Sebelum Pedih Ini Pergi

Kamu mengatakan kalau kamu tidak bisa meninggalkan kesenanganmu karena sudah menjadi bagian dari dirimu. Dan aku tidak bisa menerima kesenanganmu itu. Aku mencoba bertahan bersamamu dengan ditemani oleh kesenanganmu yang tidak bisa kamu lepaskan. Hatiku memberontak karena aku tidak bisa menerima kesenanganmu. Untuk itu aku memutuskan mungkin lebih baik untuk menyudahi kebersamaan kita. Aku tahu kamu selalu menolak saat aku mengajukan keputusanku. Tetapi akhirnya kamu menyetujuinya. Mungkin karena kamu sudah lelah dengan permohonanku.

Memang terasa berat melewati hari-hari ini seorang diri tanpa dirimu yang selalu ada untukku. Kamu berjanji kita akan tetap saling menghubungi karena kamu tidak pernah ingin berpisah. Aku tahu kita masing-masing masih memiliki rasa yang sama. Dan kita berdua sama-sama belum mampu untuk hidup sendiri-sendiri. Aku masih ingat percakapan kita lewat pesan setelah beberapa bulan perpisahan kita.

V(Vendy): Sedang ngapain, El?

E(Ella): Sedang tiduran dengerin lagu. Besok kamu ada acara? Ketemuan yuk!

V: Boleh. Ketemuan dimana?

E: Di cafe biasa aja, gimana?

V: Ok. Jam 12 siang ya.

E: Dy, Apakah mungkin untuk kita kembali bersama lagi?

V: Dari awal memang bukan aku yang memutuskan.

E: Masalahnya akankah kamu melepaskan kesenanganmu?

V: Kalau kamu sudah bisa berdamai dengan kesenanganku kita bisa kembali seperti dulu

E: Jangan membahasnya dulu deh. Masih sedih dengan perpisahan kita

Hati ini belum rela untuk melepasmu. Banyak saat dimana aku memegang handphoneku. Aku sampai pada contact number dengan abjad V dan berhenti. Ingin kumeneleponmu, ingin kukirim pesan singkat. Ingin sekali mendengar suaramu atau sekadar bertegur sapa dan bercanda lewat sms. Tetapi hatiku ragu apakah kamu mengharapkannya ataukah kamu akan terganggu jika namaku muncul di layer ponselmu. Saat ku sendiri dengan ponsel ditangan. Selalu dan tetap jari ini mencari-cari namamu.

IMG_2492

E: Dy, minggu ini aku lagi senggang. Kita bisa ketemuan ga?

V: El, kita tidak bisa ketemuan seperti biasa lagi. aku sudah mulai dekat dengan seorang cewek. Kamu sudah mulai membuka diri ga? Atau sudah dekat dengan seseorang?

E: ooohh. Aku masih sendiri.

V: El, coba buka diri. Maafkan aku karena kita tidak bisa ketemu seperti biasa lagi.

E: Thanks, dy! Semoga bahagia.

Tahukah kamu aku meneteskan air mata ketika mengetik kata ‘semoga bahagia’? hati ini perih membayangkan kita tidak akan bertemu lagi. Perpisahan ini semakin terasa nyata. Kamu sudah ada yang punya dan aku akan tetap dengan diriku sendiri. Air mata ini tidak m

au berhenti. Aku teringat dengan salah satu sms dari kamu setelah salah satu pertemuan kita setahun setelah perpisahan kita.

V: kalau kamu menangis seperti hari ini lebih baik kita tidak bertemu lagi. aku juga sedih mengetahui aku yang menyebabkan kamu menangis.

E: Menyakitkan saat aku dan kamu bersama tetapi tidak ada kata ’kita’.

Aku pernah mengatakan menyakitkan saat aku dan kamu bersama dan tidak ada kata ”kita”. Saat kita memiliki rasa yang sama tetapi tidak bisa menyatu. Sekarang kusadari lebih indah perih saat kita bersama dibandingkan perih ini, perih saat aku dengan diriku sendiri dan kamu hanya ada untuk dia. Menyakitkan saat aku tau kamu tidak akan ada lagi untukku. Menyakitkan saat aku sadar kita tidak akan lagi duduk bersama, hanya aku dan kamu.

