Baik Hati Kepada Kartini

Tak lama lagi waktunya merayakan hari Kartini. Dan kita lagi lagi harus mengerenyit agak malu dengan diri sendiri dan orang yang mengartikan dan merayakannya dengan peragaan busana kebaya, dan lomba lomba yang ada hubungannya hanya dengan kebaya saja.

kata-bijak-ra-kartini

Seperti juga Colombus Day, ternyata Hari Kartini juga menjadi kontroversi di sini, karena banyak yang menganggap kalau apa yang telah dilakukan Kartini tidak cukup heroik untuk beliau dijadikan salah satu pahlawan nasional; apalagi dirayakan dengan hari khusus. Saya kurang bisa melakukan verifikasi apakah benar Kartini telah jadi agent of change pada masanya, tetapi pemikirannya — tidak hanya mengenai kesetaraan gender — memang sangat maju untuk perempuan muda pada zaman itu. Belum lagi her thirst for knowledge, yang (kabarnya) membuat masa beliau dipingit malah jadi kesempatan untuk baca begitu banyak buku dan belajar bahasa asing sendiri. Kalau saja pada waktu papa saya tidak membolehkan saya ke keriaan-keriaan khas remaja sudah ada Netflix dan Amazon Kindle, pasti saya juga tidak keberatan dipingit. Eh kurang ada hubungannya sih, tapi ya, tentu pada masa itu tidak semudah sekarang mencari materi bacaan dan referensi, tetapi Kartini bisa mendapatkannya.

Saya yakin ini kebetulan saja, tetapi teman saya beberapa hari yang lalu menemukan tulisan ini di Buzzfeed. Membuat tercenung memang, karena saya dan sahabat saya sudah cukup sering membahas, kalau kita sebagai perempuan sering menghakimi sesama perempuan dengan lebih kejam daripada gender lain. Sadar ataupun tidak sadar. Saya dan sahabat saya sering merasa bersalah akan hal ini, bagaimana kami sering tidak menyukai serial dengan karakter utamanya perempuan, penulis novel favorit kami kebanyakan laki laki dan lain sebagainya. Tetapi setelah ditilik lagi, ternyata memang karakter utama perempuan masih tidak sebanyak laki laki dalam hal TV show, jadi (mudah mudahan) wajar saja ya dengan pilihan terbatas, kami pun yang memang sudah (sok) selektif, semakin sulit memilih. But for the record, WE LOVE MOTHER OF DRAGON AND I LOVE CERSEI.

Baru baru ini pula, teman baik saya mengomentari kalau dia segan membaca satu buku yang akhirnya jadi serial karena “cewek banget” (padahal dia sendiri perempuan). Lalu sempat juga dia memuji bahwa satu karya (saya lupa itu buku atau film) karya perempuan dengan kata-kata “laki banget”. She’s a dear dear friend of mine, but this made me think.

Apakah sering menghakimi perempuan karena dia seorang ibu rumah tangga? Tidak suka pakai makeup? Kurang stylish? Tidak sering sih, tapi kadang ya, tetapi sebagai pembelaan diri, saya juga melakukanya ke gender pria.

Yang lebih ingin dihapuskan dari media dan muka bumi ini sebenarnya adalah komentar komentar seperti, “Dia cantik, berprestasi, tapi kasihan/ sayangnya belum menikah padahal usianya sudah matang.” Aduh mbak mas, apa kalau ada perempuan usia 35+ belum menikah sudah pasti itu bukan pilihannya dan tidak bahagia? Sudah waktunya deh, pola pikir seperti itu dihilangkan. Satu hal lagi, bahwa kalau seorang perempuan menyatakan tidak ingin punya anak, selalu memancing komentar, “Nanti juga naluri keibuannya akan muncul.” Just because we have uterus doesn’t mean automatically we have ‘naluri keibuan’. Dan suka semua anak-anak. Saya seorang ibu, cinta mati pada anak, sayang total ke keponakan, tapi anak-anak bagi saya hanya manusia lain yang ukurannya kecil; tetap ada yang baik, manis, tetapi tak jarang juga yang menyebalkan.

Ada PR buat diri sendiri kalau begitu; sebelum protes soal kesetaraan gender saya harus memeriksa juga, apakah saya sudah memiliki pola pikir yang benar dan baik mengenai gender saya sendiri.

(Baru sadar kalau saya mengetik ini sambil menunggu anak berkegiatan, di lobby gedung yang ada pianonya dan guru sekolah anak sedang mendentingkannya dengan lagu Ibu Kita Kartini)

Iklan

2 thoughts on “Baik Hati Kepada Kartini

  1. Kadang, saya merasa, “masalahnya” ada di perasaan “merasa lebih baik”. Yang ga hobi dandan merasa lebih baik dari yang doyan dandan karena merasa lebih natural. Yang doyan dandan merasa lebih baik dari yang enggak karena merasa lebih merawat dan menghargai diri. Padahal bisa jadi perasaan semacam ini cuma cara untuk menjustifikasi pilihan yang diambil atau cara untuk membesarkan hati saat merasa kurang pede dengan pilihannya.
    Derajat perasaan “merasa lebih baik” ini mulai dari yang cuma mbatin hingga yang diungkapkan lewat mulut dan tangan.

    Aku tadi makan apa ya? Kok tiba-tiba bisa mikir begini. 😄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s