Nrimo ing Pandum

salmon-swim-upstream_d555480847e93dcc

Ketika Islam mengajarkan untuk ikhlas, budaya Jawa menyarankan untuk nrimo ing pandum, jika kita membaca referensi spiritualisme sering menyebut tentang detachment dan cinta yang tak bersyarat, terkadang perlu waktu yang panjang untuk menyadari kalau hal-hal ini adalah permukaan berbeda dari satu keping uang logam yang sama.

Terkadang jika mendengar rekan atau kenalan yang bercerita tentang target-target mereka dalam hidup; mencapai level tertentu di pekerjaan di usia sekian, menghasilkan karya besar di usia sekian, menikah usia sekian, memiliki anak ke berapa di usia sekian, saya kemudian membuat saya berpikir. Sepertinya saya terlalu pasrah dalam hal menjalani hidup. Tidak pernah ada target diri sendiri, dan semuanya biar saja mengalir seperti sungai dalam alurnya.

Mungkin karena saya pemalas, ketika ayah melarang sekolah tinggi jauh jauh, saya ya menurut saja. Kebetulan dapat kuliah tanpa harus tes masuk di kota yang dekat. Ketika teman-teman beramai-ramai ikut tes kembali di tahun depannya karena merasa kurang cocok dengan perkuliahan, saya malas repot jadi tidak ikut mencoba. Begitu juga dengan hubungan pribadi dan pekerjaan. Selama saya masih merasa bahagia, semangat bangun pagi dan tidak depresi memikirkannya, saya bertahan. Jika rasanya sudah tidak bisa belajar hal baru, atau tidak cocok lagi dengan manajemen, atau mendapat kesempatan lebih baik, saya akan keluar.

Mungkin karena itu sekarang ya biasa biasa saja, walau tetap bahagia. Jika disuruh mengulangi sepertinya tidak akan mengubah sebagian besar dari cerita. Lalu setelah beranjak tua baca-baca dan merenung jadi menyadari betapa dalam arti kata-kata di paragraf pertama.

Nrimo bukan berarti tidak berdaya, hanya mengikuti arus sungai di alur yang berliku. Mengikuti arus berarti kita tidak akan kehilangan energi dengan melawannya, dan bisa menyalurkan energi itu untuk mempelajari sungai yang membawa kita. Bisa digunakan untuk mengakali lika liku dengan mulus. Ketika sudah semakin paham, tenaga arus sungai juga bisa kita gunakan untuk membuat kita melompat lebih jauh dibandingkan jika kita melawannya.

Ikhlas bukan berarti melupakan dengan sekuat tenaga tentang hal buruk yang menimpa kita. Ikhlas adalah sadar bahwa tidak ada di dunia ini yang abadi, dan tidak ada yang benar-benar kita miliki. Begitu kita dapat sesuatu yang kita sukai, bahkan cintai, kita juga harus sudah siap untuk kehilangan. Cinta tak bersyarat dan detachment tidak dikemukakan dengan menjadi martyr, selalu berkorban untuk siapa pun dan apa pun. Atau menjauh dari siapa pun dan apa pun, karena ogah disakiti. Cinta tak bersyarat adalah membuat diri begitu bahagia, sehingga rasanya sayang untuk tidak dibagikan. Dan sadar bahwa semakin kita berbagi, semakin berlimpah kebahagiaan itu. Tidak peduli dibalas atau tidak, karena balasan tidak relevan dengan kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki adalah tidak tergantung sikap orang lain, situasi maupun kondisi.

Words are easy, but both concept are quite hard to do. Dengan umur setua ini saya sudah menyaksikan beberapa orang yang selalu menolak akan apa yang dirasakan atau terjadi padanya. Dan berusaha berenang melawan arus. Lelah melihatnya. Lagian kita kan bukan ikan salmon.

swimming-upstream-bear

Iklan

One thought on “Nrimo ing Pandum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s