Dialog Jomblo

Mengapa kita perlu berpasangan? Berpasangan di sini tak selalu berarti menikah. Tapi memiliki seseorang yang eksklusif dalam kehidupan kita. Bersama untuk berbagi segala hal. Sejenis atau berbeda jenis kelamin tak masalah, yang penting sama-sama enak, sama sama bahagia. Sama-sama suka. Seseorang ini pula yang semoga akan mendampingi, saat kita menutup mata sementara atau selamanya.

Di sebuah perayaan ulang tahun, saya dan beberapa teman dekat membahas soal pasangan hidup. Karena kami akrab, tak ada batasan diantar kami. Masing-masing bisa jujur menjadi diri sendiri. Kami pun mempertanyakan, mengapa harus memiliki pasangan hidup. Tak ada yang memaksa kami untuk berpasangan. Pun dari diri kami sendiri. Tak ada pula rasa malu kalau dikatain jomblo. Bahkan pertanyaan “kapan kawin” tak mengganggu kami. Tapi kami sepakat, lebih baik memiliki pasangan hidup ketimbang sendiri.

Jawaban yang kami rasa paling mewakili perasaan kami semua adalah ini. Jomblo itu ibarat duduk di kursi bakso yang membuat kita leluasa memutar badan 360 derajat karena tak ada sandarannya. Tapi sesekali kita pun ingin dan butuh untuk bersandar. Sandaran itulah pasangan kita.

Dalam perbincangan Kartini dan Ibunya, Ibunya kurang lebih membenarkan pendapat ini berkata bahwa kalau manusia ada yang memangku, maka hatinya akan tentrem (tenteram). Generalisasi karena toh banyak yang tenteram walau jomblo. Mungkin.

http://hiburan.metrotvnews.com/film/zNPdM2VN-film-kartini-menawar-ikatan-tradisi

Setelah 3 tahun kemarin siang, kami berkumpul lagi. Ada yang masih jomblo, ada yang sudah menikah, ada yang sedang berpacaran dan ada yang sudah bercerai. Perbincangan kami semakin intim karena masing-masing kini sudah memiliki pengalaman tambahan dalam urusan relasi. Sampai akhirnya kita membahas para jomblo di sekitar kami. Jomblo tidak pernah menikah atau sudah pernah menikah.

Satu hal yang membuat para jomblo  frutrasi, adalah perasaan “tidak laku”. Mungkin kedengarannya sepele bagi yang sudah berpasangan. Tapi bagi yang jomblo, buntutnya bisa panjang. Perasaan tidak diinginkan. Tidak dibutuhkan. Dan terlebih tidak dicintai. Yang kemudian melahirkan pertanyaan apa yang kurang dengan saya? Apakah saya kurang menarik? Badan saya tidak ideal? Kepribadian saya tak menyenangkan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat hidupnya semakin gelisah.

Reaksi yang kemudian muncul pun beragam. Ada yang menjadi sinis dengan cinta dan pernikahan. Mempertanyakan ketulusan semua cinta di depan matanya. Meragukan semua pernikahan terjadi murni karena cinta. Dan yang terakhir, menutup diri pada cinta. Seolah cinta itu sepenuhnya buatan manusia yang sebenarnya tak ada gunanya. “Ada apa dengan cinta? Gak ada apa-apanya” kata seorang teman duda.

Ada pula yang bereaksi secara demonstratif menunjukkan dirinya masih diinginkan. Masih menggairahkan. Dengan aktif mereka menceritakan soal kencan semalam atau semalaman. Atau bagaimana banyak orang tergila-gila pada dirinya. Atau teman kencan yang memperlakukan dirinya bagai anjing ketemu tulang saat bercinta dengannya. Atau bagaimana orang-orang sekitar sering menggoda dirinya. Walau intonasinya terdengar gusar, namun sesungguhnya ada sedikit senyum bangga di sudut bibirnya.

Kemudian ada yang menimbun dirinya dengan pekerjaan. Menikah dengan pekerjaannya. Daripada pusing mengenai cinta dan percintaan ini, mereka melarikan dirinya ke pekerjaan. Kebanyakan dari mereka memang berhasil dalam karir. Berhasil mencapai jenjang karir tinggi. Sayangnya, mereka berharap semua bekerja seperti dirinya yang tak memiliki pasangan dan keluarga. Bekerja 24 jam termasuk malam minggu. Hullooow, yang lain mau pacaran kali… Baginya urusan cinta, pasangan dan keluarga adalah remeh temeh dan hanya mengganggu pekerjaan saja. Seorang pernah berkata “Kenapa ya kebanyakan klien yang susah itu jomblo. Apa karena kurang seks?”

