Apa Yang Kita Dengar Saat Kita Mendengarkan Kelas Menengah Beraksi

Apa yang membuat saya dan teman-teman begitu semangat untuk mengikuti aksi damai di Jakarta kemarin?

Pertama, tentu saja karena kami geram melihat perlakuan tidak adil terhadap Gubernur DKI Jakarta, Bapak Basuki Tjahaja Purnama.
Kedua, tentu saja karena kami tidak bisa diam lagi melihat peluang segregasi yang semakin lebar kemungkinannya untuk terjadi.
Ketiga, karena kami penasaran, bagaimana kita semua dari kelas menengah ini bisa ikut beraksi.

Kemarin Dragono sudah menuliskan dengan baik pengalamannya mengikuti aksi massa di Cipinang. Aksi spontan yang langsung tercetus hanya dalam hitungan jam setelah vonis dijatuhkan.

Sementara untuk aksi hari ini, ada jeda waktu yang cukup banyak untuk mempersiapkan diri dari kemarin. Namun ternyata kami semua tidak siap mendengar reaksi kami sendiri atas kedua aksi hari ini. Dan tentu saja, reaksi orang-orang lain yang kami dengar selama aksi. Contohnya saja:

(di grup WA) “Besok yang pagi-pagi dateng siapa? / Gue. / Aku mungkin. / Kalo bisa bangun ya. / Hhhh, gini ini kelas menengah ngehe gak bisa menang. / Kenapa? / Mau demo aja nunggu bisa bangun apa gak! / Ember. Ngantri Pablo aja dibelain. Ngantri H&M dari semalem sebelumnya dijabanin. / Hahahaha!”

“Ha? Demo jam 6 pagi? Gue berangkat dari rumah jam berapa? Jemputan gue belum dateng lah jam 4 pagi. Rumah di pinggiran ini!”

“Ya kalo demo pagi, gak papa gue. Make up masih rapi. Kalo siangan dikit, suruh jalan panas-panas, BB cream luntur ntar.”

“Iya, mau dateng. Tapi gak bisa lama-lama. Ada presentasi hari ini. Jadi ntar dateng, foto-foto, trus capcus ya.”

Lalu hari berlalu tanpa hujan, tanpa angin, dan kami pun kembali bekerja. Malam pun tiba, dan area Menteng pun macet luar biasa. Lebih banyak yang datang dibanding yang pagi. Seorang teman menulis di media sosialnya:

“Wah, yang dateng wangi-wangi. Pulang kantor pada dandan dulu kayaknya.”

Sementara itu, saya dan teman-teman mulai menuju lokasi setelah makan malam terlebih dahulu. Supaya kami siap mental mendengarkan celetukan-celetukan seperti:

“Perasaan demo ’98 dulu kita langsung turun aja gitu ke jalan. Sekarang? Cek dulu, udah bawa power bank belum. Kalo perlu, dua. Trus modem wifi. Abis itu tongsis. Asli ribet!” / “Kayak mau nonton konser.”

“Sinyalnya susah banget nih. Mau update Path susah banget.”

“Hastagnya “Justice for Ahok” ya? “For”-nya pake kata ef-o-er atau angka 4? Penting nih.”

“Eh sebelah kanan arah jam 2, lucu!”

“Nah kalo yang baju biru itu BMW. Body Mengalahkan Wajah.”

“Gak bisa connect dari tadi, gak ada sinyal. Gak bisa upload di IG, kak.”

“Disuruh duduk, bok. Tapi gak bawa alas. Ntar kotor.”

(aba-aba) “Tangan kiri mengangkat lilin, tangan kanan kepalkan di dada!” / “Tangan kanan gue kan buat ngerekam video ama motret!”

“Oh, shoot, barusan liat-liatan. / Ya udah sih, samperin aja. Kenalan. Rumah juga deket. Mumpung besok libur.”

“Gak jadi siaran, karena katanya gak ada sinyal. / Eeeh apa gue samperin aja ya orangnya? Bilang ‘mas, di rumah saya ada wifi gratis. Deket kok. Sama kalo perlu ke toilet juga. Deket.’ Gitu.”

“Panas banget, ya. Gerah.”

“Ini kenapa ya pada macet di pintu keluar? / Depan pada selfie begitu dapet sinyal. / Oalah!”

“Gak sabar pengen ngadem. / Iya, sama pengen Starbucks. / Yuk!”

(setelah sampai ke tempat makan terdekat, terdengar ucapan senada dari keramaian) “Akhirnya adem ada AC!”

Welcome to us, fellow middle class Jakartans. The fight continues.

22 thoughts on “Apa Yang Kita Dengar Saat Kita Mendengarkan Kelas Menengah Beraksi Leave a comment

  1. kalau menurut mas Nauval, berapa lama gerakan seperti ini akan bertahan? apa cuma sampai Ahok dibebaskan? Terima kasih

    1. Ahok is just a start. Akan ada terus gerakan seperti ini. Mungkin tidak setiap minggu, setiap bulan, bahkan mungkin beberapa tahun sekali. Injustice is everywhere. Selama masih ada, berarti masih akan ada yang tergerak untuk bergerak.

                1. Awritey. Yeah, saw quite a lot of pics on IG where people upload pics of their misspelled name on their Starbucks order. Not all of them are happy, but I don’t think any of them are greatly annoyed.

                    1. Guess my choice to go was correct. Not that I’m not supporting, but I choose to support by other means, which might give impact directly… Maybe… So how’s Glenn after being condemned after his ‘impactful’ shirt?

Leave a Reply