Dulu setiap kamu menatapku matamu langsung bersinar dan wajahmu cerah tapi sekarang semua emosi itu milik dia. Ku lihat kamu bersama dia. Salah satu tanganmu menggenggam erat tangannya dan satunya lagi sedang memeluknya mesra. Wajahmu tertawa saat kamu berbisik padanya. Kalian berbagi canda dan terus menelusuri jalan di depan tanpa pernah menoleh ke belakang. Apakah kamu pernah merindukanku lagi atau pernahkah namaku terlintas di hatimu? Adakah kenangan tentangku yang tersisa di hatimu?

Aku merindukan semua tentangmu. Wajahmu, tawamu, suara serakmu, pelukan hangatmu, tatapanmu, dan semua hal yang berkaitan denganmu. Aku merindukanmu. Terutama saat-saat kita duduk berdua di bawah tebaran bintang, kamu selalu tersenyum tatkala aku bercerita tentang mimpi-mimpiku. Kamu selalu mengatakan, ”Apakah itu tidak terlalu banyak?” sambil menyindirku. Tetapi kamu selalu setia mendengarku menguraikan mimpiku yang banyak itu dan aku tahu kamu senang mendengarnya. Sekarang semua mimpi itu tergeletak. Karena tanpamu mimpi-mimpiku tak memiliki hasrat untuk mengejar kenyataan.

Setelah bertahun-tahun kulalui tanpa dirimu hanya dengan kenangan kita bersama, aku sudah terbiasa tanpamu. Waktu memang mampu mengikis pedih. Tetapi waktu tidak mampu menjawab kapan aku mencapai garis finish kepedihan ini.

Aku baik-baik saja ditemani oleh kenangan kita bersama yang dulu. Saat diri ini merasa sepi kadang aku isi dengan membolak-balik kenangan tentangmu dari buku harianku. Dan di saat itu aku sering mengandaikan hal-hal yang aku impikan untuk kita lakukan bersama. Tetapi waktu memutus impianku. Kita tidak lagi bersama. Aku dan kamu tidak lagi mampu mewujudkan impian itu. Banyak ’seandainya’ yang hadir di benakku saat kenangan tentangmu melintas dipikiranku. Seandainya kamu masih di sini, di sampingku.

Seandainya aku tidak pernah memutuskan hubungan kita.

Aku memandangi layar ponsel di hadapanku dan hati ini berkeping-keping. Tetesan air jatuh menyentuh layar. Tak kusadari air mataku masih ada untukmu, setelah ratusan malam ku lewati dengan ditemani air mata ini. Ku usap wajahku mencoba untuk berpaling ke arah lain selain layar dalam genggamanku untuk mengusir pedih ini. Layar ini menampilkan wajahmu yang sedang tersenyum bahagia bersama dengan dia menggunakan busana pengantin. Kamu terlihat sangat bahagia bersamanya. Kamu baik-baik saja tanpaku sementara aku tidak tahu berapa lamakah aku mampu bertahan bersama perih yang menyelimuti hatiku ini. Sendainya aku tidak pernah memutuskan untuk berpisah apakah wajah yang bersanding bersamamu adalah wajahku?

Aku terbiasa tanpamu tidak berarti hati ini telah melupakanmu.

Aku ingin tidur dan tidak ingin terbangun sebelum pedih ini pergi.

[]

Penulis: Tanto Harina. // Sudah setahun berkelana di negeri Kanguru mengikuti program working holiday, hidup nomaden dan bertemu teman-teman dari berbagai negara yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Instagram: tantoharina.

blog: tantoharina.blogspot.com

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Sebelum Pedih Ini Pergi Leave a comment

  1. Baru aja kemarin ngalami ini, ketika mantan yang balik dari perantauan ngajak ketemuan.
    Masih pake panggilan yang sam akayak dulu, tapi disana dia udah ada yang punya.
    Dan dia masih sempet bilang “Yaudah sih, berarti nggak jodoh”
    Iya nggak jodoh.
    Nggak jodoh :”)

Tinggalkan Balasan