Energi berlebihan di kalangan jomblo banyak yang menyalurkan dengan berolahraga. Sehari dua kali ke gym. Seminggu sekali ikutan race. Yoga, pilates, dan beragam kelas lain yang diikuti secara berlebihan. Fokus hidupnya dialihkan pada kesehatan. Tak ada salahnya, sampai kemudian mulai menyalahkan orang-orang yang fokus hidupnya pada hal lain. Masalah timbul saat dia berharap semua orang untuk bersikap dan memiliki gaya hidup seperti dirinya. Jangan salah, mereka bisa jadi lebih frustrasi: “Duh, kenapa sih orang-orang ini gak peduli banget sama kesehatannya? Gak tau apa kalo sakit tuh gak enak. Mahal lagi!” Loh?

Itu baru 3 contoh, masih banyak lagi dampak dari menjadi jomblo. Ya, memang tak semua jomblo begitu dan tak semua orang yang sudah berpasangan tidak begitu. Di atas segalanya, yang terpenting sepertinya adalah kesadaran. Sadar penyebab dari perilaku kita. Saat kita mudah marah, sadarlah kita sedang mudah marah. Sadarlah apa penyebab kemudah marahan kita. Apa karena kurang perhatian, mencari kasih sayang, kurang seks atau mungkin benar karena faktor eksternal.

Segeralah menyadari dan gali lebih dalam alasan dibalik segala perilaku. Terutamanya yang berlebihan.

Saat merasa kesepian. Sadarlah, apa penyebab kesepiannya. Apa merasa diri tak berarti. Merasa diri tak berguna. Tak diinginkan. Mungkin bisa memulai kegiatan sosial yang membantu sekitar. Saat kita menolong orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri. Kita sedang menyayangi diri sendiri. Karena sesudahnya, yang ditolong bahagia dan  yang menolong sejahtera. Pssst, Audrey Hepburn… jomblo yang di usia tua sampai meninggalnya, mengabdikan diri untuk orang miskin di Afrika, Amerika Selatan dan Asia.

Termasuk saat kita melebih-lebihkan atau mengelabui soal asmara dan seks kita. Sah saja untuk menganggapnya bagian dari pencitraan. Selama dilakukan dengan kesadaran. Bahwa sesungguhnya bukan kenyataan. Bukan realitas. Jangan sampai, kita mempercayai bahkan meyakini kebohongan atau khayalan yang kita buat sendiri.

Menjadi jomblo di masyarakat Indonesia memang tidak mudah. Di acara Asian Top Model, ketika diajukan pilihan untuk tidak memiliki handphone atau tidak minum kopi, semua kandidat langsung memilih kopi. Tidak bisa hidup tanpa handphone. Kewl. Sampai ada kandidat dari negara lain yang memilih untuk meniadakan handphone. Dengan sedikit mengejek, kandidat dari Indonesia berkata “yaiyalah, kamu kan gak punya pacar gak ada yang nyariin, makanya gak perlu handphone”. Deugh…

Anggaplah tak ada  keharusan seseorang untuk berpasangan. Dan tak ada kewajiban untuk selalu menyenangkan orang lain. I am bitter, bitchy, denial, because I am single, so what? So nothing. Karena tidak tepat juga untuk memaksakan diri memiliki pasangan hanya agar diri sendirilebih baik. Tapi seandainya pilihan itu datang, berikanlah sedikit kesempatan. Walau yang datang mungkin jauh dari angan.

Bagi yang sudah memiliki pasangan, tak perlu juga merendahkan yang jomblo. Karena seperti berkah yang lain, semua bisa jadi jomblo seketika. Menjadi jomblo bukan pula berarti tidak ada yang mau atau banyak mau. Tapi memang waktunya belum tiba. Jangan salah, banyak kelebihan dan kenikmatan hidup yang hanya bisa dinikmati oleh para jomblo.

 

Iklan

3 thoughts on “Dialog Jomblo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s