M7: This Void

Meski sudah dipejamkan lama, mata Donnie ndak sepaham dengan otaknya. Berguling. Pindah arah. Telungkup. Donnie tetap terjaga. Sudah jam 01:35.

Ia nyalakan lampu. Membuka lemari dan mengambil Shalimar. Mungkin wangi Vanilla-Tonka bisa meredakan insomnia. Menenangkan sekaligus menghipnotis. Ndak salah Bung Karno pilih Shalimar jadi parfum kesukaannya. Contoh sempurna dari gagrak oriental. Larutan Guerlain yang ndak ditemukan saingannya hingga saat ini.

Donnie tau, penyebab utama insomnia adalah ponsel, ia membukanya. Membiarkan cahaya temaram itu menyinari matanya di kamar gelap gulita. Lima notifikasi melayang-layang di baris teratas layar ponsel. Salah satunya Gmail. Bukan ndak sengaja ia mengabaikan Path dan email kantor, langsung menuju Gmail. Karena nama pengirimnya: Haryo.

Shalimar by Guerlain. Sumber: Google.
Dear Donnie,
It’s M7. Jangan kaget dulu. Akun kamu pakai nama yang itu-itu aja kan? Hehe.

I’ve been dreaming. I’ve been rude. I’ve been away. Tapi buntu Don. Nggak tau lagi mau cerita sama siapa. Waktu acara lari di Sentul itu, aku pura-pura kuat aja. But, I am weak really. Lari lumayan bikin aku lupa sama masalah. Anak-anakku dibawa istri pertama. Mantan mertua ga terima. Mereka kayaknya benci banget. Anggap aku bukan laki-laki yang baik. Apalagi aku gagal lagi di pernikahan kedua. Aku sendirian sejak bubaran sama Mia. Nggak minat juga mau jalin hubungan sama orang. Sekarang sendirian jadi kesepian. My loneliness becomes emptiness. This kind of void is killing me. Numbness grows like a rash. Silent but hurt so much, Don.

Cuma mau curhat aja sih. Kita kayaknya asing gitu Donnie waktu ketemu di Sentul. Kamu ga nulis di Linimasa lagi?

Reply me if you want to. Don’t bother 😉

Missed you much,
Haryo

Layar ponsel Donnie meredup. Ia berpikir lama. Hak apa yang Haryo punya untuk mengirimkan email seperti itu hari ini? Apa yang ia janjikan dalam hidup ini?

Donnie kembali pada Shalimar. Biarlah mawar dan iris yang lirih menguapkannya. Vanilla mulai merayu untuk segera tidur.

Aku tau kamu baca ini. Lupakan jadi laki-laki yang baik. Terlambat. Jadilah bapak yang baik. Fill that stupid void with your kids laughter. Watch them grow… and, a goodbye requires time to be a hello.

Iklan

3 thoughts on “M7: This Void

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s