri yang harus terus mengunjungi Bernie Madoff di penjara untuk memberikan semangat hidup, atau menjadi ibu dari dua anaknya. Kedua pilihan tersebut tidak bisa dijalani bersamaan, karena jarak geografis yang jauh. Ruth memilih untuk berhenti mengunjungi Bernie. Tak lama kemudian, anak pertamanya bunuh diri, tak kuat menghadapi tekanan hidup. Empat tahun kemudian, anak keduanya meninggal. Ruth hidup sendiri sebagai seorang perempuan, tanpa suami dan tanpa anak, meskipun secara legal dia masih menjadi istri dan selamanya tetap menjadi ibu.

At the center of our universe, there is mom, in any kind.

Dua hari lalu, saya belajar banyak, bahwa seorang ibu hadir dalam bentuk yang beragam, dengan kapasitas yang berbeda, namun semuanya mempunyai misi yang sama, yaitu mencintai keluarga di atas kepentingan dirinya. Ketika seorang ibu dipaksa untuk terpisah, dia akan go against hurdles and troubles to save her family. Saya pernah baca, bahwa saat seorang perempuan memilih untuk menjadi ibu, dalam kapasitas apa pun, maka semua survival instinct yang mungkin selama ini dia belum sadari, akan tumbuh dengan sendirinya.

A mother always survives.

Dan saya percaya, dalam caranya yang mungkin kita belum tahu, ibu kita selalu mencintai dan mendoakan keselamatan kita.

Iklan

5 thoughts on “Hari Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s