Diet Halal

118198

Ternyata yang saya pikir selama ini, bahwa terlalu pintar untuk melakukan kesalahan yang sama, kurang akurat (eufimisme).

Termasuk hipster dalam bidang pola makan, setahun lebih yang lalu saya mencoba diet keto, untuk kemudian gagal total. Kemudian akhir tahun ini saya tiba-tiba melihat grup Facebook lokal diet ini, dan baca punya baca, kok mereka buat sangat sederhana dan mudah diikuti ya, instruksinya. Melihat juga bahwa semakin mainstream berarti saya lebih mudah mencari bahan yang mendukung diet ini. Kemudian saya juga pikir, jangan jangan saya kemarin kurang tepat menjalankannya, buktinya banyak yang berhasil dari testimoninya, jadi mau coba lagi deh. Mulai Januari, empat bulan kemudian saya menyerah kalah kembali. Untungnya tidak separah tahun lalu pengalamannya, karena saya lebih waspada, tetapi tetap kurang baik akibatnya untuk badan saya.

Sedih sih, karena badan belum bisa ceking idaman, tapi ya sudahlah. Kita kembali ke Paleo dan mindful eating saja.

Kemudian saya perhatikan diet keto semakin merajalela. Hampir semua orang menjalankannya, atau paling tidak membicarakannya, atau sedang mempertimbangkan untuk menjalankannya. Dari yang memang terlihat berlebih berat badan hingga yang (menurut saya) sudah kurus pun. Gembiranya adalah semakin banyak yang sadar kalau gula tidak baik untuk kesehatan, dan lemak yang selama ini dimusuhi, ternyata kawan jika dari sumber yang baik. Agak dilema melihat semakin banyak yang jual makanan yang di keto-fied; you name it, dari mulai burger, kastengels, bolu gulung ala meranti dan sebagainya.

Sering saya baca buku buku mengenai kesehatan memakai istilah “food-like substance” untuk makanan yang diproses atau makanan dalam kemasan. Karena memang bisa dimakan, rasanya juga seperti makanan, tetapi apakah itu makanan? Karena campurannya saja bahan-bahan yang seringnya kita pun tidak bisa mengucapkannya, dan bisa jadi komposisinya lebih banyak dari bahan utamanya (jagung? Gandum? Sol sepatu bekas dan gerusan tanduk unicorn?) jadi para penulis itu pun menyebutnya sebagai food-like substance, dan bukan hanya food.

Hampir semua pola makan yang saya coba sebenarnya mendukung pengikutnya untuk mengonsumsi makanan asli, sebisa mungkin masak sendiri. Kecuali Anda mengikuti diet yang menjual produk minuman sebagai pengganti makanan ya. Curigalah jika ada pola makan mengaku sehat tetapi mendorong kita untuk makan sesuatu yang sudah dikemas di dalam kotak karton atau plastik. Coba tanyakan lagi; apakah yang diuntungkan kesehatan kita? Atau kantung perusahaan produsen makanan raksasa? Bagusnya tren diet keto menjadi mainstream adalah, demand konsumen akan bergeser jenis makanannya, dari yang terima terima saja dengan makanan dalam kemasan dalam berbagai bentuk, mudah-mudahan akan berubah menjadi makanan segar dan lebih alami bahannya. Dari yang kita tengarai selama ini, demand yang besar akan dijawab oleh industri tentunya. Kita lihat saja nanti.

giphy

Satu lagi fenomena yang unik, mungkin karena saya baru perhatikan sekarang, mungkin dari dulu sudah ada. Jika memesan makanan atau bahan makanan secara online, saya selalu (jika tidak dicantumkan) menanyakan bahan pembuatannya, dan jika tersedia, informasi gizi atau nutrition facts. Tetapi ini cukup minoritas sih, karena justru yang  banyak ditanya adalah (apalagi untuk produk industri rumahan atau cemilan impor), ‘ini halal enggak ya?’

Penting sih, memang untuk mengonsumsi makanan halal, dari bahan halal, dan dibeli dengan uang halal — bukan dari hasil korupsi. Tetapi jika yang ditanyakan halal atau tidak itu adalah sereal untuk anak yang warna warni dan kandungan gulanya saja sudah membuat bergidik, apakah tidak salah alamat? Mungkin sudah waktunya kita sayang kepercayaan dan sayang juga dengan badan.

 

Iklan

2 thoughts on “Diet Halal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s